Senin, 15 Oktober 2018

Siapakah ulama itu..?

 ALLAH Swt. Berfirman...

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ)

[Surat Fatir 28]
- Al hafidz ibnu katsir dikala menafsirkan ayat di atas :
Beliau menukil kata ibnu abbas bahwa yang dimaksud ulama' adalah orang yang kenal kepada Allah yang tidak syirik kepada Allah, menghalalkan apa yang Allah halalkan, mengharamkan apa yang Allah haramkan, menjaga wasiat (perintah) Allah, meyakini bahwa dia akan menghadap Allah dan selalu introspeksi diri

عن ابن عباس قال:العالم بالرحمن من عباده من لم يشرك شيئا وأحل حلاله وحرم حرامه وحفظ وصيته وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله

(تفسير إبن كثير ٣/٥١٨)


- Syaikh Ahmad bin muhammad al shawi al mashri al khalwati al maliki menafsirkannya :

والمعنى إنما يعظم الله من العباد العلماء لكونهم أعرف الناس بربهم وأتقاهم له فالواجب على الناس تعظيمهم واحترامهم إقتداء بالله تعالى فإن الله أخبر أنه يعظمهم ويجلهم

حاشية الصاوي على تفسير الجلالين ٣/٢٨١ دار الكتب العلمية بيروت

Tafsir ayat di atas "Allah menjelaskan sesungguhnya dari sekian Hamba Allah yang benar-benar mengangungkanNya hanyalah Ulama' karena mereka lebih mengenal dan lebih takut kepada Allah maka seharusnya kita mengagungkan Ulama' karena mengikuti anjuran Allah dimana Allah sendiri memuliakan ulama

- Ahmad ibnu Hanbal memberikan kriteria orang alim dengan merujuk kepada pendapat-pendapat dari berbagai sumber misalnya :

وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال لا يكون الرجل عالما حتى لا يحسد من فوقه ولا يحقر من دونه ولا يبتغي بعلمه ثمنا

Seseorang tidak dianggap alim sampai dia tidak dengki kepada orang yang berada di atasnya, tidak merendahkan orang yang status sosialnya berada di bawahnya dan dia dengan ilmunya tidak ingin menumpuk materi duniawi
Umar bin Khattab bertanya kepada Abdullah bin salam : Siapakah orang yang berilmu itu ? Beliau menjawab : Dialah orang-orang yang mengamalkan ilmunya.
Tafsir Ahmad ibni Hanbal juz 2 hal 120

Lebih rinci lagi Sayyid Abdullah bin 'alawi Al Haddad mendifinisikan ulama' dalam kitabnya Al nashaih al diniyyah hal 22 adalah :

فَمِنْ عَلَامَاتِ الْعَالِمِ: أَنْ يَكُوْنَ خَاشِعًا مُتَوَاضِعًا خَائِفًا مُشْفِقًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا قَانِعًا بِالْيَسِيْرِ مِنْهَا مُنْفِقًا الْفَاضِلَ عَنْ حَاجَتِهِ مِمَّا فِي يَدِهِ نَاصِحاً لِعِبَادِ اللهِ رَحِيْمًا بِهِمْ آمِرًا بِالْمَعْرُوْفِ نَاهِيًا عَنْ الْمُنْكَرِ مُسَارِعًا فِي الْخَيْرَاتِ مُلَازِمًا لِلْعِبَادَاتِ وَوَقَّارًا وَاسِعَ الصَّدْرِ لَا مُتَكَبِّرًا وَلَا طَامِعًا فِي النَّاسِ وَلَا حَرِيْصًا عَلَى الدُّنْيَا وَلَا جَامِعًا لِلْمَالِ وَلَا مَانِعًا لَهُ عَنْ حَقِّهِ وَلَا فَظًّا وَلَا غَلِيْظًا وَلَا مُمَارِيًا وَلَا مُخَاصِمًا وَلَا قَاسِيًا وَلَا ضَيِّقَ الصَّدْرِ وَلَا مُخَادِعًا وَلَا غَاشًّا وَلَا مُقَدِّمًا لِلْأَغْنِيَاءِ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَلَا مُتَرَدِّدًا إِلَى السَّلَاطِيْنِ .وَبِالْجُمْلَةِ فَيَكُوْنُ مُتَّصِفًا بِجَمِيْعِ مَا يَحُثُّهُ عَلَيْهِ الْعِلْمُ وَيَأْمُرُهُ بِهِ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُوْدَةِ وَالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةَ مُجَانِبًا لِكُلِّ مَا يَنْهَاهُ الْعِلْمُ عَنْهُ مِنَ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ الْمَذْمُوْمَةِ. ( ص. ٢٢)

Tanda/ciri orang Alim (ulama) antara lain : pembawaannya tenang, rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, qona'ah, suka sedekah, membimbing umat, menyayangi mereka, selalu mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan/maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi kemegahan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hati, tidak kasar, tidak suka pamer, tidak memusuhi dan membenci orang, tidak picik, tidak menipu, tidak licik, tidak mendahulukan orang kaya daripada orang miskin, dan tidak mondar mandir sering mengunjungi penjabat pemerintahan/penguasa"

Kesimpulannya Ulama' adalah orang yang memiliki sifat yang diperintah dan didorong oleh ilmu berupa akhlak yang baik dan menjauhi apa yang dilarang ilmu yaikni akhlak yang buruk.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar