Jumat, 30 Mei 2014

Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh

Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh dalam Aswaja
Karakter Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh dalam Aswaja
30/03/2009
Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya:

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama'ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir'aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, "Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir'aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah". (Tafsir al-Qur'anil 'Azhim, juz III hal 206).

Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut: (Lihat Khitthah Nahdliyah, hal 40-44)

1. Akidah.
a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil naqli.
b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.
c. Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik, bid'ah apalagi kafir.

2. Syari'ah
a. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits dengan menggunanakan metode yang dapat dipertanggung­jawabkan secara ilmiah.
b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang tidak ada nash yang je1as (sharih/qotht'i).
c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni).

3. Tashawwuf/ Akhlak
a. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
b. Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.
c. Berpedoman kepada Akhlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu' (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan (antara kikir dan boros).

4. Pergaulan antar golongan
a. Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok berdasarkan unsur pengikatnya masing-masing.
b. Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.
c. Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan menghargai.
d. Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi agama Islam.

5. Kehidupan bernegara
a. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indanesia) harus tetap dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen bangsa.
b. Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
c. Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang sah.
d. Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka mengingatkannya dengan cara yang baik.

6. Kebudayaan
a. Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan hukum agama.
b. Kebudayaan yang baik dan ridak bertentangan dengan agama dapat diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus ditinggal.
c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya lama yang masih relevan (al-­muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).

7. Dakwah
a. Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
b. Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.
c. Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sasaran dakwah.


KH Muhyidin Abdusshomad
Pengasuh Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

SOURCE: nu.or.id

Khawārij (Kaum Khawarij)

Khawārij (bahasa Arab: خوارج baca Khowaarij, secara harfiah berarti "Mereka yang Keluar") ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya. Pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di daerah yang kini ada di Irak selatan, dan merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi'ah.

Disebut atau dinamakan Khowarij disebabkan karena keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin. (Fat, juz 12 hal. 283)

Awal keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslimin yaitu pada zaman Amirul Mu'minin Al Kholifatur Rosyid Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه ketika terjadi (musyawarah) dua utusan. Mereka berkumpul disuatu tempat yang disebut Khouro (satu tempat di daerah Kufah). Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah. (Mu'jam Al-Buldan li Yaqut Al-Hamawi juz 2 hal. 245)

Asal muasal khawarij: Setelah Utsman bin Affan dibunuh oleh orang-orang khawarij, kaum muslimin mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, setelah beberapa hari kaum muslimin hidup tanpa seorang khalifah. Kabar kematian 'Ustman kemudian terdengar oleh Mu'awiyyah bin Abu Sufyan, yang mana beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan 'Ustman bin Affan. Sesuai dengan syari'at Islam, Mu'awiyyah berhak menuntut balas atas kematian 'Ustman. Mendengar berita ini, orang-orang Khawarij pun ketakutan, kemudian menyusup ke pasukan Ali bin Abi Thalib. Mu'awiyyah berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan 'Ustman harus dibunuh, sedangkan Ali berpendapat yang dibunuh hanya yang membunuh 'Ustman saja karena tidak semua yang terlibat pembunuhan diketahui identitasnya. Akhirnya terjadilah perang siffin karena perbedaan dua pendapat tadi. Kemudian masing-masing pihak mengirim utusan untuk berunding, dan terjadilah perdamaian antara kedua belah pihak. Melihat hal ini, orang-orang khawarijpun menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari pasukan Ali bin abi Thalib. Mereka ( Khawarij ) merencanakan untuk membunuh Mu'awiyyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, tapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib.

Ajaran

Secara umum, ajaran-ajaran pokok golongan ini adalah:

* Kaum muslimin yang melakukan dosa besar adalah kafir.
* Kaum muslimin yang terlibat dalam perang Jamal, yakni perang antara Aisyah, Thalhah, dan Zubair melawan 'Ali ibn Abi Thalib dan pelaku arbitrase (termasuk yang menerima dan membenarkannya) dihukumi kafir.
* Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi Muhammad SAW dan tidak mesti keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan manapun bisa menjadi kholifah asalkan mampu memimpin dengan benaR


Tokoh utama

Tokoh-tokoh utama Khawarij antara lain:

* 'Abdullah bin Wahhab ar-Rasyidi
* Urwah bin Hudair
* Mustarid bin Sa'ad
* Hausarah al-Asadi
* Quraib bin Maruah
* Nafi' bin al-Azraq
* 'Abdullah bin Basyir
* Najdah bin Amir al-Hanafi


Sekte

Akibat perbedaan pendapat di antara tokoh-tokohnya, Khawarij terpecah menjadi beberapa sekte, antara lain:

* Sekte Muhakkimah, yang merupakan sekte pertama, yakni golongan yang memisahkan diri dari 'Ali bin Abi Thalib.
* Sekte Azariqoh yang lebih radikal, sebab orang yang tidak sepaham dengan mereka dibunuh.
* Sekte Najdat yang merupakan pecahan dari sekte Azariqoh.
* Sekte al-Ajaridah yang dipimpin 'Abd Karim bin Ajrad, yang dalam perkembangannya terpecah menjadi beberapa kelompok kecil seperti Syu'aibiyyah, Hamziyyah, Hazimiyyah, Maimuniyyah, dll.

Perpecahan itulah yang menghancurkan aliran Khawarij. Satu-satunya yang masih ada, Ibadi dari Oman, Zanzibar, dan Maghreb menganggap dirinya berbeda dari yang lain dan menolak disebut Khawarij.


Rujukan

* Hamid, Syamsul Rijal. 2002. Buku Pintar Agama Islam: Edisi Senior. Bogor: Penebar Salam

* AL-FARQU BAINAL FIRAQ

MUKTAZILAH (Kaum Muktazilah)

Muktazilah (bahasa Arab: المعتزلة al-mu`tazilah) adalah satu dari cabang pemikiran dalam Islam yang terkenal dengan sifat rasional dan liberal. Ciri utama yang membezakan pemikiran ini dari pemikiran teologi Islam lainnya adalah pandangannya yang lebih banyak menggunakan dalil 'aqliah (akal) sehingga sering disebut sebagai aliran rasionalis Islam.
Perkataan Muktazilah berasal dari bahasa Arab إعتزل (iʿtazala) yang bermaksud "meninggalkan", "menjauhkan diri".

Sejarah perkembangan

Pemikiran Muktazilah mula bertapak pada kurun kelapan Masehi (abad kedua hijrah) di Basrah, Iraq, apabila Wasil ibn Ata meninggalkan kelas pembelajaran Hasan al-Basri selepas berselisih faham mengenai isu Al-Manzilah bayna al-Manzilatayn (akan diterangkan kemudian). Beliau dan pengikutnya termasuk Amr ibn Ubayd kemudiannya dilabelkan sebagai Muktazili/Mu'tazili. Golongan ini juga menggelar diri mereka sebagai Ahl al-Tawhid wa al-'Adl (golongan tauhid dan keadilan Tuhan) berdasarkan ideologi yang mereka perjuangkan di antaranya mahukan sistem Islam yang berdasarkan akal. Mereka juga dilabel sebagai golongan free will dan free act, kerana mereka berpegang kepada prinsip kebebasan melakukan sesuatu.

Ketika pertama kali muncul, pemikiran Muktazilah tidak mendapat simpati umat Islam, terutama di kalangan masyarakat awam kerana mereka tidak begitu memahami ajaran Muktazilah yang bersifat rasional dan sarat dengan falsafah. Alasan lain mengapa pemikiran ini kurang mendapat sokongan umat Islam pada saat itu adalah kerana pemikiran ini dianggap tidak selari dengan sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat.

Muktazilah bergantung kepada beberapa aspek pemikiran dari falsafah Islam, Greek dan Helenistik.

Aliran Muktazilah berkembang di kalangan golongan intelek semasa pemerintahan Khalifah al-Ma'mun dari dinasti Abbasiyah (198-218 H/813-833 M). Kedudukan Muktazilah semakin kukuh setelah Khalifah al Ma'mun menjadikannya sebagai mazhab rasmi negara. Dikatakan Khalifah al Ma'mun sejak kecilnya sudah dididik dalam tradisi Yunani yang gemar dengan falsafah dan ilmu pengetahuan.[1]

Dan pada zaman itulah golongan muktazilah memaksakan pemikirannya yang dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihnah (fahaman bahawa al-Quran itu makhluk Allah, jadi tidak qadim. Jika al-Quran dikatakan qadim, maka akan timbul kesimpulan bahawa ada yang qadim selain Allah).
[sunting] Ajaran asas

Muktazilah mempunyai lima ajaran asas iaitu:

1. Al-Tauhid التوحيد:
* Muktazilah percaya kepada Tauhid iaitu Tuhan itu satu. Mereka berbeza dari majoriti Muslim dalam menerangkan tentang konsep Tauhid supaya selari dengan wahyu dan akal. Contohnya majoriti mazhab dalam Islam menghadapi kesulitan dalam menerangkan sifat Tuhan tanpa menyamakanNya dengan perwatakan manusia (anthropomorphic) atau tidak menerangkan langsung maksud tersebut seperti yang tertulis dalam wahyu.[2] Muktazilah mengatakan sifat Tuhan adalah tidak berbeza dari zatNya. Dengan kata lain, Tuhan itu Maha Mengetahui, tetapi Tuhan itu Maha Mengetahui kerana zatNya bukannya kerana Ia mempunyai pengetahuan yang terasing dari diriNya. Konsep Tauhid ini diterangkan dalam hasil kerja cendekiawan Muktazilah, hakim agung Abd al-Jabbar ibn Ahmad.[3]
* al-Qur'an ialah makhluk.
* Tuhan di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala[4]:
"قال رب أرنى أنظر إليك قال لن ترانى"
yang bermaksud:
“Maka Nabi Musa berkata: Wahai Tuhan ku perlihatkanlah kepadaku zat Mu yang Maha Suci supaya aku dapat memandang kepada Mu, Allah menjawab: Engkau tidak sekali-kali dapat melihat Ku”
Mereka menafikan penglihatan itu berdasarkan kepada tafsiran mereka akan perkataan “لن” yang menafikan masa sekarang dan akan datang.
2. Al-'Adl العدل - Keadilan Tuhan. Dalam menghadapi masalah kewujudan kejahatan di dunia, Muktazilah percaya kepada free will (kebebasan manusia). Kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang berlaku kerana kesalahan manusia dalam melakukan sesuatu. Muktazilah tidak menafikan kewujudan kezaliman ke atas manusia kerana ini terjadi disebabkan manusia itu menyalah gunakan free will (kebebasan) yang diberi Tuhan. Dalam menerangkan hal ini, Muktazilah bergantung kepada doktrin taklif - iaitu hidup ini adalah ujian Tuhan kepada manusia yang diberikan akal fikiran untuk memilih yang baik dan buruk.
Pada hari Kiamat nanti, mereka akan dihukum Tuhan atas segala nikmat yang mereka perolehi dan tanggungjawab yang diamanahkan semasa mereka di dunia. Sekiranya mereka ini menyalah gunakan akal fikiran yang diberi Tuhan, mereka akan dihukum di neraka. Ini kerana Tuhan telah bersikap adil dalam menjelaskan jalan yang lurus dan jalan yang sesat dalam kitab suciNya.
3. Al-Wa'd wa al-Wa'id الوعد و الوعيد - Janji dan amaran. Mereka berpendapat Tuhan tidak akan mungkir janji iaitu memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi azab seksa pada muslimin yang jahat pada hari Kiamat nanti.
4. Al-Manzilah bayna al-Manzilatayn المنزلة بين المنزلتين - Posisi pertengahan. Pendapat ini dicetuskan Wasil ibn Ata yang membuatnya berpisah dari gurunya Hasan al-Basri, bahwa mukmin berdosa besar dan tidak bertaubat, dia bukan mukmin (beriman) tetapi juga bukan kafir (tidak beriman), statusnya boleh dipanggil fasik. Mereka ini boleh dikebumikan sebagai Muslim, didoakan dan mengahwini Muslim. Hanya Tuhan yang akan menentukan di neraka mana mereka ditempatkan kerana neraka itu mempunyai banyak tingkat untuk semua golongan.
Imam Hasan al-Basri berpendapat muslim berdosa besar masih seorang mukmin sementara golongan Khawarij mengatakan mereka kafir.
5. Al-amr bil ma'ruf wa al-nahy 'an al munkar الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر - menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran. Menyeru kebaikan terdapat dua jenis, satu yang wajib seperti tanggangjawab agama (al-faraid) apabila seseorang meninggalkannya (dayya'aha) dan yang sunat (al-nafila) apabila seseorang meninggalkannya (tarakaha). Dan bagi melarang kemungkaran, ia wajib kerana kemungkaran itu adalah salah (qabih). Jika boleh, melarang kemungkaran itu mestilah jalan yang tidak menyusahkan atau menjadikan kemungkaran itu tidak begitu teruk, dengan matlamat supaya kemungkaran itu tidak berlaku langsung.
Tafsiran Muktazilah berbeza dengan tafsiran ulama’-ulama’ ahli as-sunnah wal-jamaa’h. Di mana muktazilah berpendapat bahawa menyuruh kepada perkara yang ma’ruf dan mencegah perkara kemungkaran mestilah dengan hati terlebih dahulu, kemudian dengan lidah, kemudian dengan tangan dan sekiranya tidak mencukupi dengan lidah dan tangan maka dengan menggunakan pedang. Mereka tidak membezakan antara yang berkuasa dengan tidak berkuasa. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala[5]:
"وإن طائفان اقتلوا فأصلحوا بينهما فإن بغت احدهما على الأخرى فقاتلوا التى تبغى حتى تفىء إلى أمر الله " yang bermaksud:
"Dan jika dua puak dari orang yang beriman berperang maka damaikanlah di antara keduanya dan jika salah satu di antara keduanya berlaku zalim terhadap yang satu lagi maka lawanlah puak yang zalim itu sehingga ia kembali mematuhi perintah Allah."

[sunting] Akal dan wahyu

Golongan Muktazilah mempunyai teori sendiri tentang akal, wahyu dan hubungan di antara keduanya. Mereka menghargai kekuatan akal dan intelek manusia. Bagi golongan ini, akal manusia membawa mereka mengenali Tuhan, sifatNya dan akhlak. Apabila pengetahuan asas ini dan kebenaran Islam dan wahyu al-Quran dicapai, akal dan kitab suci akan menjadi sumber utama kepada panduan dan ilmu pengetahuan orang Islam. Harun Nasution dalam Muktazilah dan Falsafah Rasional (1997), berhujah penggunaan meluas rasionaliti oleh Muktazilah dalam memajukan pandangan agama mereka dengan menulis: "Adalah tidak menghairankan penentang Muktazilah seringkali menuduh Muktazilah sebagai manusia yang tidak memerlukan wahyu, bahawa bagi mereka semuanya boleh diketahui dengan akal, dan terdapat konflik di antara akal dan wahyu, bahawa mereka berpegang kepada akal dan meninggalkan wahyu, dan Muktazilah tidak mempercayai wahyu. Tetapi adakah benar Muktazilah berpendapat semuanya boleh diketahui melalui akal dan oleh itu wahyu tidak diperlukan? Tulisan-tulisan golongan Muktazilah menunjukkan sebaliknya. Pada pendapat mereka, akal manusia tidak cukup kuat untuk mengetahui segalanya dan kerana itu manusia memerlukan wahyu untuk sampai kepada kesimpulan berkenaan apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk mereka."

Posisi Muktazilah tentang peranan akal dan wahyu diterangkan dengan baik oleh Abu al-Hasan al-Ash'ari (wafat 324 selepas hijrah/935M), seorang ahli teologi mazhab Ash'ari, dengan mengaitkannya kepada sarjana Muktazilah Ibrahim al-Nazzam (wafat 231 selepas hijrah/845M):

“ كل معصية كان يجوز أن يأمر الله سبحانه بها فهي قبيحة للنهي، وكل معصية كان لا يجوز أن يبيحها الله سبحانه فهي قبيحة لنفسها كالجهل به والاعتقاد بخلافه، وكذلك كل ما جاز أن لا يأمر الله سبحانه فهو حسن للأمر به وكل ما لم يجز إلا أن يأمر به فهو حسن لنفسه ”


[sunting] Tokoh Muktazilah

Tokoh-tokoh Muktazilah yang terkenal ialah:

1. Wasil bin Ata, lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.
2. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun lima ajaran asas Muktaziliyah.
3. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.
4. Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab al-Jubba’i (849-915 M).

Meskipun Muktazilah tiada lagi, namun pemikiran rasionalnya sering dibahas cendekiawan muslim dan bukan muslim.
[sunting]

Dzikir Sambil Geleng Geleng Kepala

image
Salah satu dzikir yang paling utama adalah kalimat La ilaha Illallah/ لاإله إلاالله yang artinya tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah swt. Begitulah pesan Rasulullah saw kepada Sayyidina Ali Karramallahu Wajahah, ketika beliau secara pribadi memohon agar diberikan dzikir khusus yang lebih berat dari dunia seisinya, dan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah swt.
Maka Rasulullah saw pun menjawab,”Jangan begitu Saudaraku Ali, bahwa ucapan yang paling utama yang aku ucapkan dan juga diucapkan nabi-nabi sebelumku adalah La ilaha Illallah
”أفضل ماقلت أنا والنبيون من قبلي لاإله إلاالله
Demikianlah Rasulullah saw memberikan ijazah dzikir لاإله إلاالله kepada sayyidina Ali yang kemudian diturunkan kepada para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in hingga kepada kita semua. Karena sesungguhnya kalimat لاإله إلاالله menyimpan berbibu hikmah bahkan juga dunia seisinya.
Dalam salah satu hadits riwayat sahabat Anas disebutkan
مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَمَدَّهَا هُدِمَتْ لَهُ أَرْبَعَةُ آلافِ ذَنْبٍ مِنَ الْكَبَائِرِ“
Sesungguhnya barang siapa membaca kalimat Tauhid لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan memanjangkannya, maka baginya akan dihapus empat ribu macam dosa besar”.
Pada saat itu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana apabila satupun dia tidak memiliki dosa besar ?”, Rasulullah menjawab ; “Maka yang dihapuskan empat ribu macam dosa besar adalah keluarga dan para tetangganya”.
Diantara ajaran para ulama ketika membaca panjang kalimat Tauhid, adalah memanjangkan kata LA sambil kepala berpaling ke sebelah kanan dan hati menghayati artinya yaitu “tidak ada”. Dan Ketika melafalkan ILAHA sambil kepala bergerak ke bagian tengah dan hati menghayati artinya yaitu “Tuhan yang wajib disembah”. Kemudian ktika melafalkanILLALLAH sambil kepala berpaling kesebalah kiri dan hati menghayati artinya yaitu “melainkan Allah”.
Dan yang penting diperhatikan juga adalah menyambung kalimat tauhid tersebut dengan kalimat  مُحَمَّدُ رَسُوْلُ اللهِ  di dalam hati serta menghayati artinya yaitu “Muhammad adalah utusan Allah”. Hal ini untuk membedakan cara membaca kalimat Tauhid umat Rasulullah Muhammad saw dengan umat terdahulu.
Sebenarnya berdzikir dengan kalimat tauhid ini tidak hanya dianjurkan kepada umat Muhammad saw saja, tetapi juga umat para nabi terdahulu. Sebuah cerita menggambarkan hal ini diriwayatkan dari Wahab bin Manbah.
 عن وهب بن منبه رضي الله عنه قال قرأت في آخر زبور داود عليه الصلاة والسلام ثلاثين سطرا يا داود هل تدرى أي المؤمنين أحب إلى أن أطيل حياته الذي إذا قال لا إله إلا الله اقشعر جلده وإني أكره لذلك الموت كما تكره الوالدة لولدها ولابد له منه انى أريد ان أسره في دار سوى هذه الدار فان نعيمها بلاء ورخاءها شدة فيها عدولا يألوهم خبالا يجرى منهم مجرى الدم من أجل ذلك عجلت أوليائي إلى الجنة لولا ذلك لما مات أدم عليه السلام وولده حتى ينفخ
Diriwayatkan dari Wahab bin Manbah bahwa dia pernah berkata “aku telah membaca tiga puluh baris terakhir dari kitab zaburnya Nabi Daud as. (di dalamnya diterangkan) Allah berfirman kepada Nabi Daud “apakah kau tahu orang mukmin yang paling aku inginkan untuk ku panjangkan umurnya?” Nabi Dawud menjawab “tidak tahu”.
Kemudian Allah menjelaskan “yaitu orang mu’min yang jika membaca kalimat tauhid akan merinding bulu-bulanya. Dan aku sangat membenci (tidak ingnkan) orang mu’min seperti itu lekas mati, seperti orang tua yang tidak rela anaknya mati. Sesungguhnya aku ingin sekali menyenangkannya di rumah yang bukan rumah ini (fana = dunia). Karena kenikmatan di dunia ini merupakan cobaan, dan kemewahan-kemewahan itu hanyalah kesengsaraan. Di samping itu di dunia banyak musuh yang mondar-mandir terus mengalir menyelebunginya seperti aliran darah yang mengajak pada kerusakan.
Oleh karena itu aku segerakan mereka para kekasihku (mati lalu) masuk ke surgaku. Andaikata tidak demikian, niscaya tidak akan mati Nabi adam dan anak cucunya hingga ditiupnya  sangka kala.      
Demikianlah posisi pentingnya kalimat tauhid لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  bagi seorang mu’min, ia tidak sekedar sebagai kalimat pengakuan keesaan Allah swt, akan tetapi juga sebagai kunci menuju kesuksesan hidup di akhirat nanti. Sebagaimana janji Allah yang dijelaskan kepada Nabi Dawud as. Karena itulah dikatakan   مفتاح الجنة لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ bahwa pintu surga adalah la ilaha illallah. (red. Ulil.H)

Cara Bertemu Dengan Ruh Orang Sahalih

Cara bertemu dengan Ruh Orang Shalih

Abu ‘Abdullah Ibnu Al Qoyyim Syamsuddin Muhammad bin Abu Abakar bin Ayyub bin Sa’d Al Zar,iy/Al Zur,iy adalah tokoh dari Madzhab Hanbali yang menururut Syaikh Ibnu Katsir adalah seorang yang yang menjalankan Sholat dengan panjang, beliau memanjangkan dan berlama lama dalam bersujud. Bahkan Syaikh Ibnu Rojab sangat menyanjung beliau ini dengan sanjungan yang sangat Ghluw (jika diukur dengan pola pikir Salafi/Wahhabi), sebab Ibnu Rojab berkata tentang beliau: “Beliau tidaklah Ma’shum, tetapi tak ada ungkapan yang lebih tepat dari itu, sebab saking kuatnya Ibadah beliau” (Sumber http://ejabat.google.com/ejabat/thread?tid=02c6e984f72eb8a dan juga diamini oleh beberapa situs seperti sunnah dot org, islamport dot com dll).
Salah satu kitab terkenal Syaikh Syamsuddin adalah Kitab Al Ruh, dimana didalamnya terdapat beberapa keterangan yang unik, antara lain tentang kemungkinan berinteraksinya Ruh orang mati dengan orang yang masih hidup, ruh ruh orang mati itu bisa berkenalan dan saling berkunjung satu sama lain jika ruh tersebut termasuk yang mendapatkan keni,matan. Beliau membagi ruh itu dalam dua bagian; Ruh yang Menerima Azdab dan ruh yang menerima Kenikmatan)
Beliau membawakan sebuah ayat 42 surat Al Zumar:
“Allah memenuhi hak/mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya, adapun jiwa yang belum mati, Allah menahannya didalam tidurnya yag telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.
Tetapi sungguh amat sayang, di dalam kitab tersebut tidak dijelaskan metode khusus agar jiwa kita bisa dikenal oleh Jiwa jiwa Suci dari Para Auliyaillah, hanya saja, dalam bab sebelumnya Syaikh Syamsuddin membawakan sebuah ayat yang menjadi dasar Umum bagaimana Ruhr ruh itu bisa saling mengenal, yaitu dengan ayat 69 surat Al Nisa:
ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan berserta  orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah, yang terdiri dari para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.
Lalu, sebenarnya adakah cara agar kita bias dikenal oleh para arwah orang orang Shalih, agar kita mendapat berkahnya, doanya dan pertolongan ruhaniyyahnya?
Dalam hal ini mungkin dari beberapa kisah bertemunya para tokoh kita dengan para tokoh terdahulunya baik dengan cara bermimpi atau dengan cara yang Allah sendiri yang tahu, adalah sebuah pelajaran yang patut ditiru, antara lain disamping mencintainya, mengikuti jejaknya, yang terpenting adalah bersedekah kepadanya, tidak lain adalah mendoakannya, menghadiahi fatihah, menziyarahi kuburnya, sering membicarakannya, mengaguminya, dan menghormatinya.
Bersedekah yang dimaksud adalah menghadiahkan fatihah atau baca bacaan kalimah thoyyibah yang lain.

Mayat baca Qur'an dalam Kubur

MAYAT MEMBACA AL-QUR’AN DI DALAM KUBURAN

PERPUSTAKAAN PRIBADI “MUHAMMAD THOBARY SYADZILY AL-BANTANI”
Nama kitab: Syarhu ash-Shudur bi Syarhi Hal al-Mawta wal Qubur
Karya: Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Tebal: 312 halaman
Cetakan: Darul Fikr, Beirut – Libanon
Pada zaman Nabi saw ada mayat dari golongan waliyullah membaca Al-Qur’an di dalam kuburannya sendiri. Hal itu diterangkan di dalam kitab “Syarhu ash-Shudur bi Syarhi Hali al-Mawta wal Qubur”, karya Al-Muhaddits al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi, halaman 170-171, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon (lihat tulisan di foto !) dengan keterangan sebagai berikut:
Artinya:
=====
“Imam Tirmidzi telah mentakhrij hadits dan menghasankannya. Begitupula halnya dengan Imam Hakim dan Imam Baihaqi. Hadits tersebut dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata: Sebagian sahabat Nabi saw pernah mendirikan sebuah kemah di atas kuburan. Mereka tidak menyangka bahwa tanah itu adalah kuburan. Tiba-tiba di dalam kuburan itu terdengar ada orang sedang membaca surat “Al-Mulk” hingga selesai. Kemudian, sahabat mendatangi Nabi saw dan memberitahukannya kepada beliau. Lalu beliau bersabda: Surat Al-Mulk itu adalah Munjiyah (penyelamat) dan Mani’ah (penghalang), yang dapat menyelamatkannya dari siksa kubur”.
Di dalam kitab “Ar-Ruh” Abul Qasim as-Sa’di berkata: Ini merupakan pembenaran dari Nabi saw bahwa seorang mayit juga membaca Al-Qur’an di dalam kuburnya. Sementara itu Abdullah juga pernah memberitahukannya tentang hal itu dan Rasulullah saw pun membenarkannya.

Imam Kamaluddin bin az-Zamlakani berkata di dalam kitab “Al-‘Amal al-Maqbul fi Ziyarah ar-Rasul”: Hadits ini secra jelas menunjukkan bahwa seorang mayat membaca surat Al-Mulk di dalam kuburnya. Di dalam riwayat ini disebutkan tentang pemuliaan Allah kepada sebagian wali-walinya dengan membaca surat “Al-Mulk” dan menjalankan shalat di dalam kuburnya. Karena, ketika hidupnya dulu mereka pernah berdo’a memohon kepada Allah akan hal itu. Jika Allah swt telah memuliakan para wali-Nya dengan menetapkan mereka berbuat ta’at dan beribadah di alam kubur, maka sudah barangtentu para Nabi lebih berhak untuk mendapatkan ketetapan itu.
Berkata Al-Hafizh Zainuddin Ibnu Rajab di dalam kitab “Ahwal al-Qubur”: Allah telah memuliakan sebagian penghuni alam barzakh dengan berbuat amal shaleh di dalamnya, meskipun mereka dengan hal itu tidak mendapatkan pahala, karena amalnya telah terputus oleh kematian. Namun, amalnya itu masih tetap berlaku baginya. Dengan itu, dia dapat bersenang-senang dalam berdzikir kepada Allah dan berbuat ketaatan kepada-Nya, sebagaimana yang dirasakan oleh para malaikat dan penghuni surge di surga; meskipun dengan hal itu mereka tidak mendapatkan pahala. Karena, dzikir dan ketaatan itu sendiri merupakan ketaatan yang lebih besar daripada seluruh kenikmatan dan keledzatan penghuni dunia. Betapa nikmatnya orang-orang yang telah memperoleh nikmat bisa melakukan seperti itu denga berdzikr dan taat kepada-Nya.
Abul Hasan bin al-Barra’ meriwayatkan di dalam kitab “Ar-Rawdhah”, dari Abdullah bin Muhammad bin Manshur, telah menceritakan kepada saya Ibrahim al-Haffar, dia berkata: Saya menggali kuburan . kemudian nampak batu-bata. Lalu, saya mencium bau minyak misik ketika batu-bata itu terbuka. Saat itu juga seorang Syeikh sedang duduk di dalam kuburannya sedang membaca Al-Qur’an.
Ibnu Rajab berkata: Telah menceritakan kepada saya Al-Muhaaits (Pakar Hadits) Abul Hajjaj Yusuf bin Muhammad as-Surramarri, telah menceritakan guru kami Abul Hasan Ali bin al-Husain as-Samiri, seorang khatib di Samira’, seorang muslim yang shaleh memperlihatkan suatu tempat dari beberapa kuburan yang tidak pernah sepi. Lalu dia berkata: Dari tempat ini kita masih akan terus mendengar bacaan surat Al-Mulk
www.thobary.com

Bid'ah dalam kitab Hadist

PEMBAGIAN BID’AH DALAM KITAB HADITS "SHOHIH MUSLIM BI SYARHI AN-NAWAWI"


Di dalam kitab hadits “Shohih Muslim bi Syarhi an-Nawawi” jilid 4 halaman 104-105, cetakan “Darul Fikr” Beirut Libanon (lihat dan simak tulisan yang ada di foto !) diterangkan tentang masalah pembagian bid’ah yang bersumber dari sabda Nabi saw, yaitu:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari dosanya”.
Hadits ini mentakhsis hadits Nabi yang berbunyi:
كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
“Setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.
Adapun yang dimaksud hadits tersebut adalah perkara-perkara baru yang bersifat bathil dan bid’ah-bid’ah yang bersifat tercela.
Dengan demikian, bid’ah dibagi kepada lima bagian, yaitu:
1. Bid’ah wajib,
2. Bid’ah sunnah,
3. Bid’ah haram,
4. Bid’ah makruh, dan
5. Bid’ah mubah.

By Yai Thobary Syadzily