Dalam hadis nabi bersabda :
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ
جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ
أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟
قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ
رِجْلَيْهَا
Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya
Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu
berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang
kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih
mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah
engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah
kedua kakinya.”
الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ
Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara
akan baik dan apabila wanita rusak maka negarakapun akan rusak
Wanita Sebagai Tiang Negara
Di masa Rasulullah Salallahu’alaihi wasallam, peran kemasyarakatan kaum
muslimah sudah pernah ada dan berlanjut hingga kini. Jadi sangatlah
tidak benar tuduhan kaum orentalis bahwa Islam diskriminasi terhadap
kaum perempuan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahdzab, 35 Allah Subhana
Wata’ala menjelaskan bahwa kedudukan kaum laki-laki dan perempuan adalah
sama dihadapan-Nya, jika sama-sama berada pada ketaatan, kesabaran,
kebenaran, khusu’, senantiasa bersedekah, berpuasa, menjaga
kehormatannya, dan selalu mengingat-Nya.
Dalam Islam dijelaskan
bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai hak dan kewajiban,
sesuai fungsi dan tugasnya. Adanya perbedaan fungsi dan tugas tersebut,
sesungguhnya tidak merubah value di hadapan Sang Pencipta, kecuali
tingkat ketaqwaannya. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Allah Subhana
Wata’ala dalam QS. Al-Hujurat, 13. Bukankah manusia dan jin di ciptakan
semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah ? (QS. Adz-Dzariyat, 56).
Berbicara mengenai perempuan, maka perempuan juga di sebut wanita yang
artinya “Wani diTata”. Istilah ini diambil dari bahasa Jawa yang artinya
siap diatur. Jika seorang wanita mengerti dan memahami peran dan
fungsinya, maka disanalah letak hakekat emansipasi yang sebenarnya, yang
diperjuangkan R.A. Kartini.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa
kesaksian sejarah mempunyai lembaran kelam tentang perlakuan kaum pria
terhadap kaum perempuan yang hanya memposisikan perempuan sebagai
pelampiasan nafsu dan melahirkan anak. Hal ini dapat juga dilihat pada
masa Arab Jahiliyah. Umar bin Khattab dimasa sebelum masuk Islam pernah
mengubur hidup-hidup anak perempuannya lantaran dianggap aib. Di Eropa
pada tahun 586 M, kaum agamawan prancis mendiskusikan “Apakah perempuan
dapat masuk surga ? “kesimpulan dari diskusi itu adalah wanita memiliki
jiwa namun eksistensinya tidak kekal dan hanya bertugas untuk melayani
laki – laki. Filosuf sekaliber Plato saja menganggap perempuan tak
ubahnya seperti hamba sahaya.
Seiring perjalanan waktu, peran
mereka menjadi warna tersendiri dalam peradaban dunia Islam. Pada
pembahasan berikutnya dapat dilihat bagaimana peran aktif kaum Muslimah
dalam berda’wah pada periode generasi awal, atau dalam Al-Qur’an disebut
dengan Asabiquna Awwalun.
Khadijah Radhiallahu Anha
Dalam
sejarah peradaban Islam, nama Khadijah tidak dapat dipisahkan dari
perjalanan hidup Nabi Muhammad Salallahu alaihi Wasallam. Karena
Khadijah dengan setia selalu mendampingi beliau dan senantiasa
memotivasi, baik secara materi maupun non-materi. Khadijah adalah sosok
wanita yang cerdas. Kecerdasannya itu dapat dilihat dari bagaimana
ketelitian beliau dalam mengamati datangnya wahyu Allah yang dibawa oleh
Jibril. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa Khadijah
bertanya, “Wahai anak pamanku, dapatkah engkau memberi tahuku tentang
temanmu yang datang ?” kemudian Nabi menjawab, “ya. Khadijah bertanya,
“Apakah engkau melihatnya?” kemudian Nabi menjawab, “Ya. Khadijah
berkata, “Bawalah dia masuk kedalam kamarku !” kemudian Khadijah
bertanya lagi, apakah engkau masih melihatnya ?” kemudian Nabi menjawab,
“ya. Kemudian Khadijah membuka kerudungnya dan bertanya lagi kepada
Nabi, “Apakah kamu masih melihatnya ?” Nabi menjawab, “tidak”. Kemudian
Khadijah menjelaskan, “Sesungguhnya dia adalah Jibril pembawa wahyu,
kelak engkau menjadi Nabi bagi ummat ini”.
Tidak hanya sampai
disitu, Khadijah terus berusaha mencari kebenaran itu untuk memantapkan
keyakinannya itu dengan menanyakan prihal wahyu (yang diberikan kepada
Muhammad) kepada Waraqah bin Nufail yaitu seorang rahib yang juga
saudara sepupunya. Ternyata jawaban Waraqah sama, yaitu “Sesungguhnya
dia (Muhammad) adalah Nabi bagi Ummat diakhir zaman”.
Oleh karena
kecedasannya itu, dia dijuluki sebagai salah satu mutiara dari sembilan
mutiara yang menyertai perjalanan hidup Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi
Wasallam.
A’isah Radiallahu anha
Lain halnya dengan
khadijah, A’isah adalah mutiara berikutnya yang mempunyai sisi kelebihan
yang lain. Nabi sering memanggilnya dengan sebutan “ya Humaira” (Wahai
yang kemerah-merahan). Panggilan ini merupakan panggilan sayang Nabi
kepada A’isah yang pipinya senantiasa terlihat memerah. A’isah adalah
putri dari Sahabat Nabi yang bernama Abu Bakar Ashiddiq, yang memiliki
keceerdasan luar biasa jika dibandingkan dengan gadis-gadis arab
seusianya. Dia meriwayatkan banyak Hadits Nabi. Para ahli Hadits
menjelaskan bahwa beliau merupakan istri Nabi yang paling banyak
meriwayatkan hadits, diantaranya hadits-hadits ahad, yaitu hadits-hadits
yang berkaitan pada privasi Nabi. Namun A’isah layaknya gadis-gadis
belia lainnya yang memiliki kecemburuan. Hal ini dapat dilihat pada
peristiwa “Yaumul Huzn” yaitu hari-hari kesedihan Nabi, ketika pamannya
Abu Thalib dan istrinya Khadijah meninggal.
Dalam Hadits yang
diriwayatkan olehnya (A’isah), beliau bertanya kepada Rasulullah, “Ya
Rasulullah Salallahu ’Alaihi Wasallam, apa yang membuatmu begitu
bersedih ? ”Apakah engkau lebih mencintainya daripada aku?” kemudian
Nabi menjawab,“Wahai Humaira, sesungguhnya aku mencintainya begitu juga
halnya dengan dirimu. Namun aku tak bisa melupakan kesetiaan Khadijah”.
Jika engkau meragukannya, sesungguhnya aku rela untuk tidak meminum
madu”.
Dalam peristiwa ini, turunlah Surat At-Tahrim, yang
intinya mengingatkan Nabi dan istri-istrinya, antara lain
A’Isah dan
Hafsah.
Allah mengingatkan kepada Nabi Salallahu’Alaihi Wasallam
dengan cara serkasme, yaitu teguran dalam bentuk pertanyaan yang tidak
membutuhkan jawaban, “Wahai Nabi mengapa engkau mengharamkan apa yang
dihalalkan oleh Allah bagimu hanya untuk menyenangkan istri-istri kamu?”
(Qs. At-Tahrim, 1) kemudian peringatan Allah kepada A’isah dan Hafsah
untuk segera bertobat dan jangan sekali-kali menyusahkan Nabi. Hal ini
dijelaskan pada ayat berikutnya Qs. At-Tahrim, 4.
Fathimah Radiallahu anha
Beliau adalah putri Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam, yang
kemudian menjadi istri Ali bin Abi Thalib. Dalam suatu riwayat
diceritakan bahwa beliau sedang hamil muda dan mengidamkan buah delima.
Kemudian Ali bin Abi Thalib membelikannya di pasar, namun kebetulan pada
saat itu sedang tidak musim buah delima, sehingga cukup sulit
menemukannya, baru menjelang Maghrib Ali menemukan buah delima itu. Di
tengah perjalanannya kembali kerumah, ada seorang pengemis yang datang
kepada Ali untuk meminta sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang
lapar karena sudah tiga hari tidak makan. Dengan penuh pertimbangan, Ali
memberikan buah delima tersebut. Sesampainya di rumah, Fatimah
bertanya, “Wahai suamiku apakah engkau telah mendapatkan buah delima
yang aku pesan ?” dengan berat hati, Ali menjawab, “Sesungguhnya aku
telah menemukan buah delima itu, namun di pertengahan jalan, ada seorang
pengemis yang sudah tiga hari tidak makan dan menghampiriku untuk
meminta sesuatu yang bisa dimakan”. Kemudian Fatimah menjawab,
“Sesunguhnya Itu lebih baik bagimu dan aku sudah tidak menginginkannya
lagi”. Subhanallah begitu mulianya hati Fathimah.
Ummu Sulaim Radiallahu anha
Beliau adalah istri dari Malik bin Nadr, yaitu ayahnya Anas bin Malik.
Malik bin Nadr wafat di Syam. Seiring perjalanan waktu ummu Sulaim
bertemu dengan Abu Thalhah yang merupakan saudagar kaya se-Madinah.
Singkat cerita Abu Thalha untuk menjadikan Ummu Sulaim sebagai
pendamping hidupnya (melamar). Ketika itu Abu Thalhah belum memeluk
Islam, sehingga Ummu Sulaim berkata, “Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau
tahu tentang tuhan yang engkau sembah adalah tidak lebih hanyalah
sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah, yang kemudian dipahat oleh
seorang Habsyi anak Fulan bin Fulan. Tidakkah engkau tahu wahai Abu
Thalhah, jika tuhan yang engkau sembah itu dibakar, maka ia juga akan
terbakar dan menjadi debu ”. kemudian Abu Thalhah menjawab “Benarkah
begitu ?” kemudian Ummu Sulaim menjawab, “Apakah engkau tidak malu
karena engkau menyembah pohon? Jika engkau masuk Islam, sesungguhnya aku
tidak menghendaki mahar apapun, kecuali ke-Islamanmu”. (Kisah ini
diriwayatkan oleh Anas bin Malik).
Kisah ini menggambarkan
kemuliaan pribadi Ummu Sulaim yang tidak matrealistis, padahal
sebagaimana yang kita ketahui di awal cerita ini bahwa Abu Thalhah
adalah seorang saudagar kaya se-Madinah yang memiliki kebun Korma yang
luas. Namun Ummu Sulaim sedikitpun tidak tergiur dengan hartanya Abu
Thalha tersebut. Lain halnya dengan istrnya Abu Lahab yang selalu
“membawa kayu bakar”. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam Surat
Al-Lahab. “Membawa kayu bakar” ini maksudnya adalah memotivasi suaminya
untuk mengumpulkan kekayaan dengan cara apapun.
Dalam Qaulul
Hikmah dikatakan, “wanita adalah tiang negara, jika wanitanya baik, maka
baik pula negara itu. Namun jika wanitanya buruk, maka hancurlah negara
itu”.
Penulis berfikir, jika semua wanita di negeri ini seperti
Khadijah, A’isah, Fathimah, Ummu Sulaim dan Shahabiyah lainnya yang
tidak kami sebutkan dalam tulisan ini, maka negara ini menjadi “Baldatun
Thaibatun Warabbun ghafur”. Sebaliknya, jika semua wanita di negeri ini
seperti istrinya Abu Lahab, maka tunggulah saat kehancuran negara ini.
Di antaranya kini sudah terlihat secara nyata bahwa korupsi sudah
merajalela dan sulit diberantas keberadaannya.
Surga di telapak kaki ibu, maka setiap anak seharusnya memperlakukan
ibunya dengan baik dan membahagiakan hatinya. Tidak perlu emas permata
untuk mengukir senyum ibu, karena mereka tidak menginginkan semua itu
sebagai hal yang membuat hati mereka bahagia.
Ada banyak cara
sederhana untuk membuat seorang ibu bahagia, dan dari banyak cara itu,
inilah 5 di antaranya yang paling cocok dilakukan oleh anak perempuan
mereka.
Menemaninya Belanja
Setiap wanita suka belanja,
ibu Anda pasti juga belanja. Menemani belanja ini tidak harus belanja,
kadang hanya jalan-jalan saja sudah bisa menyenangkan hatinya. Seorang
ibu paling senang jika ditemani belanja oleh anak perempuannya, karena
bisa saling memberi saran jika akan membeli sesuatu, berbeda jika saat
mengajak anak laki-lakinya. Maka, luangkan waktu untuk mengajak ibu Anda
belanja bersama.
Dengarkan Cerita-Ceritanya
Semakin
bertambah usia wanita, terutama ibu, semakin sering dia menceritakan
hal-hal yang kadang menurut Anda tidak penting. Mulai dari harga sembako
naik, tetangga yang baru pergi ke negara lain dan sebagainya. Kadang
Anda lebih ingin berbaring dan memejamkan mata ketika capek, namun
luangkanlah sedikit waktu untuk mendengar cerita-ceritanya, karena kelak
Anda pasti akan senang jika ada yang mendengar cerita-cerita Anda.
Menceritakan Kisah Cinta Anda
Setiap
ibu selalu punya kekhawatiran saat anak perempuannya sudah besar dan
sudah mengerti cinta. Kadang seorang ibu akan bertanya-tanya pria
seperti apa yang membuat Anda jatuh cinta, karena setiap ibu pasti ingin
Anda memilih pria yang baik, sebaik beliau memperlakukan Anda. Maka tak
perlu malu menceritakan kisah cinta Anda, dan kenalkanlah si dia pada
ibu Anda. Mungkin ibu Anda akan banyak bertanya tentang si dia, tapi
itulah salah satu bukti bahwa beliau sangat mencintai dan peduli dengan
masa depan Anda.
Pujilah Dia
Anda suka dipuji? Setiap
wanita memang senang dipuji, termasuk ibu Anda. Maka jangan terlalu cuek
saat ibu Anda baru memasak menu baru atau membuatkan Anda kue, pujilah
kue buatannya, walaupun mungkin Anda berpikir kue di toko sebelah lebih
enak. Jika ibu Anda memakai baju atau tas baru, dan menurut Anda itu
sangat cocok, beri juga pujian. Meskipun ibu Anda mengatakan "Aduh kami
bisa aja," tapi percayalah, ada kebahagiaan besar saat pujian itu datang
dari putri kesayangannya.
Katakan Bahwa Anda Mencintainya
Ada
yang bilang cinta tak perlu diungkapkan, cukup ditunjukkan dengan
perbuatan. Tapi jika Anda mau mengatakannya, percayalah, tidak ada yang
lebih membahagiakan bagi seorang ibu. Maka selalu ucapkan kata-kata
bahwa Anda mencintainya, masa cuma pacar Anda yang mendapat kata-kata
ini? Padahal ibu Anda sudah bertahun-tahun berjuang untuk Anda. Maka
sudah selayaknya beliau mendengar langsung bahwa Anda sangat
mencintainya.
Tidak sulit bukan? Cobalah dan Anda akan jauh lebih bahagia. Salam sayang untuk ibu Anda.
Wallahu A’alm bishawab.
WANITA BEKERJA
Kaum
wanita pada zaman sekarang banyak sekali yang mengerjakan kegiatan di
luar rumah, tentunya mempunyai tujuan yang hendak dicapai karena tujuan
merupakan hasil akhir dari seorang wanita setelah melakukan pekerjaan.
Kebanyakan wanita muslimah bekerja di luar rumah karena faktor ekonomi,
tetapi kadang-kadang disebabkan kebutuhan akan sesuatu yang lebih
menarik daripada kehidupan di rumah yang membuat mereka bosan dan
kesepian atau ia memiliki sesuatu yang berharga untuk disumbangkan
melalui pekerjaan itu, dengan tujuan untuk kemaslahatan bersama.
Menurut Dadang Hawari terdapat dua motivasi yang mendasari seseorang
bekerja, yaitu: pertama, mengembangkan karier dan kedua turut mencari
penghasilan disamping suami.[1]
Secara singkat dapat dikemukakan
rumusan menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa perempuan mempunyai
hak untuk bekerja, selam pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau
selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut.[2]
Dengan
memperhatikan hal di atas, kaum wanita boleh melakukan pekerjaan yang
dapat membantu suaminya dalam memenuhi kehidupan mereka, tetapi tidak
meninggalkan tugasnya yang utama yaitu sebagai ibu rumah tangga, karena
ibu lah yang akan dapat membentuk kepribadian anak. Sehingga disunnahkan
bagi wanita melakukan kegiatan profesional dengan syarat sejalan dengan
tanggung jawab keluarga dan berpedoman pada tujuan berikut yaitu:
a. Berkarier demi membantu perekonomian keluarga, agar lebih baik.
b. Berkarier demi mengembangkan bakat dan semua potensi yang dimiliki.
c. Berkarier demi mengembangkan keahlian yang ia miliki, setelah menyelesaikan jenjang pendidikan formal.
d. Berkarier, karena memang sangat dibutuhkan untuk melakukan hal itu.
Dan itu dianggap suatu yang amat emergensi (darurat), seperti hal-hal
yang khusus berkaitan dengan perempuan, maka sebaiknya perempuan yang
melakukan.
Secara singkat dapat dikemukakan rumusan menyangkut
pekerjaan perempuan yaitu bahwa perempuan mempunyai hak untuk bekerja,
selama pekerjaan itu membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan
pekerjaan tersebut”.[3]
Dengan demikian, seorang pria harus
mengetahui dengan jelas tujuan karier wanita dalam kehidupan sosial.
Karena pada dasarnya wanita tugasnya di dalam rumah, tetapi karena
kebutuhan yang mendorong mereka keluar akhirnya seorang wanita keluar
untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan harus sesuai dengan syarat yang
sudah ditetapkan oleh agama.
Secara kodrati wanita mempunyai
fungsi, peran dan tanggung jawab yang tidak kecil dalam keluarga.
Fungsi, peran dan anggung jawab tersebut sangat dominan karena iklim
rumah tangga yang harmonis memerlukan fungsi, peran dan tanggung jawab
yang tepat. Melalui keharmonisan rumah tangga wanita menumbuh-kembangkan
anak.
Kehidupan keluarga merupakan wahana pertumbuhan sumber
daya manusia yang paling esensial bagi perkembangan bangsa. Oleh karena
itu pembangunan bangsa bersumber dan dimulai dari rumah, di dalam
kehidupan keluarga. Dan wanita adalah pengelola utama keluarga yang
mendidik dan mengembangkan fungsi-fungsi dasar kehidupan anak.
Sejarah perjalanan dan perkembangan umat manusia menunjukkan, paling
tidak ada tiga peran yang melekat pada diri seorang wanita yaitu:
“sebagai penerus generasi, sebagai pengasuh, dan sebagai pendidik
anak”.[4]
Ada beberapa peran yang dilakukan oleh wanita karier dalam proses kehidupannya,[5]
a. Peran sebagai istri
Peran istri disini dapat dikatakan sebagai peran yang mudah. Istri
tidak hanya dituntut untuk mampu memainkan “peran sebagai kekasih suami,
tetapi hendaknya pada situasi-situasi tertentu ia mampu berlaku sebagai
ibu, sahabat bahkan pelindung suami”.[6]
b. Peran sebagai ibu
Peran sebagai seorang ibu tidak dapat dianggap sepele. Tugas sebagai
ibu yang termasuk didalamnya adalah mendidik anak, dimana dalam mendidik
anak tidak dapat dikerjakan secara sambilan, namun merupakan tanggung
jawab dan amanah dari Allah yang harus dipikul oleh seorang wanita.
Keberhasilan dalam mendidik anak oleh seorang ibu tidak dapat ditandai
oleh tercapainya titel yang tinggi, bukan pula kekayaan yang banyak atau
jabatan yang tinggi.[7]
Namun keberhasilan seorang ibu dalam
mendidik anak secara hakiki adalah berhasilnya anak-anak dalam
mendapatkan keselamatan di akhirat kelak.[8] Tetapi tidak berarti bahwa
bekal di dunia tidak penting. Kecenderungan yang nampak saat ini banyak
seorang ibu yang membekali anaknya dengan bekal keduniaan, sementara
urusan keakhiratan anaknya sering terlupakan.
c. Peran sebagai anggota masyarakat.
Islam tidak melarang wanita atau seorang istri/ibu bekerja di sektor
publik atau diluar rumah, asalkan tugas utama sebagai istri dan sebagai
ibu tidak diabaikan begitu saja tanpa tanggung jawab secara penuh.
Kebanyakan dari mereka ikut membina masyarakat, berpartisipasi dalam
sistem pendidikan, sistem kesehatan, dakwah, mengukuhkan kerukunan rumah
tangga, terlibat dalam urusan ekonomi dan ketenteraman”.[9]
Keberadaan wanita karier yang bekerja di sektor publik atau wanita
karier dalam keluarganya memiliki fungsi yang tidak dapat dipandang
dengan sebelah mata. Banyak fungsi-fungsi yang dapat ia perankan
sehingga mampu membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera.
Diantaranya adalah:
1) Untuk menopang kebutuhan keluarga.
2) Anak perempuan dari ibu yang bekerja lebih mengagumi ibu mereka.
3) Anak lelaki tidak dirugikan bila ibu mereka bekerja diluar rumah,
kecuali bila hal itu disertai dengan kegagalan ayah sebagai pemimpin
keluarga.
4) Seorang ibu yang menggunakan seluruh waktunya di
rumah, secara emosional akan terikat pada anak-anaknya, si ayah mungkin
mulai merasakan dirinya sebagai orang luar. Bila kedua orang tua
bekerja, keduanya akan terlibat secara berimbang dengan anak-anak serta
dapat merasakan hubungan mereka satu sama lain.[10]
Dari uraian
di atas menunjukkan beberapa aktivitas wanita terutama berposisi sebagai
orang tua lebih banyak berkaitan dengan posisinya sebagai ibu dan
anggota masyarakat.
[1] Dadang Hawari, Al-Qur’an dan Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Jakarta: Dana Bhakti Primakasa, 1997), hlm. 276
[2] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Jakarta: Mizan, 1993), hlm 275
[3] Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Jakarta : Mizan, 1993), hlm. 275
[4] Susi Partini Suardiman, Wanita Bekerja Dan Permasalahannya, dalam
Wacana Perempuan Keindonesiaan Dan Kemoderenan, (Jakarta: Pustaka
Cidesindo, 1988), hlm. 262
[5] Gina Puspita, Menghadapi Peran
Ganda Wanita, dalam Dadang S. Anshori, (Ed.), Membincangkan Feminisme,
(Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), hlm. 201.
[6] Ibid., hlm. 202
[7] Ibid., hlm. 203.
[8] Ibid., hlm 203.
[9] Ibid., hlm 204.
[10] G. Wade Rowatt, Jr and Marry Jo Rowatt, The Career Marriage, (Yogyakarta: YB. Tugiyarsi, Kanisius, 1990), hlm. 29-34.
Nasehat rumah tangga
Syaikh Nizar Hammadi memberi nasehat kepada siapapun yang akan menikah; semoga bermanfaat bagi yang memerlukannya;
Ini adalah beberapa nasehat singkat yang berguna yang ingin menempuh jenjang pernikahan, terutama kaum laki-laki:
Haraplah dari istrimu keturunan demi kelangsungan hidup umat manusia, terutama umat Nabi Muhammad, dan tatanan rumah tangga yang merupakan inti utama dari masyarakat, bila tatanan rumah tangga baik maka tertatalah masyarakat.
Janganlah mengutamakan syahwat semata-mata, karena syahwat merupakan hal yang juga dimiliki oleh binatang, maka dengan mengutamakan syahwat, hilanglah perbedaan dengan mereka.
Jika niat tersebut telah terwujud, maka pilihlah:
Wanita yang sempurna akalnya (cerdas) demi terwujudnya tatanan rumah tangga, wanita yang bodoh dan yang kurang akalnya tidak akan mampu mengurus dirinya sendiri, maka bagaimana ia mampu mengurus orang lain.
Wanita yang terpelihara (iffah) lembut hatinya, pemalu, menutup mata (menjaga pandangannya) karena wanita yang fasik menjadi sebab bagi melenyapkan apa yang telah ada, maka