“Jika sperma (Air Mani) telah berumur 42 malam, Allah Swt mengutus
Malaikat untuk membentuknya kemudian memberikannya pendengaran,
penglihatan, kulit, daging ,dan Tulang-belulang,” (H.R Muslim)
PROSES PEMBENTUKAN JANIN MENURUT AL-QUR'AN
QS. As-Sajdah: 8:
ثم جعل نسله من سلالة من ماء مهين
“(Tuhan) menjadikan keturunannya (manusia) dari sulalat (saripati) maa’ (cairan) yang mahin (hina).”
Kata sifat “yang hina” mesti diterapkan tidak saja pada sifat cairan
itu sendiri, melainkan juga fakta bahwa ia disemprotkan melalui saluran
kencing. Mengenai kata “saripati” atau suatu komponen bagian dari
komponen yang lain, kita bertemu dengan kata sulalat yang menunjukkan
pada “sesuatu bahan yang diambil dari bahan yang lain” dan merupakan
bagian terbaik dari bahan itu. Konsep yang diungkapkan disini, tidak
bisa tidak, membuat kita berfikir tentang spermatozoa. Yang menyebabkan
pembuahan sel telur atau memungkinkan reproduksi adalah sebuah sel
panjang yang besarnya 1/10.000 milimeter.
Telur yang sudah dibuahi,
turun bersarang di rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan
“bersarangnya telur”. Al-Qur’an menamakan uterus tempat telur dibuahkan
itu rahim (kata jamaknya “arham”).
QS. Al-Hajj: 5:
و نفرّق في الأرحام ما نشاء إلى أجل مسمى
“Dan Kami tetapkan dalam “arham” apa yang kamu kehendaki sampai waktu yang ditentukan”
Begitu sel telur dibuahi, ia turun ke rahim melalui tabung fallopi,
kemudian menanamkan dirinya dengan menyusup ke dalam ketebalan atau
kekentalan lendir dan otot-otot. Menetapnya telur dalam rahim karena
tumbuhnya jonjot, yakni perpanjangan telur yang akan menghisap dinding
rahim. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur dalam rahim.
Penanaman sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim disebutkan dalam
banyak ayat al-Qur’an. Kata arab yang digunakan dalam konteks ini adalah
‘alaq yang arti tepatnya adalah “sebentuk lintah yang menggantung”
sebagai mana dalam ayat berikut ini:
QS. Al-Qiyaamah: 37-38:
ألم يك نطفة من منيّ يمنى ثم كان علقة فخلق فسوّى
“Bukankah (manusia) dahulu merupakan nuthfah (setitik bagian) dari mani
(sperma) yang ditumpahkan? Kemudian ia menjadi alaqah (sebentuk lintah
yang menggantung); lalu Allah membentuknya (dalam ukuran yang tepat dan
selaras) dan menyempurnakannya.”
Merupakan suatu fakta yang kuat
bahwa sel telur yang dibuahi, tertanam dalam lendir rahim kira-kira hari
keenam setelah pembuahan mengikutinya, dan secara anatomis telur
tersebut bentuknya benar-benar menyerupai lintah yang menggantung.
Sedang kata ‘alaq yang selama ini diartikan sebagai segumpal darah,
sesungguhnya merupakan arti turunan.
Gagasan tentang
“kebergantungan” justru mengungkap arti asli kata ‘alaq. Hingga arti
asli alaqsebagai “sebentuk lintah yang menggantung/melekat” sudah
sepenuhnya memadai dan sesuai dengan penemuan ilmiah modern.
Segera
setelah berevolusi melampaui tahap yang dicirikan di dalam al-Qur’an
oleh kata sederhana ‘alaqah, diteruskan dengan tahap selanjutnya.
QS. Al-Mukminuun: 14:
ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين
“Kemudian nuthfah(setitik bahan dari mani) itu Kami bentuk menjadi
alaqah (sebentuk lintah yang menggantung), lalu alaqah itu Kami bentuk
menjadi mudghah (daging yang digulung-gulung), dan mudghah itu Kami
bentuk menjadi idham (tulag belulang), lalu idham itu Kami bungkus
dengan lahm (daging yang utuh). Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang
berbentuk lain. Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Dua
tipe daging yang diberi dua nama yang berbeda dalam al-Qur’an, yang
pertama adalah “daging yang digulung-gulung” yaitu mudghah, dan “daging
yang sudah utuh” yaitu lahm yang mengurai dengan tepat bagaimana rupa
otot itu. Jadi dari mudghah, lalu berkembanglah sistem tulang. Tulang
yang dibentuk dibungkus dengan otot, inilah yang disebut ‘lahm’.
QS. Al-Hajj: 5:
يا أيها الناس إن كنتم في ريب من البعث فإنا خلقناكم من تراب ثم من نطفة ثم من علقة ثم من مضغة مخلقة و غير مخلقة لنبين لكم
“Hai manusia, jika kamu ragu akan kebangkitan kubur, maka (ketahuilah)
bahwa Kami telah membentuk kamu dari thurab (tanah), kemudian dari
nuthfah, kemudian dari alaqah, kemudian dari mudghah, yang mukhallaq
(seimbang proporsinya), dan ghairi mukhallaq (yang kurang seimbang
proporsinya), agar Kami jelaskan kepada kamu.”
Dalam perkembangan
embrio, yang sebelumnya tampak sebagai sekelemit daging yang tidak
memiliki bagian-bagian yang bisa dibedakan, kemudian dikembangkan secara
bertahap hingga mencapai bentuk manusia. Dan selama tahap-tahap ini ada
bagian-bagian yang seimbang, namun ada pula bagian-bagian tertentu yang
tidak seimbang proporsinya: seperti kepala agak lebih besar volumenya
dibandingkan bagian-bagian tubuh lainnya. Namun akhirnya hal ini akan
menyusut, sedang struktur penopang hidup dasar membentuk kerangka yang
dikelilingi otot-otot, sistem syaraf, sistem peredar, isi perut (bagian
dalam tubuh) dan sebagainya.
Al-Qur’an juga menyebutkan munculnya indra-indra dan bagian dalam tubuh.
QS. As-Sajdah: 9:
ثم سويه و نفخ فيه من روحه و جعل لكم السمع و الأبصار و الأفئدة قليلا ما تشكرون
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)-nya ruh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan
hati; tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
Teori ini juga selaras
dengan teori yang diungkapkan oleh Dr. Hassan Hathout, dalam Revolusi
Seksual Perempuan: Obsterti dan Ginekologi dalam Perspektif Islam yang
menulis bahwa organ (indra) yang pertama kali berkembang pada janin
adalah pendengaran dibulan keempat dan penglihatan, dimana mata janin
telah peka pada cahaya, di bulan ketujuh, sebagaimana ditulis Sarwono
Prawiroharjo terkait dengan perkembangan fisiologis janin dalam buku
Ilmu Kebidanan yang disusunnya
Sunnah-Sunnah Selama Kehamilan
Apa Saja Sunnah-Sunnah yang Perlu Dilakukan Selama Kehamilan?
Pertanyaan:
Bismillah… Saya baru saja tes kehamilan setelah telat 15 hari… Dan
ngecek ke bidan. Insya Allah positif. Yang ingin saya tanyakan apa saja
sunnah-sunnah yang baiknya dilakukan selama kehamilan hingga melahirkan
nanti ya? Terima kasih.
Jawaban:
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihiwa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:
Kepada ibu yang dimuliakan Allah Ta’ala …. Semoga rahmat dan rahim-Nya
menyempurnakan kebahagiaan ibu sekeluarga dan kita semua…
Sebenarnya
tidak ada petunjuk khusus dan rinci dalam Al Quran dan As Sunnah untuk
ibu-ibu hamil. Namun, kehamilan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala
kepada hamba-Nya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan mereka. Oleh
karena itu, mensyukuri nikmat “kehamilan” adalah bagian dari ajaran
Islam.
Ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan selama kehamilan:
1. Bergembira atas berita kehamilan.
Ini yang mesti diingat oleh seorang muslimah yang sedang hamil (tentu
dari suami yang sah). Sebab, Allah Ta’ala mempercayakan dirinya dan
suami untuk melahirkan, merawat, membesarkan, dan mendidik salah satu
hamba-Nya. Baik itu kehamilan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya,
tetaplah bergembira. Cukup banyak wanita hanya mensyukuri kehamilan
pertama atau kedua –karena ini yang dinanti-nanti- tetapi mereka nampak
shock dengan kehamilan selanjutnya, apalagi kehamilan itu di luar
rencana mereka. Seharusnya mereka bersyukur dimudahkan oleh Allah Ta’ala
untuk hamil, sementara masih banyak wanita yang berjuang
bertahun-tahun, belasan, bahkan sampai mereka tua belum dikaruniai anak.
Lebih dari itu, ada yang sampai menghabiskan biaya besar untuk hamil,
bahkan menggadaikan aqidah dengan datang ke dukun.
Bergembira atas
datangnya jabang bayi telah Allah Ta’ala ajarkan dalam beberapa ayat
berikut ini, ketika menceritakan lahirnya Ismail dan Ishaq untuk Nabi
Ibrahim ‘Alaihissalam:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
Maka Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar (Yakni Ismail). (QS. Ash Shafat: 101)
Ayat yang lain:
إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ
“Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran
seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim (yakni
Ishaq)” (QS. Al Hijr: 53)
2. Melindungi diri dan kandungan dari gangguan setan
Hendaknya seorang muslim dan muslimah, apalagi ibu hamil, tidak
melupakan dzikir-dzikir ma’tsur yang memang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam ajarkan, baik yang berasal dari Al Quran seperti membaca Al
Mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas), Al Fatihah, lima ayat
awal Al Baqarah dan tiga ayat terakhirnya, juga ayat Kursi. Begitu pula
doa-doa perlindungan dari nabi, seperti a’udzu bikalimaatillahi taammati
min syarr maa khalaq, pagi dan petang.
3. Jangan lupa membaca Al-Quran minimal mendengarkannya
Tidak ayat surat dan ayat khusus untuk ibu-ibu hamil dan bayi dalam
kandungannya. Bacalah Al Quran pada surat apa pun dan biasakanlah hal
itu sebagai pendengaran yang baik bagi jabang bayi, dan hindarilah lagu
dan musik jahiliyah. Semoga hal itu menjadi budaya baik yang melekat di
telinga jabang bayi yang membekas sampai dia lahir dan besar nanti.
4. Hindari kepercayaan terhadap mitos-mitos yang menodai aqidah
Biasanya, cukup banyak tahayul dan khurafat yang menyertai ibu-ibu
hamil. Mereka ditakut-takuti dengan berbagai larangan dan perintah yang
tidak ada dasarnya dari agama Islam, melainkan berdasarkan keyakinan
tidak jelas dari mana sumbernya. Seperti larangan memasukkan bantal ke
sarungnya, karena takut susah melahirkan; atau jika melihat yang
jelek-jelek maka ucapkanlah “amit-amit jabang bayi” sambil mengusap
perut dengan harapan agar bayi nanti lahir tidak jelek seperti yang
dilihatnya.
5. Memeriksakan kesehatan ibu dan bayi secara teratur kepada ahlinya
Ini merupakan upaya logis dan sunnatullah yang mesti dilakukan. Tidak
sekadar mengandalkan tawakal setelah dzikir dan doa, tetapi sebab-sebab
kauniyah yang natural juga mesti disediakan. Larangan-larangan yang
sifatnya medis, begitu pula anjurannya, hendaknya diperhatikan. Jangan
sampai ibu hamil lebih percaya dengan tahayul dan khurafat, tetapi
dengan hal-hal yang ilmiah justru tidak dipercaya.
6. Jika sulit melahirkan cobalah lakukan sunnahnya Ibnu Abbas dan Ali Radhiallahu ‘Anhuma
Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:
إذا عسر على المرأة ولدها تكتب هاتين الآيتين والكلمتين في صحيفة ثم تغسل
وتسقى منها، وهي: بسم الله الرحمن الرحيم لا إله إلا الله العظيم الحليم
الكريم، سبحان الله رب السموات ورب الارض ورب العرش العظيم ” كأنهم يوم
يرونها لم يلبثوا إلا عشية أو ضحاها ” [ النازعات: 46 ]. ” كأنهم يوم
يرون ما يوعدون لم يلبثوا إلا ساعة من نهار بلاغ فهل يهلك إلا القوم
الفاسقون “
“Jika seorang wanita kesulitan ketika melahirkan, maka
Anda tulis dua ayat berikut secara lengkap di lembaran, kemudian
masukkan ke dalam air dan kucurkan kepada dia, yaitu kalimat: Laa Ilaha
Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al
Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia,
Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb
Semesta Alam)
Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa
‘asyiyyatan aw dhuhaha. (Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu,
mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar
saja di waktu sore atau pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)
Ka’annahum
yauma yarauna maa yu’aduna lams yalbatsuu illa saa’atan min naharin
balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka
(merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada
siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35)
(Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 16/222. Dar Ihya’ At
Turats)
Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan sebagai berikut:
فَصْلٌ وَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ لِلْمُصَابِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَرْضَى
شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَذِكْرُهُ بِالْمِدَادِ الْمُبَاحِ
وَيُغْسَلُ وَيُسْقَى كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَحْمَد وَغَيْرُهُ قَالَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَد : قَرَأْت عَلَى أَبِي ثِنَا يَعْلَى بْنُ
عُبَيْدٍ ؛ ثِنَا سُفْيَانُ ؛ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ
الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ :
إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادَتُهَا فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ
لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ
الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ
يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } {
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً
مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } .
قَالَ أَبِي : ثِنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ بِإِسْنَادِهِ بِمَعْنَاهُ
وَقَالَ : يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ فَيُسْقَى قَالَ أَبِي : وَزَادَ
فِيهِ وَكِيعٌ فَتُسْقَى وَيُنْضَحُ مَا دُونَ سُرَّتِهَا قَالَ عَبْدُ
اللَّهِ : رَأَيْت أَبِي يَكْتُبُ لِلْمَرْأَةِ فِي جَامٍ أَوْ شَيْءٍ
نَظِيفٍ . وَقَالَ أَبُو عَمْرٍو مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَد بْنِ حَمْدَانَ
الحيري : أَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ النسوي ؛ حَدَّثَنِي عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ أَحْمَد بْنِ شبوية ؛ ثِنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ
شَقِيقٍ ؛ ثِنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ؛ عَنْ سُفْيَانَ ؛ عَنْ
ابْنِ أَبِي لَيْلَى ؛ عَنْ الْحَكَمِ ؛ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ؛
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : إذَا عَسِرَ عَلَى الْمَرْأَةِ وِلَادُهَا
فَلْيَكْتُبْ : بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ
الْعَظِيمُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ ؛ سُبْحَانَ
اللَّهِ وَتَعَالَى رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ؛ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا
إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا } { كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا
يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ
يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ } . قَالَ عَلِيٌّ : يُكْتَبُ فِي
كاغدة فَيُعَلَّقُ عَلَى عَضُدِ الْمَرْأَةِ قَالَ عَلِيٌّ : وَقَدْ
جَرَّبْنَاهُ فَلَمْ نَرَ شَيْئًا أَعْجَبَ مِنْهُ فَإِذَا وَضَعَتْ
تُحِلُّهُ سَرِيعًا ثُمَّ تَجْعَلُهُ فِي خِرْقَةٍ أَوْ تُحْرِقُهُ
“Dibolehkan bagi orang yang sakit atau tertimpa lainnya, untuk
dituliskan baginya sesuatu yang berasal dari Kitabullah dan Dzikrullah
dengan menggunakan tinta yang dibolehkan (suci) kemudian dibasuhkan
tulisan tersebut, lalu airnya diminumkan kepada si sakit, sebagaimana
hal ini telah ditulis (dinashkan) oleh Imam Ahmad dan lainnya.
Abdullah bin Ahmad berkata; Aku membaca di depan bapakku: telah
bercerita kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid telah bercerita kepada kami
Sufyan, dari Muh. bin Abi Laila, dari Hakam, dari Said bin Jubeir dari
Ibnu Abbas ia berkata: “Jika seorang ibu sulit melahirkan maka tulislah …
بِسْمِ اللَّهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ
اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dengan nama Allah, Tidak ada Ilah selain Dia, Yang Maha
Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya ‘Arys yang Agung, segala puji bagi Allah
Rabba semesta alam.”
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa
seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu
sore atau pagi hari.” (QS. An Naziat (79):46)
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ
يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ
بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
“Pada
hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa)
seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.
(Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan
kaum yang fasik.” (QS. Al Ahqaf (46): 35)
Bapakku berkata: Telah
menceritakan kepadaku Aswad bin ‘Amir dengan sanadnya dan dengan
maknanya dan dia berkata: Ditulis di dalam bejana yang bersih kemudian
diminum. Bapakku berkata: Waki’ menambahkannya: Diminum dan dipercikkan
kecuali pusernya (ibu yang melahirkan), Abdullah berkata: Aku melihat
bapakku menulis di gelas atau sesuatu yang bersih untuk seorang ibu
(yang sulit melahirkan).
Abu Amr Muham mad bin Ahmad bin Hamdan Al
Hiri berkata: Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Sufyan An
Nasawi, telah bercerita kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Syibawaih telah
bercerita kepadaku Ali bin Hasan bin Syaqiq, telah bercerita kepadaku
Abdullah bin Mubarak, dari Sufyan dari ibnu Abi Laila, dari Al Hakam,
dari Said bin Jubeir, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jika seorang wanita
sulit melahirkan maka tulislah:
(lalu disebutkan ayat-ayat seperti di atas)
Ali berkata: ditulis di atas kertas kemudian digantungkan pada anggota
badan wanita (yang susah melahirkan). Ali berkata: Dan sungguh kami
telah mencobanya, maka tidaklah kami melihat sesuatu yang lebih
menakjubkan (hasilnya) dari padanya maka jika wanita tadi sudah
melahirkan maka segeralah lepaskan, kemudian setelah itu sobeklah atau
bakarlah.”(Demikian fatwa Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, 4/187.
Maktabah Syamilah)
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah
menyebutkan beberapa riwayat dari kaum salaf (terdahulu) kebolehan
membaca atas menuliskan ayat Al Quran pada wadah lalu airnya dipercikkan
kepada orang sakit. Berikut ini ucapannya:
قَالَ الْخَلّالُ
حَدّثَنِي عَبْدُ اللّهِ بْنُ أَحْمَدَ : قَالَ رَأَيْتُ أَبِي يَكْتُبُ
لِلْمَرْأَةِ إذَا عَسُرَ عَلَيْهَا وِلَادَتُهَا فِي جَامٍ أَبْيَضَ أَوْ
شَيْءٍ نَظِيفٍ يَكْتُبُ حَدِيثَ ابْنِ عَبّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ لَا
إلَهَ إلّا اللّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللّهِ رَبّ الْعَرْشِ
الْعَظِيمِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ { كَأَنّهُمْ يَوْمَ
يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ
بَلَاغٌ } [ الْأَحْقَافُ 35 ] { كَأَنّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ
يَلْبَثُوا إِلّا عَشِيّةً أَوْ ضُحَاهَا } [ النّازِعَاتُ 46 ] . قَالَ
الْخَلّالُ أَنْبَأَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرْوَزِيّ أَنّ أَبَا عَبْدِ
اللّهِ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ اللّهِ تَكْتُبُ
لِامْرَأَةٍ قَدْ عَسُرَ عَلَيْهَا وَلَدُهَا مُنْذُ يَوْمَيْنِ ؟ فَقَالَ
قُلْ لَهُ يَجِيءُ بِجَامٍ وَاسِعٍ وَزَعْفَرَانٍ وَرَأَيْتُهُ يَكْتُبُ
لِغَيْرِ وَاحِدٍ
“Berkata Al Khalal: berkata kepadaku Abdullah bin
Ahmad, katanya: Aku melihat ayahku menulis untuk wanita yang sulit
melahirkan di sebuah wadah putih atau sesuatu yang bersih, dia menulis
hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu:
Laa Ilaha Illallah Al Halimul
Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
(Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy
Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)
Ka’annahum
yauma yarauna maa yu’aduna lam yalbatsuu illa saa’atan min naharin
balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka
(merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada
siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup. QS. Al Ahqaf (46): 35)
Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha.
(Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan
tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau
pagi. QS. An Nazi’at (79): 46)
Al Khalal mengatakan: mengabarkan
kepadaku Abu Bakar Al Marwazi, bahwa ada seseorang datang kepada Abu
Abdullah (Imam Ahmad), dan berkata: “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad),
kau menulis untuk wanita yang kesulitan melahirkan sejak dua hari yang
lalu?” Dia menjawab: “Katakan baginya, datanglah dengan wadah yang lebar
dan minyak za’faran. “ Aku melihat dia menulis untuk lebih dari satu
orang. (Zaadul Ma’ad, 4/357. Muasasah Ar Risalah)
Beliau juga mengatakan:
وَرَخّصَ جَمَاعَةٌ مِنْ السّلَفِ فِي كِتَابَةِ بَعْضِ الْقُرْآنِ
وَشُرْبِهِ وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشّفَاءِ الّذِي جَعَلَ اللّه فِيهِ .
كِتَابٌ آخَرُ لِذَلِكَ يُكْتَبُ فِي إنَاءٍ نَظِيفٍ { إِذَا السّمَاءُ
انْشَقّتْ وَأَذِنَتْ لِرَبّهَا وَحُقّتْ وَإِذَا الْأَرْضُ مُدّتْ
وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلّتْ } [ الِانْشِقَاقُ 41 ] وَتَشْرَبُ
مِنْهُ الْحَامِلُ وَيُرَشّ عَلَى بَطْنِهَا .
“Segolongan kaum salaf
memberikan keringanan dalam hal menuliskan sebagian dari ayat Al Quran
dan meminumnya, dan menjadikannya sebagai obat yang Allah jadikan
padanya. Untuk itu, dituliskan di bejana yang bersih:
“Apabila
langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit
itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di
dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq (84): 1-4)
Lalu diminumkan kepada orang hamil dan diusapkan ke perutnya. (Ibid, 4/358). Demikian.
Wallahu A’lam
Perjanjian Nafs (Alam Ruh) Dan Bingkisan Manusia Untuk ALLAH, Dibalik
Dua Pintu Manusia Dunia Dan Kelahiran Serta Akhirat Dan Kematian Serta
Bertaubatlah Selagi Jasad Masih Bernyawa
Cahaya Di Atas Cahaya
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Selamat Rahmad dan Berkah ALLAH, semoga tetap padamu..
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Firman ALLAH Ta’ala :
يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang
mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. Ar-Ruum: 007.
Betapa besar arti sebuah pintu bagi kehidupan manusia, dengan dia
(Pintu) itu hingga engkau dapat berlindung dari sekalian kejahatan malam
dan siang didalam rumahmu. Pintu adalah suatu pemberi kabar bagimu atas
sekalian apa-apa yang berada dibalik pintu itu, apakah ia suatu kabar
yang baik ataukah suatu kabar yang buruk.
Pintu Dunia
Pintu menuju kehidupan manusia didunia ialah kelahiran, setelah
perjanjian yang utama antara seorang hamba dengan Tuhan-nya agar pada
kala itu seorang manusia mengambil janji kepada Tuhan-nya agar semasa ia
hidup ia tiada akan ingkar dalam memper-Tuhan-kan ALLAH dan tiada
menyekutukan ALLAH dengan suatu juapun. Dan demikianlah adanya sebelum
ALLAH meniupkan ruh itu pada jasad (janin) dalam kandungan seorang Ibu.
ALLAH Subahana wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى
شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا
غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka
menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan,
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keEsaan Tuhan)”. QS. Al A’raaf : 172
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya
(manusia) roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
As-Sajdah:009.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda :
Dari ubay bin Ka’ab ia mengatakan, “Mereka (ruh tersebut) dikumpulkan,
lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk.
Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu diambil dari mereka janji
dan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhanmu?”, mereka menjawab “Benar”.
Sesungguhnya AKU akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh
tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek
moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari
kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”.
Ketahuilah bahwasanya tiada Tuhan selain Aku semata, tidak ada Rabb
selain diriKU, dan janganlah sekali-kali kalian mempersekutukanKU.
Sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian para RasulKU yang akan
mengingatkan kalian perjanjianKU itu. Selain itu Aku juga akan
menurunkan kitab-kitabKU”. Maka merekapun berkata, “Kami bersaksi bahwa
Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan bagi kami selain hanya Engkau
semata”.
Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut.
Kemudian Adam diangkat dihadapan mereka dan ia (Adam) pun melihat kepada
mereka, lalu ia melihat orang yang kaya dan orang yang miskin, ada yang
bagus dan ada juga yang sebaliknya. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku,
seandainya Engkau menyamakan di antara hamba-hambaMU itu”. Allah
menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk Aku disyukuri”. Dan Adam
melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan
cahaya pada mereka”. (HR. Ahmad)
Hingga kemudian benarlah suatu
kejadian itu bermula daripada manusia itu, oleh karena pintu dunia
baginya telah di buka oleh ALLAH Tabaraka wa Ta’ala dengan sekalian
Kehendak lagi Pengetahuan-Nya. Dan manusia telah mengakui lagi diambil
ALLAH kesaksian atas mereka, mereka (manusia) berkata bahwa sesungguhnya
tiada Tuhan selain daripada ALLAH semata. Hingga kemudian, ALLAH
Tabaraka wa Ta’ala menghimpunkan ruh manusia itu kedalam tubuh (Janin)
dalam kandungan(Rahim) sang Ibu. Serta merta sekalian manusia, tiadalah
seorang juapun yang luput dari persaksian itu. Karenanya ALLAH Tabaraka
wa Ta’ala mengutus empat orang Nabi/Rasul untuk membawa risalah-Nya
yaitu untuk memperkenalkan ALLAH kepada semua ummat manusia, Oleh karena
dengan fitrah ALLAH yang mulia bahwa bagi semua manusia mesti terlupa
akan perjanjian nafs (alam ruh) dikala manusia itu menjalani dunianya.
Seumpama Nabi Daud Alaihissalam dengan Zabur ditangannya, Nabi Musa
Alaihissalam dengan Taurat, serta Nabi Isa Al-Masih Alaihissalam dengan
Injil ditangan-Nya, hingga kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa
Sallam dengan A-Qur’an. (Afwan, bahwa dalam keempat agama samawi ini
tidak ada yang bernama Agama kristen, Insha ALLAH..akan saya posting
pada kesempatan yang lain).
Maka akhi lagi ukhti sekalian
manfaatkan sekalian waktu dan kehidupan didunia dengan berbanyak-banyak
ibadah kepada ALLAH, dan janganlah sekali-kali engkau menunggu waktu
dimana niatmu untuk bertaubat di suatu masa nanti yang tiada engkau
ketahui, melainkan bertaubatlah sejak dini. Walau sekiranya engkau tiada
berbuat banyak atas dosa-dosa besar namun tiadalah jua luput daripadamu
atas dosa-dosa kecil itu. Jikalaulah engkau berusia muda, maka
bertaubatlah..sedang amalan disisa jatah hidup yang hendak engkau
peroleh adalah terlebih banyak untuk engkau kumpulkan. Dan merugilah
bagi yang berniat bertaubat di masa tuanya, sedang ia tiada beroleh
amalan yang banyak melainkan masa mudanya yang tersiakan karena perdaya
kehidupan dunia ini. Dan bertaubatlah..selagi jasad masih bernyawa.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
Ibnu umar Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
memegang pundaku lalu bersabda’ Jadilah engkau di dunia laksana orang
asing atau orang yang menyebrangi jalan, “bila engkau berada di sore
hari, maka jangan menunggu datangnya pagi; dan bila engkau di pagi hari,
maka jangan menunggu datangnya sore, Manfaatkan waktu sehatmu sebelum
sakitmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu (HR Bukhari)
Pintu Akhirat
Sedang pintu menuju pada kehidupan akhirat itulah ajal manusia, ketika
seorang malaikat ALLAH hampir daripada manusia itu sebagai pertanda
bahwasanya saatnya manusia itu dikembalikan kepada Rabbnya Yang Maha
Mulia. Yang mana tiadalah ia membawa seuatu apapun yang ia peroleh
selama ia hidup di muka bumi melainkan hanya amalannya semata.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
Dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, “yang mengikuti mayat itu ada tiga , yaitu : Keluarga, harta
benda, dan amal perbuatannya , yang dua kembali dan yang satu tetap
bersamanya yaitu keluarga dan harta bendanya kembali dan amal
perbuatannya tetap bersamanya (Hr Bukhari dan muslim)
Dan pintu
itu telah terbuka, malaikat telah merenggut seorang manusia atas
panggilan Rabbnya. Kehidupan didunia yang dahulu bergelimang harta benda
kini tiada lagi melainkan amalannya itulah yang diperhitungkan disisi
Tuhannya.
Firman ALLAH Ta’ala :
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ
عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ
الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ
Dan Dialah
yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan
diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang
kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh
malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan
kewajibannya. Al-An’aam : 061
Karenanya wahai akhi lagi ukhti
sekalian, engkau bawalah suatu cindera mata yang indah untuk ALLAH
ketika engkau hendak menemui-Nya kelak sekembalinya kamu dari dunia ini.
Sesungguhnya cindera mata itu adalah amalan ibadahmu yang baik lagi
banyak, sedang ALLAH menyambut kehadiratmu disisi-Nya dengan senyum-Nya
dan berkata “kemarilah hambaku..sesungguhnya engkau termasuk pada
golongan manusia yang mendapat Rahmad-Ku”.
Sedang bagi
orang-orang kafir yang telah menyalahi perjanjian mereka di alam ruh
maupun muslim yang berlumur dosa tiadalah bagi mereka kesukaan disisi
ALLAH melainkan Murka-Nyalah di atas wajah-wajah mereka, sedang cindera
mata dalam genggamannya itu adalah lusuh dan berbau busuk dan tiadalah
diterima amalan – amalan mereka oleh karena dosa-dosa besar yang
terlampau banyak.
Tiadakah engkau sadar wahai akhi lagi ukhti
sekalian..bahwa ketika ALLAH hendak meniupkan ruh kejasadmu terdahulu
adalah ALLAH memberimu bingkisan menuju duniamu dan akan engkau bawa
pula bingkisan itu kehadapan ALLAH ketika engkau kembali pada-Nya. Maka
disisa jatah hidup yang tiada akan berlangsung lama ini, janganlah
engkau siakan dengan tipu daya dunia yang sifatnya memperdaya.
Pertanyaannya : Sudahkah antum/anti mempersiapkan sebaik-baik bingkisan itu untuk dibawa kepada ALLAH ??
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“Perbandingan dunia dan akhirat adalah seperti seseorang yang
mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya
apa yang diperolehnya”. (HR Muslim dan Ibnu majah)
Demikianlah
manusia, ia mengira bahwa kehidupannya didunia belumlah cukup sedang ia
telah kembali pada Rabbnya. Dan ketika menemui Tuhannya tiadalah ia
bersuka cita di muka bumi melainkan sekejap saja dan akan ia dapati
hasil daripada apa-apa yang ia upayakan dahulunya didunia. Melupakan
ALLAH dan ajaran-Nya semasa manusia hidup didunia menjadikannya hidup
dengan sia-sia, sedang bagi yang senantiasa mengingat ALLAH dan
mengikuti ajaran-Nya semasa hidup didunia, maka sesungguhnya itulah
kemenangan yang besar baginya. Dan suatu penyesalan karena perkara
dunia, tiadalah berlangsung lama. Sedang penyesalan karena perkara
akhirat itulah yang baka, dan terpenjaralah ia sepenuhnya dalam
penyesalannya untuk selama-lamanya. Wallahu Ta’ala A’lam
Jika
terdapat suatu perkataan yang tiada berkenan bagimu, maka kepada ALLAH
aku memohon ampun sedang kepada kamu sekalian aku memohon maaf.
Jazzakumullahu khairaan katsiron..
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Ustad yth, singkat saja,
kapankah Allah SWT meniupkan ruh ke manusia, bila masih dalam kandungan
pada bulan kehmilan keberapakah? Apakah benar setelah ruh ditiupkan bayi
bisa merespon sesuatu, seperti didengarkan musik, ayat-ayat Al-Quran,
dan sebagainya?
Wassalam, Aditya
Jawaban: Para ulama
umumnya mengataka bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika berusia 120
hari, sejak dari terbentuknya. Dalil-dalil yang dikemukakan cukup
banyak, di antaranya adalah: Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya setiap kamu dibentuk di perut
ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqah seperti itu juga,
kemudian menjadi mudhghah seperti itu juga. Kemudian Allah mengutus
malaikat untuk meniupkan ruh dan menetapkan 4 masalah…. {HR. Bukhari,
Ibnu Majah, At-Tirmizy}
Para ulama kemudian menghitung ketiga
masa itu menjadi 40 hari tambah 40 hari tambah 40 hari, sehingga masa
peniupan ruh itu menjadi 120 hari sejak pertama kali janin terbentuk.
Inilah pendapat yang paling umum dipegang oleh para ulama selama ini.
Namun sebagian kecil lainnya melihat ada dalil lain yang tidak sama.
Misalnya hadits berikut ini.
Dari Hudzaifah bin Usaid raberkata,
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Apabila nutfah telah berusia
empat puluh dua malam, maka Allah mengutus malaikat, lalu dibuatkan
bentuknya, diciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya,
dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya, ra Rabbi,
laki-laki ataukah perempuan?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan
kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya, kemudian dia bertanya, Ya Rabbi,
bagaimana ajalnya?` Lalu Rabb-mu menetapkan sesuai dengan yang
dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian ia bertanya, `Ya
Rabbi, bagaimana rezekinya?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan yang
dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian malaikat itu keluar
dengan membawa lembaran catatannya, maka ia tidak menambah dan tidak
mengurangi apa yang diperintahkan
itu.
Hadits ini menjelaskan
diutusnya malaikat dan dibuatnya bentuk bagi nutfah setelah berusia
enam minggu , bukan setelah berusia 120 hari sebagaimana disebutkan
dalam hadits di atas. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa peniupan
ruh itu dilakukan pada usia janin 42 hari berdasarkan hadits ini.
Namun sebagian ulama lainnya mengkompromikan kedua hadits tersebut
dengan mengatakan bahwa malaikat itu diutus beberapa kali, pertama pada
waktu nutfah berusia empat puluh hari, dan kali lain pada waktu berusia
empat puluh kali tiga hari untuk meniupkan ruh. Secara nalar bila
disebutkan bahwa ruh ditiupkan, maka wajar bila janin itu kemudian bisa
merespon suara. Akan tetapi apakah respon itu hanya akan terjadi
manakala ruh sudah ditiupkan, tentu perlu diselidiki lebih lanjut. Sebab
respon itu ada yang berasal dari makhluq bernyawa, tetapi ada juga dari
makhluq yang belum bernyawa.
Wallahu a’lam bishshawab
Diriwayatkan daripada Anas r.a, Nabi Muhammad SAW bersabda yang
bermaksud,"Sesungguhnya Allah telah menugaskan satu malaikat berhubung
peringkat kejadian anak dalam kandungan rahim ibunya dan keadaan akan
dilalui, apabila air benih itu jatuh ke dalam rahim, malaikat bertanya:"
Ya Tuhanku! Air benih ini akan disempurnakan kejadiannya atau tidak? Ya
Tuhanku! Darah seketul ini akan disempurnakan kejadiannya atau tidak?
Ya Tuhanku! Daging segumpal ini akan disempurnakan kejadianya atau
tidak? Maka apabila Allah hendak menyempurnakan jadinya seorang anak,
malaikat bertanya lagi: Ya Tuhanku! Adakah ia seorang (yang bernasib)
celaka atau (yang bernasib) bahagia? Lelakikah atau perempuan? Bagaimana
pula keadaan rezekinya dan ajalnya? (Selepas malaikat mendapat
jawapannya) maka ia menulis seperti yang diperintahkan sedang anak itu
dalam perut ibunya."
ROSES PENCIPTAAN MANUSIA DAN DITETAPKANNYA AMALAN HAMBA
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: حَدَّثَنَا
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ الصَّادِقُ
الْمَصْدُوْقُ: إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ
أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ،
ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ
فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ
رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَاللهِ
الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غُيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ
أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ
ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ
النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ
النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ
فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
فَيَدْخُلُهَا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)
Dari Abu
‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan
beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq (orang yang benar lagi dibenarkan
perkataannya), beliau bersabda,"Sesungguhnya seorang dari kalian
dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah
(segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal
daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya
untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat
hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau
bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi
dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian
beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan
surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu
ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya.
Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli
neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal
sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan
amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya". [Diriwayatkan oleh
al Bukhari dan Muslim]
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh
1. Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, pada kitab Bada-ul Khalq, Bab
Dzikrul Mala-ikah (no. 3208), kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3332. Lihat
juga hadits no. 6594 dan 7454.
2. Imam Muslim dalam Shahih-nya, pada kitab al Qadar no. 2643.
3. Imam Abu Dawud no. 4708.
4. Imam at-Tirmidzi no. 2138.
5. Imam Ibnu Majah no. 76.
عن
أبي عبدالرحمن عبد الله بن مسعود قال ؛ حدثنا رسول الله وهو الصادق
المصدوق :إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ
أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْقَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ ثُمَّ
يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ
الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ:
بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ،
فَوَالَّذِي لاَ إِلهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ
أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ
فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ
فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ
حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ
عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
Dari
Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud ra, ia mengatakan, “Rasulullah saw
menceritakan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiq al-Mashduq (yang
benar lagi dibenarkan perkataannya), Sesungguhnya seseorang dari kalian
dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
sperma, kemudian menjadi segumpal darah seperti (masa) itu, kemudian
menjadi segumpal da-ging seperti itu pula. Kemudian seorang malaikat
diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan
dengan empat kalimat: menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka
atau ba-hagia. Demi Allah yang tiada Ilah selainNya! Sesungguhnya ada
salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga sehingga
jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu hasta, tapi catatan
(takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka lantas
ia memasukinya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal
dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara diri-nya dengan neraka
hanya tinggal satu hasta, tapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia
beramal dengan amalan ahli surga lantas ia memasukinya.” (HR. al-Bukhari
dan Muslim). (Muttafaq ‘alaih: al-Bukhari, no. 3208; dan Muslim, no.
2643)
شرح الاربعين للنواوي - ابن دقيق
وفي هذا الحديث إثبات القدر كما هو مذهب أهل السنة وأن جميع الواقعات بقضاء الله تعالى وقدره خيرها وشرها نفعها وضرها قال الله تعالى: {لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} ١. ولا اعتراض عليه في ملكه يفعل في ملكه ما يشاء. قال الإمام السمعاني: سبيل معرفة هذا الباب: التوفيق من الكتابة والسنة دون محض القياس ومجرد العقول فمن عدل عن التوفيق منه ضل وتاه في مجال الحيرة ولم يبلغ شفاء النفس ولا يصل إلى ما يطمئن به القلب لأن القدر سر من أسرار الله تعالى ضربت دونه الأستار واختص سبحانه به وحجبه عن عقول الخلق ومعارفهم، وقد حجب الله تعالى علم القدر عن العالم فلا يعلمه ملك ولا نبي مرسل، وقيل إن سر القدر ينكشف لهم إذا دخلوا الجنة ولا ينكشف قبل ذلك. وقد ثبتت الأحاديث بالنهي عن ترك العمل اتكالاً على ما سبق من القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد بها الشرع وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره فمن كان من أهل السعادة يسره الله لعمل أهل السعادة ومن كان من أهل الشقاوة يسره الله لعمل أهل الشقاوة كما في الحديث وقال الله تعالى: {فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ... فَسَنُيَسِّرُهُ
SYARAH (PENJELASAN) HADITS
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran berharga, sebagai berikut:
1. Tahapan Penciptaan Manusia.
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan
tentang awal penciptaan manusia di dalam rahim seorang ibu, yang berawal
dari nuthfah (bercampurnya sperma dengan ovum), ‘alaqah (segumpal
darah), lalu mudhghah (segumpal daging). Allah Ta’ala berfirman:
"Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka
(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari
segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar
Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada
kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di
antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak
mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu
lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumbuhan yang indah" [al Hajj/22:5]
Dalam ayat ini, Allah
Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang tahapan penciptaan manusia di
dalam rahim seorang ibu. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang
ragu tentang dibangkitkannya manusia dari kuburnya dan ragu tentang
dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar pada hari Kiamat, maka Allah
memerintahkan untuk mengingat dan melihat bagaimana seorang manusia
diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu, Dia mengembalikan manusia (dari mati menjadi hidup kembali)
lebih mudah daripada menciptakannya.
Juga firman-Nya:
"Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian
benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan
dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat" [al Mu’minun/23:12-16].
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa Adam -manusia
pertama-diciptakan dari saripati tanah, kemudian manusia-manusia
sesudahnya diciptakan-Nya dari setetes air mani.
Adapun tahapan penciptaan manusia di dalam rahim adalah sebagai berikut:
Pertama. Allah menciptakan manusia dari setetes air mani yang hina yang menyatu dengan ovum, Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ٣٢:٨
"Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). [as-Sajdah/32:8]
أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ٧٧:٢٠
"Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina". [al Mursalat/77:20].
خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
"Dia diciptakan dari air yang terpancar (yaitu mani). Yang keluar dari
tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan". [ath-Thariq/86: 6-7].
Bersatunya air mani (sperma) dengan sel telur (ovum) di dalam rahim ini disebut dengan nuthfah.
Kedua : Kemudian setelah lewat 40 hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang disebut ‘alaqah.
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٩٦:٢
"Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah". [al ‘Alaq/96:2].
Ketiga : Kemudian setelah lewat 40 hari -atau 80 hari dari fase
nuthfah- fase ‘alaqah beralih ke fase mudhghah, yaitu segumpal daging.
Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ
"Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna". [al Hajj/22:5].
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ
أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
٢٣:١٤
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik". [al
Mu’minun/23:14].
Keempat : Kemudian setelah lewat 40 hari -atau
120 hari dari fase nuthfah- dari segumpal daging (mudhghah) tersebut,
Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan daging yang bertulang, dan Dia
memerintahkan malaikat untuk meniupkan ruh padanya serta mencatat empat
kalimat, yaitu rizki, ajal, amal dan sengsara atau bahagia. Jadi,
ditiupkannya ruh kepada janin setelah ia berumur 120 hari.
2. Peniupan Ruh.
Para ulama sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia
120 hari, terhitung sejak bertemunya sel sperma dengan ovum. Artinya,
peniupan tersebut ketika janin berusia empat bulan penuh, masuk bulan
kelima. Pada masa inilah segala hukum mulai berlaku padanya. Karena itu,
wanita yang ditinggal mati suaminya menjalani masa ‘iddah selama empat
bulan sepuluh hari, untuk memastikan bahwa ia tidak hamil dari suaminya
yang meninggal, agar tidak menimbulkan keraguan ketika ia menikah lagi
lalu hamil.
Ruh adalah sesuatu yang membuat manusia hidup dan ini
sepenuhnya urusan Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya,
yang artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “ruh
itu termasuk urusan tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit". [al Isra`/17:85]
3. Wajibnya Beriman Kepada Qadar.
Hadits ini menunjukkan, bahwa Allah Subahanhu wa Ta'ala telah
mentakdirkan nasib manusia sejak di alam rahim. Pada hakikatnya, Allah
telah mentakdirkan segala sesuatu sejak 50.000 tahun sebelum
diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
"Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi" [1].
Kemudian di alam rahim, Allah Ta’ala pun memerintahkan malaikat untuk
mencatat kembali empat kalimat, yaitu rizki, ajal, amal, sengsara atau
bahagia.
- Rizki.
Allah Yang Maha Pemurah telah menetapkan
rizki bagi seluruh makhluk-Nya, dan setiap makhluk tidak akan mati
apabila rizkinya belum sempurna. Allah Ta’ala berfirman:
"Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh)".[Hud/11:6].
"Dan berapa banyak binatang yang tidak
(dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi
rizki kepadanya juga kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui". [al Ankabut/29:60].
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ
نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَوْفِي رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ
عَنْهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ خُذُوْا مَا حَلَّ
وَدَعُوْا مَا حَرُمَ
"Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah
dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang
tidak akan mati hingga sempurna rizkinya. Meskipun (rizki itu) bergerak
lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari
nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram".[2]
Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan penjelasan tentang rizki
ini dengan perumpamaan yang sangat mudah dipahami, dan setiap orang
hendaknya dapat mengambil pelajaran darinya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ
تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ؛ تَغْدُو خِمَاصًا
وَتَرُوْحُ بِطَانًا
"Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rizki
sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi pagi dalam
keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang".[3]
Allah
Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berjalan mencari
maisyah (pekerjaan/usaha) untuk mendapatkan rizki. Allah Ta’ala
berfirman:
"Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu,
maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari
rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan". [al-Mulk/67:15].
Rizki akan mengejar manusia, seperti maut yang mengejarnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:
إِنَّ الرِّزْقَ لَيَطْلُبُ الْعَبْدَ كَمَا يَطْلُبُهُ أَجَلُهُ
"Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya".[4]
- Ajal.
Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan makhluk, mematikan, dan
membangkitkannya kembali. Dan setiap makhluk tidak mengetahui berapa
jatah umurnya, juga tidak mengetahui kapan serta dimana akan dimatikan
oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
"Sesuatu yang bernyawa
tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang
telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya
Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki
pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". [ali
‘Imran/3:145]
Ajal makhluk Allah sudah tercatat, tidak dapat dimajukan atau diundurkan. Allah Ta’ala berfirman:
"Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang
waktu (ajal)nya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun,
dan tidak dapat (pula) memajukannya". [al A’raf/7: 34].
-Amal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencatat amal-amal setiap makhluk-Nya,
baik dan buruknya. Akan tetapi setiap makhluk Allah pasti akan beramal,
amal baik atau pun amal buruk. Dan Allah dan Rasul-Nya memerintahkan
para hamba-Nya untuk beramal baik.
- Celaka atau Bahagia.
Yang dimaksud “celaka” dalam hadits ini ialah, orang yang celaka dengan
dimasukkannya ke neraka. Sedangkan yang dimaksud “bahagia”, yaitu orang
yang sejahtera dengan dimasukkannya ke dalam surga. Hal ini telah
tercatat sejak manusia berusia 120 hari dan masih di dalam rahim, yaitu
apakah ia akan menjadi penghuni neraka atau ia akan menjadi penghuni
surga. Akan tetapi, “celaka” dan “bahagia” seorang hamba tergantung dari
amalnya selama hidupnya.
Tentang keempat hal tersebut, tidak ada
seorang pun yang mengetahui hakikatnya. Oleh karenanya, tidak boleh
bagi seseorang pun enggan untuk beramal shalih, dengan alasan bahwa
semuanya telah ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memang benar,
bahwa Allah telah mentakdirkan akhir kehidupan setiap hamba, namun Dia
Yang Maha Bijaksana juga menjelaskan jalan-jalan untuk mencapai
kebahagiaan. Sebagaimana Allah Yang Maha Pemurah telah mentakdirkan
rizki bagi setiap hamba-Nya, namun Dia juga memerintahkan hamba-Nya
keluar untuk mencarinya.
Apabila ada yang bertanya, untuk apalagi kita beramal jika semuanya telah tercatat (ditakdirkan)?
Maka, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan hal
ini ketika menjawab pertanyaan Sahabat Suraqah bin Malik bin Ju’syum
Radhiyallahu 'anhu. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اِعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ
أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا
مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ
الشَّقَاوَةِ.
"Beramallah kalian, karena semuanya telah
dimudahkan oleh Allah menurut apa yang Allah ciptakan atasnya. Adapun
orang yang termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, maka ia
dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan
adapun orang yang termasuk golongan orang-orang yang celaka, maka ia
dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang celaka".[5]
Orang yang beramal baik, maka Allah akan memudahkan baginya untuk
menuju surga. Begitu pun orang yang beramal keburukan, maka Allah akan
memudahkan baginya untuk menuju neraka. Hal ini menunjukkan tentang
kesempurnaan ilmu Allah, juga sempurnanya kekuasaan, qudrah dan iradah
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Meskipun setiap manusia telah ditentukan menjadi penghuni surga atau
menjadi penghuni neraka, namun setiap manusia tidak dapat bergantung
kepada ketetapan ini, karena setiap manusia tidak ada yang mengetahui
apa-apa yang dicatat di Lauhul Mahfuzh. Kewajiban setiap manusia adalah
berusaha dan beramal kebaikan, serta banyak memohon kepada Allah agar
dimasukkan ke surga.
Meskipun setiap manusia telah ditakdirkan
oleh Allah Ta’ala demikian, akan tetapi Allah tidak berbuat zhalim
terhadap hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ٤١:٤٦
"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahala-nya) untuk
dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya)
atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya
hamba-hamba(Nya)". [Fushshilat/41:46].
Setiap manusia diberi oleh
Allah berupa keinginan, kehendak, dan kemampuan. Manusia tidak majbur
(dipaksa oleh Allah). Allah Ta’ala berfirman:
لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ٨١:٢٨
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ٨١:٢٩
"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah, Rabb semesta alam". [at-Takwir/:28-29].
Orang
yang ditakdirkan oleh Allah untuk menuju surga, maka dia pun akan
dimudahkan oleh Allah untuk melakukan amalan-amalan shalih. Begitu juga
orang yang ditakdirkan oleh Allah untuk menuju neraka, maka dia pun
dimudahkan oleh Allah untuk melakukan amalan-amalan kejahatan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. HR Muslim no. 2653 (16) dan at-Tirmidzi no. 2156, Ahmad (II/169),
Abu Dawud ath-Thayalisi no. 557, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al
‘Ash Radhiyallahu 'anhuma. Lafazh ini milik Muslim.
[2]. HR Ibnu
Majah no. 2144, Ibnu Hibban no. 1084, 1085-Mawarid, al Hakim (II/4), dan
Baihaqi (V/264), dari Sahabat Jabir Radhiyallahu 'anhuma. Dishahihkan
oleh al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah al Ahadits ash-Shahihah no. 2607.
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/30 dan 52), at-Tirmidzi no.2344,
Ibnu Majah no. 4164, Ibnu Hibban no. 730, Ibnul Mubarak di dalam kitab
az-Zuhd no. 559, al-Hakim (IV/318), al Baghawi dalam Syarhus-Sunnah no.
4108, Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah (X/69), dan lain-lainnya. Dari
Sahabat ‘Umar bin al Khaththab. At-Tirmidzi berkata,"Hasan shahih." Al
Hakim juga menilai hadits ini shahih, dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[4]. HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid) dan lainnya, dari Sahabat
Abud-Darda’. Hadits ini memiliki penguat dari Sahabat Jabir yang
diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Hadits ini
dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah
no. 952.
[5]. HR al Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647.
HUKUM MANDI KEMBANG SAAT 7 BULANAN
Soal : Hukum tradisi tujuh bulanan bagi wanita hamil dengan mandi kembang
Jawab : Tergolong bid'ah mubahah dan Haram hukumnya jika didalamnya ada nilai tabdzir(mensia-siakan sesuatu)
وعبارتها :
- (الباجوري عل فتح القريب في باب الحجر) /أحكام الفقهاء ص 96
(والمبذر لماله) من التبذير وهو السرف مترادفان على صرف المال في غير
مصارفه كما يقتضيه كلام الغزالي ويوافقه قول غيره ما لا يقتضي محمدة عاجلا
ولا أجرا آجلا
- قال الله تبارك وتعالى : {إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين}
Semoga bermanfaat