Senin, 27 April 2015

Hukum tarian sufi



Sahabat Ini Menari Dihadapan Rasulullah Saw.
Menari pada dasarnya adalah gerakan dari anggota badan seperti halnya berjalan, melompat, berdiri, duduk, berputar, dan sebagainya, tetapi dengan keserasian atau "irama" tertentu. Menari juga merupakan ekspresi manusia terhadap sesuatu.

Banyak dari pecinta salawat berdzikir dengan sedikit menggerakkan tubuhnya ke kanan atau ke kiri, baik saat duduk atau mahallul qiyam. Ada yang mengatakan hal ini adalah haram. Namun ada pula ulama yang membolehkan dengan hujjah hadis shahih.

Pernahkah melihat seorang anak yang menari-nari karena baru berjumpa ibunya sambila berkata "Ibuku baik, ibuku baik", dan sebagainya?. Walaupun tidak sama, tetapi hadits berikut ini menggambarkan eksperi salah seorang sahabat terhadap Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk tarian ketika berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw.
****

عن أنس قال: كانت الحبشة يزفنون بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ويرقصون ويقولون: محمد عبد صالح، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما يقولون؟» قالوا: يقولون: محمد عبد صالح (رواه احمد وابن حبان وعلق شعيب الارناؤط صحيح علي شرط مسلم)

"Dari Anas, ia berkata bahwa orang Habasyah menari di depan Rasulullah shalla Allahu alaihi wasallama, dan mereka berkata: "Muhammad adalah hamba yang saleh". Nabi bertanya: "Apa yang mereka katakan?". Mereka menjawab: "Orang orang Habasyah mengatakan Muhammad adalah hamba yang saleh"
(HR Ahmad dan Ibnu Hibban. Catatan Syuaib Arnauth: Hadis sahih, sesuai syarat Muslim)

Jelas sekali sahabat Habasyah ini menari di depan Rasulullah dan memuji-muji Rasulullah, dan beliau tidak menyalahkan.

Tarian Sufi Sahabat Di Masa Rasulullah SAW


Pemain sepak bola yang membobol gawang lawan, macam-macam tingkahnya. Kalau tidak melepas kaos atau menunjuk-tunjuk entah ke arah mana sambil berlari-larian, ia berdiri menari kegirangan berbarengan dengan sempritan panjang wasit. Kegirangan pemain itu tentu disambut pemain satu tim dengan usapan kepala atau rangkulan, sorak supporter, dan jingkrak pelatih mereka.

Wasit pun akan memaklumi aksi macam-macam begini. Karena aksi begitu hanya sebentar untuk kemudian meletakkan bola di tengah untuk melanjutkan kembali permainan secara wajar. Yang tidak wajar itu kalau wasit turut melompat-lompat gembira. Ini akan menyulut kecurigaan pihak lawan. Jangan-jangan wasit sedari awal sudah doyong ke salah satu tim.

Memang begitu. Ketika perasaan sedih, gembira, atau lainnya meluap berkobar-kobar, manusia biasanya akan bertingkah di luar perilaku keseharian. Selagi masih manusia, maka ia bisa dibilang akan melakukan hal serupa baik dahulu maupun terkemudian.

Di masa Rasulullah SAW pun peristiwa serupa terjadi. Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawi Al-Haditsiyah, menceritakan sahabat Ja‘far bin Abi Thalib RA yang menari dengan ceria karena hatinya tengah ditenggelamkan rasa gembira luar biasa.

نعم له أصل فقد روي في الحديث أن جعفر بن أبى طالب رضي الله عنه رقص بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم لما قال له "أشبهت خلقي وخلقي" وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر عليه صلى الله عليه وسلم. وقد صح القيام والرقص في مجالس الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم عز الدين شيخ الإسلام ابن عبد السلام

"Tentu. Aksi tarian para sufi ketika perasaannya gembira bukan kepalang, memiliki asal-usulnya. Sebuah hadits meriwayatkan Ja‘far bin Abi Thalib RA menari di hadapan Rasulullah SAW ketika Beliau SAW mengatakan kepadanya, “Rupa dan perilakumu (akhlaqmu) serupa denganku”.

Mendengar indahnya pujian itu, Ja‘far lalu menari. Sementara Rasulullah SAW sendiri tidak mengingkari tarian tersebut. Karenanya berdiri dan menari di majelis-majelis zikir dan tabligh akbar (ngaji kuping), telah sahih diriwayatkan dari banyak ulama besar. Satu di antara mereka Izzuddin bin Abdis Salam."

Sebagai ekspresi perasaan manusia, sebuah tarian indah yang lazim berlaku di kalangan suatu kelompok sufi bisa diterima sama sekali. Selagi tidak membuat kericuhan seperti menari sambil melempar botol atau batu, orang-orang di sekitarnya bisa menerima.

Wallahu a‘lam.

Ulama wahabi bingung sendiri tentang bid'an


Contoh Kebingunan Ulama Salafi Dalam Memahami Bid’ah Menurut al-Qardhawi 


Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi di dalam buku terjemahan berjudul “Bid’ah Dalam Agama: Hakikat Sebab Klasifikasi dan Pengaruhnya” terbitan Gema Insani Press (November 2014) mengulas tentang permasalahan bid’ah disertai dengan contoh-contohnya yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam buku tersebut juga disajikan berbagai macam pendapat ulama mengenai bid’ah. Yang menarik, al-Qaradhawi menuliskan beberapa pendapat ulama Salafi khususnya Salafi Wahabi Arab Saudi tentang bid’ah yang ternyata saling bertentangan satu sama lain.

Bagi kelompok faham Salafi, semua bid’ah adalah sesat semuanya tanpa kecuali, dan pelakunya dipastikan masuk ke dalam neraka. Yang namanya bid’ah itu dholalah semuanya. Berbeda halnya dengan faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah sehingga tidak semua bid’ah adalah sesat.
Mari kita lihat halaman 181-185 dalam buku Bid’ah Dalam Agama: Hakikat Sebab Klasifikasi dan Pengaruhnya, Syaikh Yusuf al-Qardhawi menulis:

Buku Yusuf al-Qardhawi: Bid'ah Dalam Agama
  1. Orang yang mengikuti pendapat Syaikh Muhammad bin Utsaimin, al-Albani dan Shalih al-Fauzan yang menilai bahwa duduk untuk takziah sebagai pelaku bid’ah dan harus dijauhi, konsekuensinya ia pun menetapkan Syaikh Abdul Aziz bin Fauzan dan Abdullah bin Jibrin sebagai pelaku bid’ah karena keduanya membolehkan dua perkara tersebut.
  2. Sementara orang yang mengikuti pendapat syaikh Muhammad bin Utsaimin yang menilai memberi makan kepada kedua orangtua di waktu malam merupakan perilaku bid’ah, konsekuensinya ia pun menilai Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Abdullah bin Jibrin dan Shalih al-Fauzan sebagai pelaku bid’ah karena mereka membolehkan perbuatan itu.
  3. Barangsiapa yang mengikuti pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Muhammad bin Utsaimin dan Shalih al-Fauzan yang menilai pengkhususan hari Jum’at untuk ziarah kubur sebagai perbuatan bid’ah, konsekuensinya ia pun menilai Syaikh Abdullah bin Jibrin sebagai pelaku bid’ah karena ia membolehkan perbuatan ini.
  4. Sementara orang yang mengikuti pendapat Syaikh al-Albani dan Shalih al-Fauzan yang menilai pembuatan/ penggunaan tasbih untuk dzikir sebagai perbuatan bid’ah, konsekuensinya ia pun menilai Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Muhammad bin Utsaimin dan Abdullah bin Jibrin sebagai pelaku bid’ah karena mereka memperkenankan perbuatan ini.
  5. Orang yang mengikuti pendapat Syaikh Bakar Abu Zaid dan Abdurrazzaq Afifi yg menilai penyelenggaraan acara pembacaan Al-Qur’an sebagai bid’ah, konsekuensinya ia pun menilai Syaikh al-Albani dan Shalih al-Fauzan sebagai pelaku bid’ah karena keduanya membolehkan acara ini.
  6. Dan lain sebagainya.
Inilah contoh kebingungan para ulama Salafi Arab Saudi di dalam memahmi bid’ah, sehingga mereka baik secara sadar atau tidak sadar telah saling membid’ahkan satu dengan yang lainnya. Jika para ulama Saudi (Salafi) saja saling membid’ahkan satu sama lain, dapat dibayangkan betapa kebingungan telah melanda para pengikut mereka (kaum Salafi) di dalam memahami masalah bid’ah.

Perlu diketahui, pandangan Salafi tentang bid’ah adalah semuanya sesat dan menyesatkan, yang pelakunya dipastikan masuk neraka. Ini adalah doktrin “wajib” yang harus ada dalam diri seorang Salafi sejati. Dan lihatlah sendiri, sesama Salafi faktanya saling membid’ahkan, yang berarti juga mereka terjerumus saling memvonis sebagai penghuni neraka terhadap kelompok mereka sendiri. Sehingga tidak heran apabila pengikut Salafi baik di Arab Saudi maupun di Indonesia dengan mudahnya memvonis bid’ah dan sesat kepada kelompok lain yang tidak sefaham bahkan tidak jarang menuduh ahlussunnah wal jama’ah sebagai calon penghuni neraka. Sesama Salafi saja saling memvonis bid’ah, sesat, dan masuk neraka, apalagi terhadap kelompok di luar Salafi.

Beruntunglah bagi umat Islam masih tetap berpegah teguh kepada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang asli, tidak terjerumus ke dalam faham Salafi yang suka menuduh bid’ah dan sesat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi hidayah dan petunjukNya kepada kita semua, aamiin.

Kamis, 23 April 2015

Mengapa Rasulullah Saw melarang menyebut-nyebut garis keturunannya semenjak Hadhrat Adnan hingga Nabi Ibrahim dan semenjak Nabi Ibrahim hingga Nabi Adam?

Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Rasulullah Saw melarang menyebut-nyebut garis keturunannya semenjak Hadhrat Adnan hingga Nabi Ibrahim dan semenjak Nabi Ibrahim hingga Nabi Adam?

Pertanyaan
Apakah riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw yang bersabda: “Janganlah kalian menyebut-nyebut datuk-datukku setelah Adnan” merupakan sebuah riwayat yang sahih? Apabila riwayat ini sahih lantas apa dalil pelarangan ini?

Jawaban Global

Larangan Rasulullah Saw untuk tidak menyebut-nyebut garis keturunannya (nasab) semenjak Hadhrat Adnan (kaum Ad) hingga Nabi Ibrahim dan semenjak Nabi Ibrahim hingga Nabi Adam disebutkan dalam beberapa hadis dan beberapa kitab. Alasan pelarangan Rasulullah Saw adalah karena tidak jelasnya garis keturunan dan datuk-datuk beliau semenjak Adnan serta bermaksud untuk mengantisipasi perbedaan pendapat di antara para sejarawan terkait dengan masalah ini.

Jawaban Detil

Menurut sebuah riwayat yang disebutkan dalam sebagian kitab, seperti Bihâr al-Anwâr,[1] Kasyf al-Ghumma fi Ma’rifat al-Aimmah As,[2] dan al-Manâqib li Ali Abi Thâlib As,[3] Rasulullah Saw bersabda, “Dalam memperkenalkan dan menjelaskan garis keturunan (ayah-ayahku) hendaknya kalian cukup sampai Adnan (saja). (Jangan kalian menyebut datuk-datukku setelah Adnan).
Demikian juga dalam beberapa riwayat lain yang dinukil dari Rasulullah Saw disebutkan bahwa, “Ketika garis keturunanku (nasab) sampai pada Ma’ad bin Adnan hingga Ibrahim As, maka mereka yang menjelaskan garis keturunan ini (para ahli nasab) telah berkata dusta.”[4]
Dalil atas pelarangan ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam beberapa riwayat adalah tidak jelasnya garis keturunan Rasulullah Saw (setelah Adnan hingga Hadhrat Ibrahim As dan Hadhrat Adam As) dan adanya perbedaan pendapat di antara para ahli nasab. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Berhentilah ketika kalian sampai pada Adnan (ketika menelusuri garis keturunanku) dan kemudian membaca ayat berikut ini, “dan (telah Kami binasakan juga) kaum ‘Ad, kaum Tsamud, penduduk ar-Rass, dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.” (Qs. Al-Furqan [25]:38) Kemudian bersabda, “Tiada yang mengetahui hal ini kecuali Allah Swt.”[5]
Karena itu, alasan mengapa Rasulullah Saw melarang penyebutan nama datuk-datuknya setelah Adnan (kaum Ad) adalah karena tidak jelasnya garis keturunan dan ingin mengantisipasi perbedaan pendapat di antara para ahli nasab dan sejarawan dalam masalah ini. [IQuest]
[1]. Bihâr al-Anwâr, jil. 15, hal. 105.
رُوِیَ عَنْهُ ص، «إِذَا بَلَغَ نَسَبِی إِلَى عَدْنَانَ فَأَمْسِکُوا».
[2]. Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 1, hal. 65.
[3]. Al-Manâqib li Ali Abi Thâlib As, jil. 1, hal. 15.
[4]. Al-‘Umdah, hal. 24.
[5]. Qishâsh al-Anbiyah, Rawandi, hal. 316.
روی عنه (ص): إذا بلغ نسبی إلى عدنان فأمسکوا ثم قرأ: «وَ عاداً وَ ثَمُودَ وَ أَصْحابَ الرَّسِّ وَ قُرُوناً بَیْنَ ذلِکَ کَثِیراً»، لا یعلمهم إلا الله تعالى جل ذکره.
Pertanyaan Terkait
بحث متقدم
الزيارة
1789
محدثة عن: 2007/11/15

کد سایت fa519 کد بایگانی 1730
گروه تاريخ بزرگان
حصة
خلاصة السؤال
لماذا نهى النبی (ص) عن جرد نسبه اذا وصل الى عدنان؟
السؤال
روی ان النبی الاکرم (ص) نهى عن الاستمرار فی جرد نسبه اذا وصل نسبه الى عدنان، ما مدى صحة الروایة؟ و على فرض صحتها ماذا یقصد (ص) من ذلک النهی؟
الجواب الإجمالي
ثبت ان النبی الاکرم (ص) نهى عن التعرض لجرد نسبه الشریف من عدنان الى النبی ابراهیم (ع) و من النبی ابراهیم الى النبی آدم (ع)، و قد ورد هذا النهی فی بعض الروایات عن النبی الاکرم (ص) و کذلک تعرض له الکثیر من الکتب و المصنفات، و لکن بالنسبة الى علة و سبب هذا المعنى یمکن القول عنها: انه (ص) و بسبب مجهولیة هذه السلسلة و عدم معرفتها اراد (ص) ان یسد طریق البحث و الخوض فیها امام المؤرخین و القصاصین و النسابین، لانه من المعلوم ان مجهولیة تلک السلسلة سوف تؤدی الى طرح مجموعة من الآراء و الاختلافات بین المؤرخین و الباحثین مما قد یترک أثرا سلبیا فی المقام.
الجواب التفصيلي
جاء فی الروایة التی وردت فی بحار الانوار،[1] و کشف الغمة فی معرفة الائمة (ع)،[2] و المناقب لآل أبی طالب (ع)،[3]انه (ص) قال: «إِذَا بَلَغَ نَسَبِی إِلَى عَدْنَانَ فَأَمْسِکُوا».
و فی روایة أخرى قال (ص): «إذا وصل النسب إلى معد بن عدنان إلى إبراهیم (ع) کذب النسابون».[4]
و لعل دلیل ذلک انه و طبقا لما ورد فی الراویات ان نسبه الشریف بین عدنان الى ابراهیم (ع) و من ابراهیم الى النبی آدم (ع) غیر معلوم و مختلف فیه بین النسابین، فقد ورد فی الروایة انه (ص) قال: «إذا بلغ نسبی إلى عدنان فأمسکوا ثم قرأ (وَ عاداً وَ ثَمُودَ وَ أَصْحابَ الرَّسِّ وَ قُرُوناً بَیْنَ ذلِکَ کَثِیراً)،[5] لا یعلمهم إلا الله تعالى جل ذکره».[6]
من هنا یظهر انه بسبب مجهولیة هذه السلسلة و عدم معرفتها اراد (ص) ان یوصد طریق البحث و الخوض فیها امام المؤرخین و القصاصین و النسابین، لانه من المعلوم ان مجهولیة تلک السلسلة سوف تؤدی الى طرح مجموعة من الآراء و الاختلافات بین المؤرخین و الباحثین مما قد یترک أثرا سلبیا فی المقام.
[1] بحار الانوار، ج15، ص105.
[2] کشف الغمة فی معرفة الائمة،ج1، ص65.
[3] المناقب لآل ابی طالب، ج1، ص15.
[4] العمدة، ص24.
[5] الفرقان، 38.
[6] قصص الانبیاء للراوندی، ص316.

http://www.islamquest.net/ar/archive/question/fa519
ثبت ان النبی الاکرم (ص) نهى عن التعرض لجرد نسبه الشریف من عدنان الى النبی ابراهیم (ع) و من النبی...
islamquest.net

Rabu, 22 April 2015

Hadits Tanda-tanda Kiamat Kubro dan Suhgro

PENDAHULUAN

Salah satu di antara sendi-sendi rukun iman yang harus dipercayai oleh setiap mukmin adalah percaya kepada akan adanya hari kiamat. Ia juga unsur pokok dari elemen-elemen akidah. Lebih dari itu, iman kepada hari kiamat merupakan unsur terpenting setelah mempercayai Allah SWT.
           
Hal ini dapat dijelaskan bahwa percaya kepada Allah SWT akan menumbuhkan keyakinan pada sumber pertama, yang darinya tercipta seluruh alam beserta isinya. Sedang percaya kepada hari kiamat akan dapat menguatkan keyakinan, bagaimana akhir kesudahan seluruh materi yang pernah ada di alam dunia ini. Dengan mengetahui pangkal maupun ujung, awal maupun akhir, asal serta tujuan dari segala yang ada ini, demikian pula mengetahui siapakah yang menjadi sumber dan bagaimana kesudahannya kelak, maka seseorang dapat mengarah tujuan yang hendak dicapai, membuat peta ke mana dia harus menuju, sekaligus sebagai persinggahan akhir dari perjalanannya.
           
Hari kiamat selalu dikaitkan sebagai hari yang menandakan akhir daripada seluruh kehidupan alam semesta dengan segala kejadian yang maha dahsyat di dalamnya sesuai dengan apa yang diceritakan di dalam Al-Qur an dan Hadits Rasul. Dari berbagai tanda-tanda kiamat baik kiamat kubro dan sughro sering kita temui dari keterangan-keterangan para ulama yang bersumber dari Al-Qur an maupun Hadits dan gejala alam yang sering terjadi dewasa ini. Namun pada dasarnya mempercayai akan adanya hari kiamat memiliki unsur teguran agar manusia lebih memahami eksistensi serta kewajibanya di muka bumi.
           
Tidak terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang sepuluh tanda terbesar yang sedang ditunggu terjadinya, sebab hadist nabi telah menyebutkannya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai urutan serta zaman terjadinya tanda-tanda itu. Tanda-tanda tersebut seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari yaitu: keluarnya dajjal, turunnya Isa bin Maryam, Ya’juuj dan Ma’juuj, gempa bumi di timur dan barat, gempa di jazirah arab, asap tebal, keluarnya binatang melata, api yang menggiring manusia ke Makhsyar.[1]

A.    Pengertian

Kiamat secara bahasa  :
-          hari kebangkitan sesudah mati (orang yg telah meninggal dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya);
-          hari akhir zaman (dunia seisinya rusak binasa dan lenyap): sampai -- ia tidak akan dapat mengerjakannya;
-          berakhir; tidak akan muncul lagi: kekalahan yg beruntun, baik dl perebutan Piala Thomas maupun dl Asian Games baru-baru ini, membuat dunia bulu tangkis Indonesia spt akan --;
-          celaka sekali; bencana besar; rusak binasa: rumah tanggamu akan -- kalau kauceraikan istrimu;[2]
Kiamat secara istilah dibagi dalam 2 macam. Yakni kiamat Kubro dan Sughro :

Ø  Kiamat Kubro

·         kiamat besar yang maha dahsyat, hancurnya dunia dan segala isinya, berhamburan serta berantakan segala planet, bumi maupun matahari, gunung-gunung meletus sehingga seluruh umat manusia ikut hancur lebur mati berpuing-puing berserakan.[3]

·         Al-Ghazali dan Al-Qurthubi : kehancuran alam semesta yang kemudian disusul dengan kebangkitan manusia untuk menerima balasan dan hisab[4]

Ø  Kiamat Sughro

·         Diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul Tuhan[5]
·         Pemimpin dan Para Menteri Adalah anak dari Budak Wanita
·         Kematian yang selalu mengiringi kehidupan manusia

B.     Hadits Tentang Tanda-Tanda Kiamat Kubro Dan Sughro

Ø  Hadits Tentang Tanda Kiamat Kubro

Hudzaifah bin Usaid berkata bahwa Rasulullah SAW muncul ketika kami sedang berbincang-bincang tentang kiamat. Beliau bertanya “apa yang sedang kalian perbincangkan?”. Mereka pun menjawab,”kami sedang membicarakan kiamat”. Lalu Rasulullah bersabda:

انها لن تقوم حتى ترى عشر آيات الدخان والدجال والدابة وطلوع الشمس من مغربها ونزول عيسى ابن مريم ويأجوج ومأجوج وثلاثة خسوف خسف بالمشرق وخسف بالمغرب وخسفف بجزيرة العرب وآخر ذلك نار تخرج من قبل عدن تطرد الناس إلى محشرهم.(روه مسلم)

“kiamat itu tidak akan terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda: asap, Dajjal, binatang melata, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam, Ya’juuj dan Ma’juuj, tiga gempa (di timur, barat dan Jazirah arab), dan yang terakhir adalah api yang keluar dari ‘And yang menggiring manusia ke Makhsyar”.(HR. Muslim)

ثلاثة اذا خرجن لاينفع نفسا ايمانها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في ايمانها خيرا طلوع الشمس من مغربها والدجال والدابة الارض. (رواه مسلم والترمذي)

“ada tiga hal yang apabila telah muncul maka keimanan seseorang tidak lagi berguna baginya jika sebelumnya dia tidak beriman, atau tidak beramal kebajikan selama beriman, yaitu: terbitnya matahri dari arah barat, Dajjal, dan hewan melata” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ فَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ فَذَلِكَ حِينَ

{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }

“tidaklah tiba hari kiamat sehingga matahari terbit dari arah terbenamnya, maka apabila tanda ini telah muncul, seluruh manusia menjadi beriman. Keimanan manusia saat itu tidak bermanfaat bagi dirinya, bagi yang mulanya tak pernah beriman, juga bagi yang semula belum pernah berbuat baik dalam keimanannya.”(HR. Bukhari)

Ayat Al-Qur an yang terkait :

وَإِذَا وَقَعَ ٱلْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَآبَّةًۭ مِّنَ ٱلْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ ٱلنَّاسَ كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا لَا يُوقِنُونَ

82.  Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami[6].(An-Naml : 82)

Ø  Hadits Tentang Tanda Kiamat Sughro

Rasulullah SAW menjelaskan tentang dekatnya hari kiamat yang diriwayatkan dari Syu’bah dari Qatadah dari Anas:

بعثت انا والساعة كهاتين. مشيرا صلى الله عليه وسلم باصبعيه: السبابة والوسطى.(رواه البخاري ومسلم)

“antara pengutusanku dengan hari kiamat itu seperti ini,-sambil mengisyaratkan jari tengan dan telunjuk”. (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

“kapankah kiamat tiba ?”beliau menjawab: “Tidaklah yang ditanya itu lebih mengetahui daripada yang bertanya. Namun aku hendak memberitahukan kepadamu mengenai tanda-tandanya, yakni apabila seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, maka hal itu merupakan tanda-tanda hari kiamat. Dan apabila orang-orang bertelanjang kaki telah menjadi pemimpin umat manusia, maka hal itu (termasuk pula) tanda-tanda kiamat. Dan apabila penggembala kambing berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung menjulang tinggi, maka hal itu (termasuk pula) tanda-tanda kiamat.”(HR. Muslim)

Ayat Al-Qur an yang terkait :

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

34.  Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.[7] dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al-Luqman : 34)

C.    Penjelasan Tanda-tanda Kiamat

1.      Kiamat Kubro

-          Dajjal
Dajjal merupakan pendusta terbesar yang menutup kebenaran dengan klaim-klaim dusta, mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan mengaburkan kebenaran dalam pandangan manusia. Dia mengaku sebagai Tuhan. Dia berupaya memfitnah manusia agar mereka menjauhi agamanya dengan menampakkan hal-hal yang luar biasa yang bertentangan dengan adat.[8]

-          Turunnya Isa As
Nabi Isa As akan turun pada zaman akhir di tengah-tengah merajarelanya Dajjal. Turunnya Isa merupakan tanda kiamat besar. Setelah membunuh Dajjal, Isa As akan menghukumi dengan adil dan melaksanakan dan menghidupkan syari’at Islam yang telah ditinggalkan oleh manusia.

-          Ya’juuj dan Ma’juuj
Ya’juuj dan Ma’juuj keluar pada masa Isa As setelah kematian Dajjal. Mereka merupakan manusia yang paling berbahaya dan jahat setelah Dajjal. Mereka berjumlah besar dan tidak ada yang sanggup menandingi mereka dalam pertempuran.
-          Al-Khasf (barat, timur dan jazirah arab)
Tiga peristiwa pembenaman bumi (gempa) itu terjadi menjelang kiamat. Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani mengatakan bahwa gempa yang yang dimaksud adalah gempa yang sangat dahsyat di bandingkan gempa-gempa yang telah terjadi, serta lebih luas wilayah yang terkena getarannya.
-          Asap
Asap ini akan menimpa seluruh penghuni bumi, baik mukmin maupun kafir. Pada saat menimpa orang kafir, asap itu akan membuatnya tercekik, memenuhi seluruh rongga tubuhnya, lalu keluar dari seluruh lubang di tubuhnya. Sedangkan ketika mengenai orang yang beriman, asap itu akan membuatnya sedikit mengalami gangguan, seperti tertimpa influenza. Asap tersebut akan berada di bumi selama 40 hari sesuai hadist Nabi.
-          Terbitnya matahari dari barat
Ketika kiamat hampir tiba, perubahan tata aturan dan tanda-tanda luar biasa Nampak bagi manusia. Matahari terbit dari arah barat tidak sebagaimana yang kita lihat pada saat ini, yaitu matahri terbit dari arah timur, akan tetapi matahari akan terbit dari arah barat dan tenggelam di timur. Kemudian munculnya binatang melata yang aneh di muka bumi menurut pemaparan Ayat Al-Qur an yang dikutip penulis. Salah satu tanda tersebut merupakan sebagian tanda awal kiamat kubro akan tiba.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash bahwa Rasulullah bersabda: “Tanda-tanda kiamat yang pertama keluar adalah keluarnya matahari dari arah barat dan keluarnya binatang dihadapan manusia pada waktu dhuha. Jika salah satu keluar lebih dahulu, maka yang lainnya akan meyusul dengan jarak waktu yang sangat dekat”.(HR. Muslim dan Abu Daud)    
-          Hewan Melata
Berkenaan dengan ayat An-Naml : 82 menginformasikan bahwa keluarnya makhluk semacam binatang yang mampu bercakap-cakap dengan manusia. Yakni saat kiamat hampir tiba, adalah sebagai awal dari sejumlah pendahuluan yang menandakan begitu dekatnya kiamat tiba. Adapun perihal keluarnya makhluk semacam binatang tersebut adalah merupakan perkara yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah SWT sendiri. Karena hal itu tidak dapat ditemukan penjelasan mengenai fisik atau ciri-ciri binatang tersebut pada Al-Qur an dan Hadits.[9]
-          Keluarnya api yang menggiring manusia ke Makhsyar (Syam)
Tanda terbesar terakhir bagi terjadinya kiamat adalah keluarnya api dari dari dasar kota ‘And atau Hadhramaut yang akan menggiring manusia. Adapun letak padang Makhsyar adalah negeri Syam, seperti yang disebutkan dalam riwayat Ahmad dalam Al-Musnad ketika Rasulullah SAW menunjuk ke daerah Syam seraya mengatakan, “disinilah kalian semua akan dikumpulkan”.

2.      Kiamat Sughro
Kiamat Sughro seperti dipaparkan dalam Hadits dan Ayat Al-Qur an diatas yakni bahwa Rasulullah SAW mengatakan atas ketidak mampuannya dalam menjelaskan tentang kiamat. Namun beliau hanya menceritakan mengenai beberapa tanda-tanda kiamat yakni jika seorang budak wanita melahirkan seorang anak dari majikannya (dihamili tuannya),apabila yang tidak beralas kaki, telanjang, lagi pula sebagai pengembala kambing bermewah-mewahan di gedung yang serba megah dan beberapa tanda lain yang disebutkan dalam hadits.
                Dalam Ayat Al-Luqman Allah SWT men-Ta’ qidkan bahwa hanya ialah yang maha tahu akan hari kiamat tersebut. Manusia sedikitpun tidak akan pernah tahu pasti datangnya hari kiamat. Hal itu dikiaskan dari isi ayat yang menerangkan bahwa manusia tidak tahu apa yang akan terjadi esok dan dimana ia akan meninggal dunia.

KESIMPULAN

Hari kiamat merupakan Hari yang menadai berakhirnya kehiupan alam semesta. Namun hari kiamat tersebut tidak dijelaskan kepastian kapan datangnya di dalam Al-Qur an dan Hadits. Melainkan hanya dijelaskan mengenai beberapa tanda-tanda kiamat itu akan tiba.
            Beberapa tanda kiamat Sughro yang telah dibahas    :
1.      Budak Wanita melahirkan anak dari majikannya
2.      Nabi di utus sebagai Rasulallah di muka bumi
3.      Kematian yang selalu mengiringi kehidupan manusia
Beberapa tanda kiamat Kubro yang telah dibahas     :
1.      Terbitnya matahari dari arah Barat
2.      Munculnya binatang melata yang aneh
3.      Asap tebal
4.      Dajjal
5.      Gempa dahsyat (barat, timur dan jazirah arab)
6.      Turunnya Isa As
7.      Ya’juuj dan Ma’juuj
8.      Api yang menggiring manusia ke Makhsyar

DAFTAR PUSTAKA

-          Choiron A Marzuki, Qiamat Surga dan Neraka, Mitra Pustaka : Yogyakrta.
-          http://www.artikata.com/arti-335094-kiamat.html
-          Arsikum Al Mashudi, Drs. Sepuluh Peristiwa Besar Menjelang Kiamat Kubro, Al-Ihsan Media Utama : Jakarta.
-          Dr. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar. Kiamat Amat Dahsyat, Mitra Pustaka : Yogyakarta.
-          Maktabah Syamilah                                
-          Saqib Sayyid, Akidah Islam: Suatu Kajian yang Memposisikan Akal Sebagai Mitra Wahyu , Al-Ikhlas: Surabaya 1996

[1] Manshur Abdul Hakim, Kiamat: Tanda-Tandanya Menurut Islam, Kristen dan Yahudi,(Jakarta: Gema Insani, 2006) hlm. 25
[2] http://www.artikata.com/arti-335094-kiamat.html
[3] Arsikum Al Mashudi, Drs. Sepuluh Peristiwa Besar Menjelang Kiamat Kubro, Al-Ihsan Media Utama : Jakarta. Hal 43
[4] Dr. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar. Kiamat Amat Dahsyat, Mitra Pustaka : Yogyakarta. Hlm 3
[5] Choiron A Marzuki, Qiamat Surga dan Neraka, Mitra Pustaka : Yogyakrta. Hlm 43
[6] yang dimaksud dengan perkataan di sini ialah ketentuan datangnya masa kehancuran alam. salah satu dari tanda-tanda kehancuran alam ialah keluarnya sejenis binatang melata yang disebut dalam ayat ini.
[7] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.
[8] Sayyid Aqib, Akidah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas) hlm.254
[9] Choiron A Marzuki, Qiamat Surga dan Neraka, Mitra Pustaka : Yogyakrta. Hlm 54.

Nama wahabi bukan dari syi'ah tapi dari keluarganya sendiri

"Sebutan "Wahhabi" adala ciptaan sekte Syi'ah untuk menipu kaum muslimin sejak lama. Karenanya jangan heran jika anda Anti Syi'ah pasti akan disebut "Wahhabi"., begitulah petikan palsu yang dinisbatkan sebagai perkataan Dr. Zakir Naik dan tersebar di jejaring sosial facebook.








Zakir Naik adalah seorang pembicara umum Muslim India, dan penulis hal-hal tentang Islam dan perbandingan agama. Ia sering kali terlibat dalam debat antar perbandingan agama.

Tetapi sebagai pendebat perbandingan agama, ia kurang memberikan perhatian terhadap perbedaan yang ada didalam internal umat Islam. Ia tidak mampu / gagal membedakan antara firqah/iftiraq dan ikhtilaf yang ada dalam tubuh umat Islam. Dari segi pemahaman, ia lebih dekat kepada Wahabi.

Kegagalan memahami mana firqah dan madzhab, terbukti ketika ia mengatakan bahwa "Sayang sekali saat ini ada banyak kelompok muslim; Syi'ah, Sunni, Hanafi, Syafi'i, Hanbali, dan lain-lain, Termasuk group manakah Rasulullah?. Tidak ada Syi'ah dalam al-Qur'an"., dalam salah satu rekaman video dialognya.

Berkaitan dengan perkataan yang dinisbatkan kepada Dr. Zakir Naik diatas hanyalah hoax yang tidak jelas sumbernya. Sebaliknya, dalam banyak penjelasannya, Dr. Zakir Naik justru menafikan semua aliran dalam Islam, bahkan termasuk madzhab-madzhab fiqh.

BENARKAH SEBUTAN "WAHHABI" CIPTAAN SYI'AH?


Perkataan itu jelas hoax alias bohong besar
Hal itu hanya salah satu cara yang dilakukan Wahhabi untuk menolak sebutan Wahabi pada mereka, sekaligus salah satu cara membuat kesan seakan yang menyebut wahhabi adalah Syi'ah. Saat ini mereka sedang gencar-gencarnya menuduh syi'ah secara membabi buta kepada siapapun.

Banyak alasan yang digunakan Wahhabi untuk menolak sebutan Wahhabi, mulai dari nisbat yang dianggap salah, menghina salah satu nama Allah (Al-Wahhab), salah nisbat yang konon pendirinya adalah Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum, sampai konon katanya pencetus pertama nama Wahhabi adalah orientalis. Sekarang mereka buat kedustaan lagi dengan mengatakan pencipta nama Wahhabi adalah Syi'ah.

Siapa Yang Pertama Kali Memberi Sebutan "Wahhabi" ?


Yang pertama kali menyebut istilah Wahhabi adalah kakak kandung dari Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri yaitu

Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Najdi al-Hanbali.

   
Cover kitab pertama yang membantah ajaran Wahhabi




الصواعق الالهية في الرد على الوهابية تاليف الشيخ سليمان بن عبدالوهاب النجدي,  شقيق محمد بن عبدالوهاب

Ash-Shawaiq Al-Ilahiyah fir Raddi ala Wahhabiyyah / Petir-Petir Ilahi Dalam Membantah Paham Wahhabi, karya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Najdi, kakak dari Muhammad bin Abdul Wahhab.

Beliau menulis kitab berjudul al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi Raddi alal Wahhabiyah dalam rangka membantah dan meluruskan ajaran menyimpang adiknya itu.

Penamaan itu lalu dikuti oleh seluruh ulama Islam lainnya dalam membantah paham Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jadi, istlah / sebutan / penamaan Wahhabi bukan berasal dari Syi'ah, bukan berasal dari orang non-Islam, atau lainnya. Sebaliknya, berasal dari umat Islam, Ahlussunnah wal Jama'ah, pengikut madzhab Hanbali, dan dari keluarga sendiri yaitu Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab.

Pengkafiran terhadap kaum Muslimin terus dilakukan oleh ulama Wahhabi dewasa ini.

Dalam kitab Kaifa Nafhamu al-Tauhid, karangan Muhammad bin Ahmad Basyamil, disebutkan:

عَجِيْبٌ وَغَرِيْبٌ أَنْ يَكُوْنَ أَبُوْ جَهْلٍ وَأَبُوْ لَهَبٍ أَكْثَرَ تَوْحِيْدًا للهِ وَأَخْلَصَ إِيْمَانًا بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ يَتَوَسَّلُوْنَ بِاْلأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهِمْ إِلَى اللهِ. أَبُوْ جَهْلٍ وَأَبُوْ لَهَبٍ أَكْثَرُ تَوْحِيْدًا وَأَخْلَصُ إِيْمَانًا مِنْ هَؤُلاَءِ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ. (محمد بن أحمد باشميل، كيف نفهم التوحيد، ص/١٦).


“Aneh dan ganjil, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya kepada Allah dan lebih murni imannya kepada-Nya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang saleh dan memohon pertolongan dengan perantara mereka kepada Allah. Ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya dan lebih tulus imannya dari mereka kaum Muslimin yang mengucapkan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah.” (Muhammad bin Ahmad Basyamil, Kaifa Nafhamu al-Tauhid, hal. 16).


Belakangan, dari kaum Wahhabi tidak sedikit terlontar pernyataan tokoh-tokoh mereka yang menistakan generasi salaf secara parsial (juz’i). Contoh :

Syaikh Nashir al-Albani dalam fatwanya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari karena melakukan ta’wil terhadap ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Dalam kitab al-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu, al-Albani juga mencela Sayyidah ‘Aisyah, dan menganggapnya tidak mengetahui kesyirikan.

Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan al-Ghamidi, menganggap al-Imam al-Hafizh al-Lalika’i, pengarang kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, tidak bersih dari kesyirikan.

Demikian sekelumit contoh penistaan tokoh-tokoh Wahhabi terhadap generasi salaf dan para ulama terkemuka secara parsial.

Pendapat Para Ulama Madzhab Tentang Wahhabi

Ulama Madzhab Hambali


Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).


“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

Ulama Madzhab Syafi'i


Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata:

وَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/٥٤).

“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).

Ulama Madzhab Maliki


Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Demikian pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, yang menegaskan bahwa golongan Wahhabi termasuk Khawarij bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Tentu saja masih terdapat ratusan ulama lain dari madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menyatakan bahwa Wahhabi itu Khawarij dan tidak mungkin kami kutip semuanya.

Semoga semua jauh dari wahabi

Para Wali Allah Saling Mengenal di Alam Ruhani

Al Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
Mereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jalla akan saling mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.

Rasulullah adalah manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Beliau termasuk salah satu manusia yang telah kasyaf.

Kasyaf terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.
Mereka yang kasyaf dapat mengetahui atau mengenal siapa-siapa yang melakukan “perjalanan” kepada Sang Kekasih , Allah Azza wa Jalla. Inilah yang dikiaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan perkataannya yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”.
Bilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)

Dalam suatu riwayat. ”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”
Apa yang dilakukan oleh Bilal ra, selalu menjaga wudhunya atau selalu menjaga dalam keadaan bersuci adalah termasuk dzikrullah atau amal kebaikan atau perbuatan yang dilakukan bukan atas diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla namun atas kesadaran diri. Ini adalah salah satu bentuk memperjalankan diri kepada Allah ta’ala atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan cintaNya atau ridhoNya

Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan (amalan sunnah), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021).

Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”
Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajarkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Rasulullah shallallahu aliahi wasallam : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu aliahi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu aliahi wasallam
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )
Tentang derajat/tingkatan para Wali Allah telah diuraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/…/2011/09/28/maqom-wali-…/

Para Wali Allah (kekasih Allah) adalah mereka yang telah mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau mereka yang telah berma’rifat.
Mereka yang menjalankan tasawuf dalam Islam adalah mereka yang memperjalankan dirinya kepada Allah atau mereka yang berupaya untuk mencapai muslim yang ihsan atau berma’rifat

Apakah Ihsan ?

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php…

Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan

Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Muslim yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala
Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Jadi kalau ada yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf atau mengikuti tharikat atau mengaku-aku telah berma’rifat namun tidak menjalankan perkara syari’at seperti sholat lima waktu maka bisa dipastikan dia telah berdusta atau tharikat yang diikuti adalah thariqat palsu.
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits.

Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.

Nasihat Imam Syafi’i ra,
“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat, hakikat dan ma’rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Nasehat Imam Malik ra
“Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”
Wassalam

Mengapa terjadi mati mendadak?

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum.. apa benar jika seseorang mati / meninggal karena sebab kecelakaan itu termasuk husnul khotimah.

JAWABAN :
Hadis shoheh.“Tiada seorang muslim yang meninggal pada hari jumat atau malamnya kecuali Allah SWT akan menghindarkannya dari fitnah kubur". (HR.Ahmad).

ﻭﻓﻰ ﺍﻻﺣﻴﺎﺀ ﻟﻠﻐﺰﺍﻟﻰ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺍﻭ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﺟﺮ ﺷﻬﻴﺪ ﻭﻭﻗﻰ ﻓﺘﻨﺔ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺃﻯ ﻭﺫﺍﻟﻚ ﺑﺸﺮﻁoﺍﻻﻳﻤﺎﻥ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barang siapa yang meninggal di hari jum'at ataumalamnya, maka akan dihilangkan siksa kubur darinya) dan dalam Ihya'nya Al Ghazali Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barang siapa yang meninggal di hari jum'at atau malamjum'at, maka Allah Ta'ala akan mencatat baginya pahala syahid dan dan melindunginya dari fitnahkubur, yakni dan meninggalnya tersebut dengan syarat beriman (membawa iman). Tanqihul Qaul.
Salah 1 mati syahid akhirat adalah mati mendadak.

( ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ : ﺹ 160)

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ ﻓﻬﻮ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ ﻷﻧﻪ ﺇﻣﺎ ﺷﻬﻴﺪ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻓﻘﻂ ﻓﻬﻮ ﻛﻐﻴﺮ ﺍﻟﺸﻬﻴﺪ ﻭﺫﻟﻚ ﻛﺎﻟﻤﺒﻄﻮﻥ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻗﺘﻠﻪ ﺑﻄﻨﻪ ﺑﺎﻻﺳﺘﺴﻘﺎﺀ ﺃﻱ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﻣﺎﺀ ﺃﺻﻔﺮ ﻓﻴﻪ ﺃﻭ ﺑﺎﻹﺳﻬﺎﻝ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﻭﺇﻥ ﻋﺼﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺮﻕ ﺑﻨﺤﻮ ﺷﺮﺏ ﺧﻤﺮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﺑﺴﻴﺮﺳﻔﻴﻨﺔ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﻫﻴﺠﺎﻥ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺸﻬﻴﺪ ﻭﺍﻟﻤﻄﻌﻮﻥ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺯﻣﻦ ﺍﻟﻄﺎﻋﻮﻥ ﺃﻭ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻓﻲ ﺯﻣﻨﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻩ ﺣﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﺻﺎﺑﺮﺍ ﻣﺤﺘﺴﺒﺎ ﻭﺍﻟﻤﻴﺖ ﻋﺸﻘﺎ ﺑﺸﺮﻁ ﺍﻟﻜﻒ ﻋﻦﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ ﺣﺘﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺍﺧﺘﻠﻰ ﺑﻤﺤﺒﻮﺑﻪ ﻟﻢ ﻳﺘﺠﺎﻭﺯ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﺑﺸﺮﻁ ﺍﻟﻜﺘﻤﺎﻥ ﺣﺘﻰ ﻋﻦ ﻣﻌﺸﻮﻗﻪ ﻭﺍﻟﻤﻴﺘﺔ ﻃﻠﻘﺎ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺯﻧﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺘﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﺍﻟﻤﻘﺘﻮﻝ ﻇﻠﻤﺎ ﻭﻟﻮ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ ﻛﻤﻦ ﺍﺳﺘﺤﻖ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﺑﻘﻄﻊ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﻓﻘﺘﻞ ﺑﺎﻟﺘﻮﺳﻂ ﻣﺜﻼ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﺐ ﻭﺇﻥ ﻋﺼﻲ ﺑﻐﺮﺑﺘﻪ ﻛﺂﺑﻖ ﻭﻧﺎﺷﺰﺓ ﻭﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﻲ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻰﻓﺮﺍﺷﻪ ﻭﺍﻟﺤﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻤﻴﺖ ﺑﻬﺪﻡ ﻭﻛﺬﺍ ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻓﺠﺄﺓ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺮﻓﻌﺔ ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻤﺤﺪﻭﺩ ﺳﻮﺍﺀ ﺯﻳﺪ ﻋﻠﻰﺍﻟﺤﺪ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ﺃﻡ ﻻ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﺳﻠﻢ ﻧﻔﺴﻪ ﻻﺳﺘﻴﻔﺎﺀ ﺍﻟﺤﺪ ﻣﻨﻪ ﺗﺎﺋﺒﺎ ﺃﻡ ﻻ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﺸﺒﺮﺍﻣﻠﺴﻲ ﻭ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻟﻬﻢ ﺃﻧﻬﻢ } ﺃﺣﻴﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻬﻢ ﻳﺮﺯﻗﻮﻥ { ﺁﻝﻋﻤﺮﺍﻥ ﺍﻵﻳﺔ 169 ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﺤﺼﻨﻲ

(ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ : ﺹ147)
ﻭﻣﻦ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻋﺮﻕ ﺍﻟﺠﺒﻴﻦ ﻭﺫﺭﻑﺍﻟﻌﻴﻦ ﻭﺍﻧﺘﺸﺎﺭ ﺍﻟﻤﻨﺨﺮﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺳﻠﻤﺎﻥ ﺍﻟﻔﺎﺭﺳﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﺭﻗﺒﻮﺍ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻋﻨﺪﻣﻮﺗﻪ ﺛﻼﺛﺎ ﺇﻥ ﺭﺷﺢ ﺟﺒﻴﻨﻪ ﻭﺫﺭﻓﺖ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻭﺍﻧﺘﺸﺮ ﻣﻨﺨﺮﺍﻩ ﻓﻬﻮ ﺭﺣﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﻧﺰﻟﺖ ﺑﻪ ﻭﺇﻥ ﻏﻂ ﻏﻄﻴﻂ ﺍﻟﺒﻜﺮ ﺍﻟﻤﺨﻨﻮﻕ ﻭﺃﺧﻤﺪ ﻟﻮﻧﻪ ﻭﺃﺯﺑﺪ ﺷﺪﻗﺎﻩ ﻓﻬﻮ ﻋﺬﺍﺏ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺣﻞ ﺑﻪ ﻭﻗﺪ ﺗﻈﻬﺮ ﺍﻟﻌﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺜﻼﺙ ﻭﻗﺪ ﺗﻈﻬﺮ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺃﻭ ﺛﻨﺘﺎﻥ ﺑﺤﺴﺐ ﺗﻔﺎﻭﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻼﻣﺔ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﺔ ﻓﺘﻮﻓﻴﻘﻪ ﻟﻠﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻟﻄﺎﻗﺔ 


Kematian Datang Tanpa Diundang

Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya.
Namun satu kepastian bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan. Allah Ta'ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)

Setelah kematian maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.

"Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."(QS.Al-A'raf:35)

Sedangkan orang yang kafir dan ingkar terhadap kebenaran Islam, "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."(QS.Al-A'raf:36)

Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman

Kasus Meninggal mendadak seperti yang terjadi pada Adjie Massaid sudah atau sering kita dengar dalam keseharian kita.

Dan di akhir zaman, jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah.
Dalam kitabnya tersebut, Yusuf al-Wabil menyebutkan bahwa kematian yang datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu,

إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ . . . أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجْأَةِ

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)

Fenomena kematian mendadak ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang. Orang yang sebelumnya sehat bugar, -beraktifitas seperti biasa, atau bahkan berolah raga sepak bola, futsal, badminton dan semisalnya- tiba-tiba ia terjatuh lalu meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung. Bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang banyak menyebabkan kematian pada saat ini.

Dalam hadits di atas terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada beliau.

Rasanya orang yang hidup pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah membayangkan akan datangnya zaman yang merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu ilahi yang menyingkap fenomena ini.

Maksud Kematian Mendadak

Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi sebelumnya.
Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang tanpa memberi peringatan.
Para ulama mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Imam al-Bukhari dalam shahihnya membuat sebuah bab,

بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ

"Bab kematian yang datang tiba-tiba".

Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin 'Ubadah radliyallah 'anhu ketika berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)

. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.

Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama

Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i. Imam al-Nawawi menukil bahwa sejumlah sahabat Nabishallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan, "Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)." (Lihat (Fathul Baari: III/245)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)

Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi seorang mukmin tidak layak dicela.

Dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu, dia berkata,

موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر

"Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir."

Ini adalah lafadz Abdul Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no. 8865)

Dari Aisyah radliyallah 'anha, berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,

رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ

"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah radliyallah 'anhuma, keduanya berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang dzalim." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al Kubra III/379 secara mauquf).

Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya.

Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda, "Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?" Beliau menjawab,

الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)

Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir merupakan kabar gembira bagi hamba Allah. Mereka akan terbebas dari gangguannya. Di antara gangguannya adalah kedzalimannya terhadap mereka, kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya. Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak mengairinya.

"Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ibnu Mas'ud

Menyikapi Kematian Mendadak

Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan oleh orang yang terpercaya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka sepantasnya ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.

Imam al-Bukhari pernah berkata,
Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang.
Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba
Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar
Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba

Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita mempersiapkan diri dengan bersegera menyambut seruan Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan perintah Allah yang paling utama adalah memurnikan tauhid kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik dalam masalah ibadah dan pengabdian, juga dalam masalah ketaatan dan ketundukan kepada syariat-Nya.

Sesungguhnya kematian akan tetap datang ke manapun kita lari dan di manapun kita sembunyi. Tidak ada kekuatan di alam raya yang bisa melawan ketetapan ilahi ini. Dan setelah kematian, setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di dunia. Maka bertakwalah kepada Allah, Wahai hamba-hamba Allah! Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal ketika kematian datang dan minta diberi kesempatan untuk beramal. Sesungguhnya ajal tidak bisa ditangguhkan dan tidak bisa ditunda barang sesaat.

Ketahuilah! sesungguhnya dunia ini terus berjalan ke belakang meninggalkanmu, dan akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan ke alam Barzah. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.

Maka seandainya setelah mati, kamu dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Namun. jika kamu telah mati, kamu pasti dibangkitkan dan akan ditanya tentang segala sesuatu, lalau diberi balasan dari setiap perbuatan. Kalau seperti itu, maka kematian merupakan sesuatu yang menakutkan dan menghawatirkan.

Bukan Hanya Tiga Amal yang Terus Mengalir Ketika Mati
syarh_shudrKita sering mendengar para muballigh atau penceramah yang mengatakan bahwa tidak ada lagi amal yang bermanfaat bagi seseorang setelah kematiannya, kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya. Hal ini berdasarkan hadits berikut,

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مات الإنسانُ انقطعَ عملُه إلا من ثلاثٍ: صدقةٍ جاريةٍ، أو علمٍ يُنْتفعُ بهِ، أو ولدٍ يدعو له (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika manusia mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Padahal, hadits tersebut hanyalah sekedar menyebut jumlah, tidak bermaksud membatasi hanya pada tiga amal tersebut. Dalam hadits-hadits lain, kita akan temukan bahwa selain tiga amal tersebut, masih banyak amal lain yang tetap mengalir kepada orang yang sudah mati setelah kematiannya.

Dalam kitab Syarh as-Shudur, Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan hadits-hadits lain yang menyebut lebih dari tiga amal tersebut. Berikut adalah hadits-hadits yang dimaksud.

عن أبي أمامة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: أربعةٌ تجري عليهم أجورهم بعد الموت: مرابطٌ في سبيل الله، ومن علّم علما، ورجلٌ تصدّق بصدقة، فأجرها له ما جرت، ورجل ترك ولدا صالحا يدعو له (رواه أحمد)

Dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 4 golongan yang senantiasa mengalir pahala kepada mereka setelah meninggal dunia, yaitu: orang yang berjaga untuk berjihad di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang berrsedekah jariah, dan orang yang meninggalkan anak shalih yang berdoa untuknya’. (Riwayat Ahmad)

عن جرير بن عبد الله مرفوعا: من سنّ سنّة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء، ومن سنّ سنّة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء (رواه مسلم)

Dari Jarir bin Abdullah secara marfu’, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang baik, maka ia mendapatkan pahala rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula pahala orang yang melanjutkan tradisi baik tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut. Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang jelek, maka ia maka ia mendapatkan dosa rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula dosa orang yang melanjutkan tradisi jelek tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut’ (Riwayat Muslim)

عن أبي سعيد الخدري مرفوعا: من علّم آيةً من كتاب الله أو بابا من علم أنمى الله أجره إلى يوم القيامة (رواه أبن عساكر)

Dari Abu Sa’id al-Khudry secara marfu’, Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah atau satu pembahasan dari suatu ilmu, maka akan mengembangkan pahalanya sampai hari Kiamat’ (Riwayat Ibnu Asakir)

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أن مما يلحق المؤمن من حسانته بعد موته: علما نشره، أو ولدا صالحا تركه، أو مصحفا ورّثه، أو مسجدا بناه، أو بيتا لإين السبيل بناه، أو نهرا أجراه، أو صدقةً أخرجها من ماله في صحته تلحقه بعد موته (رواه أبن ماجة وابن خزيمة)

Abu Hurayrah menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di antara amal kebaikan orang beriman yang akan mengalir kepadanya setelah kematianny adalah: ilmu yang disebarluaskannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf al-Quran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah singgah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkannya semasa sehatnya. Semua itu akan mengalir baginya setelah kematiannya’ (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سبعٌ يجري للعبد أجرها بعد موته وهو في قبره: من علّم علما، أو أجرى نهرا، أو حفر بئرا، أو غرس نخلا، أو بنى مسجدا، أو ورّث مصحفا، أو ترك ولدا يستغفر له بعد موته (رواه البزار وأبو نعيم)

Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 7 hal yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba setelah kematiannya dan ia berada di kuburnya, yaitu: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali/membuat sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf al-Quran, dan meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya’ (Riwayat al-Bazzar dan Abu Nu’aim)

عن ثوبان، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كنت نهيكم عن زيارة القبور فزوروها، واجعلوا زيارتكم لها صلاةً عليهم، واستغفارا لهم (رواه الطبراني)

Tsauban menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Dulu aku pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, maka sekarang lakukan ziarah kubur. Jadikan ziarah kubur kalian itu sebagai kesempatan untuk mendoakan mereka sekaligus permohonan ampunan bagi mereka’ (Riwayat at-Thabrani)

Jika kita gabungkan informasi semua hadits tersebut, maka kita dapatkan bahwa ada 13 amal yang pahalanya tetap mengalir setelah kematian, sebagai berikut:
1. Sedekah jariah
2. Ilmu yang bermanfaat buat orang lain
3. Doa (permohonan ampun) anak setelah kematian seseorang.
4. Berjaga untuk jihad di jalan Allah
5. Merintis suatu tradisi yang baik
6. Pelestarian tradisi yang baik oleh generasi berikut
7. Mewariskan mushaf al-Quran
8. Membangun masjid
9. Membangun rumah singgah untuk ibnu sabil
10. Mengalirkan sungai
11. Membuat sumur
12. Menanam pohon kurma (atau pohon lain yang buahnya/hasilnya dapat dinikmati oleh orang lain atau binatang)
13. Doa dan permohonan ampun dari peziarah kubur kepada penghuni kubur.

Jadi, amal yang pahalanya akan terus mengalir setelah kematian bukan hanya tiga.

Apakah tanda husnul khatimah atau su’ul khatimah?


Kematian mendadak bukan tanda keduanya, karena kematian mendadak bisa menimpa seorang muslim ataupun kafir. Akan tetapi kematian mendadak bisa jadi bentuk nikmat dari Allah kepada seorang mukmin.

Dari ‘Aisyah bahwasanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر


“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir”[HR. Ahmad dan Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya]

Para ulama berkata,

جاء في بعض الأحاديث ما يدل على أن موت الفجأة يكثر في آخر الزمان، وهو أخذة غضب للفاجر، وراحة للمؤمن، فقد يصاب المؤمن بموت الفجأة بسكتة أو غيرها ويكون راحة له ونعمة من الله عليه؛ لكونه قد استعد واستقام وتهيأ للموت واجتهد في الخير فيؤخذ فجأة وهو على حال طيبة على خير وعمل صالح، فيستريح من كرب الموت وتعب الموت ومشاق الموت، وقد يكون بالنسبة إلى الفاجر قد يقع هذا بالنسبة إلى الفجار وتكون تلك الأخذة أخذة غضب عليهم، فوجؤوا على شر حال.

“Pada sebagian hadits terdapat dalil mengenai kematian medadak yang akan banyak pada akhir zaman. Yaitu penyesalan bagi orang fajir dan istirahat bagi orang mukmin. Terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika, ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih. Maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut. Terkadang juga menimpa orang fajir, maka ini menjadi penyesalan baginya, meninggal mendadak dalam keadaan buruk”

Di zaman ini, banyak kita temui beberapa kasus orang mati mendadak. Pagi harinya kita berbincang-bincang hangat dengan dia, sore harinya tiba-tiba datang berita kematiannya dengan tiba-tiba. Atau seseorang yang sedang tersenyum di depan kita, tiba-tiba memagang dada agak kesakitan kemudian tergeletak dan tidak bangun lagi untuk selamanya. Atau kasus pemain bola yang sangat lincah, berlari dengan kencang , tiba-tiba terduduk diam kemudian ia tidak akan lari lagi untuk selamanya.

Penyebab kematian mendadak dan cepat juga banyak ditemui di zaman ini. Wabah mematikan, penyakit serangan jantung, stroke dan lain-lain. Ini merupakan salah satu tanda akhir zaman.

Hadits mengenai hal ini

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salla, bersabda,

إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ …أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ


“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah…munculnya kematian mendadak.” [HR. Thabrani; Dhiya’ Al-Maqdisi]

Bahkan kematian mendadak juga menimpa hewan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [HR. Al-Bukhari no. 3176]