LUDAH ROSULULLOH
Diriwayatkan dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘Iyadh bahwa
ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah sumur,
lalu para sahabat berkata bahwa air di
sumur itu rasanya pahit, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengatakan : “tidak demikian, air di sumur ini rasanya enak dan baunya
wangi”, kemudian Rasulullah meminta untuk diambilkan air dari sumur itu,
kemudian b...eliau berkumur dengan air itu lalu memuntahkan air itu ke
dalam sumur, dan ternyata air itu baunya lebih wangi daripada bau misik,
karena telah tercampur dengan air ludah sayyidina Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam.
Sungguh
segala sesuatu yang tersentuh atau disentuh oleh sang nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam maka akan dimuliakan oleh Allah subhanahu
wata’ala, terlebih lagi jika itu adalah hati yang mencintai sayyidina
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
اللهمّ صلّ وسلّم وبارك عليه وعَلۓواله وصحبه
Sabtu, 02 Agustus 2014
Suri tauladan dari Lebah
> Adzim Adzim Adzim
Assalamualaikum. ngaji bab tawon/lebah; kepada para sesepuh piss_ktb saya mau minta perincian mengenai si tawon,
(1) jelaskan perincian dari keistimewaan tawon/lebah?
(2) kenapa manusia harus seperti tawon?
(3) mohon jelaskan dari sumber refrensinya. Terima kasih
JAWABAN :
> Ical Rizaldysantrialit
wa'alaikum salam Wr Wb
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 68-69
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ
بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِن
كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن
بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69)
68- Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di
bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia”,
69- kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah
jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke
luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat
obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang
memikirkan.
Lebah diciptakan ALLAH SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia.
Di antara manfaatnya adalah madu. Tak hanya itu, perilaku hewan kecil
ini harusnya menjadi cerminan akhlak bagi Muslim sejati.
Perhatikanlah kehidupannya. Ada banyak manfaat yang bisa diambil hikmahnya dari lebah.
PERTAMA; Lebah adalah hewan yang bersih dan cinta akan kebersihan. Di
antara kebersihan yang ditunjukan lebah adalah tempat dia memilih
sarang. ALLAH SWT menyebutkan dalam ayat di atas, bahwa sarang lebah
dibuat di bukit-bukit, di pohon-pohon atau tempat-tempat yang tinggi.
Semua tempat di atas adalah tempat yang bersih, dan jauh dari polusi.
Lebah tidak pernah bersarang di tanah, atau tempat yang kotor lainnya.
Kebersihan makanan juga ditunjukan lebah dengan memakan sari bunga yang
sangat besih. Selanjutnya bentuk sarangnya yang berupa lilin berwarna
putih, juga sebagai simbol kebersihan. Bahkan menurut hasil penelitian,
permukaaan sarang lebah tersebut ditutupi dengan selaput halus sehingga
udara kotor tidak masuk ke dalam sarangnya.
Begitulah pola hidup yang mesti dicontoh oleh semua manusia khususnya
umat Islam, yaitu mencintai cara hidup yang bersih. Baik bersih secara
fisik maupun bersih rohani. Bukankah dalam sebuah haditsnya Rasulullah
saw menyebutkan bahwa “kebersihan itu sebagian dari iman”. Begitu juga
ALLAH SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah [2]: 222,
“… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri (orang yang bersih atau suci rohani dan
jasmani).”
KEDUA; Lebah hanya menghisap saripati bunga. Ia hanya mengambil yang
inti dan membiarkan yang lain. Lebah tahu, yang menjadi kebutuhannya
hanyalah saripati, bukan yang lainnya. Ini mengajarkan bahwa setiap
Muslim harus mengambil sesuatu yang baik dan halal. Sebab, mengambil hak
yang lain hukumnya adalah haram.
KETIGA; Lebah menghasilkan madu. Ia memberi manfaat bagi manusia. Ini
pelajaran bagi umat Islam. Madu berasal dari saripati bunga dan baik,
maka keluarnya pun baik. Sesuatu yang halal, keluarnya halal pula. Dan,
ia banyak memberi manfaat bagi orang lain.
KEEMPAT; Lebah tidak merusak. Di mana pun dia hinggap, tak ada tangkai
daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini
hingga dalam bergaul dia tidak menyakiti siapa pun dan senantiasa
menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang
prinsip iffah (ketenteraman) dalam pergaulan.
KELIMA; Lebah punya harga diri. Ia tidak akan pernah mengganggu orang
lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga
dirinya dizalimi, ia akan siap ‘menyengat’ pengganggunya. Karena itu,
setiap Muslim harus mampu menjaga kehormatan dirinya.
Sudah sepatutnya kita belajar ilmu dari lebah. Bukan karena fisik dan
pesonanya yang kurang menarik, tapi karena komitmennya dalam bersikap
dan berbuat. Manusia memiliki kemuliaan dari makhluk lain. Namun,
tingkah laku dan kehormatan manusia bisa lebih hina dari binatang.
ALLAH SWT memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah dari
lebah. Ia makhluk kecil yang memberikan manfaat sangat besar bagi
manusia. Tentunya, tak hanya dari lebah, setiap hamparan yang ada di
alam semesta ini diciptakan oleh ALLAH SWT untuk kebutuhan manusia.
Maka, bisakah kita mengambil pelajaran? Wallahu A’lam.
- Tafsir Baghowi
- Tafsir Ibnu Katsir
- Tafsir Thobary
Syeikh Abu Tholib Al-Maki (mualif kitab Quutil Quluub) menerangkan ada
40 sifat dan karakter lebah yang seyogyanya ditiru oleh setiap pribadi
muslim.
Sifat dan Karakter lebah yang harus dimiliki setiap mukmin
1. Seandainya semua jenis hewan terbang lainnya berkumpul, lalu mereka
bahu-membahu melakukan satu pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh lebah,
mereka tidak akan sanggup melakukannya. Demikian juga seandainya seluruh
manusia non-mukmin bersatu untuk melakukan satu amal yang sepadan dalam
kualitas, kadar, dan nilai dengan amal seorang mukmin, niscaya mereka
tidak akan sanggup melakukannya.
2. Lebah waspada akan gangguan dan penganiayaan burung, sedangkan ia
sendiri tidak pernah mengganggu mereka. Demikian pula halnya dengan
seorang mukmin. Meskipun orang-orang mengganggu, menghina, dan
menzaliminya, seorang mukmin tidak mau membalas kejahatan mereka.
3. Lebah dianggap kecil dan hina oleh semua jenis burung, tetapi
sekiranya mereka tahu apa yang ada di dalam perut lebah dan
mencicipinya, niscaya mereka akan memuliakan dan menghormatinya.
Demikian juga seorang mukmin. Orang-orang bodoh menganggapnya kecil,
rendah, dan hina. Andaikan mereka tahu apa yang ada di dalam hati
seorang mukmin berupa keindahan iman, ketulusan, rahasia-rahasia Tuhan,
dan sebagainya, pastilah mereka rela menjadi tanah tempat kakinya
berpijak atau mengangkatnya di atas kepala mereka.
4. Semua jenis burung hidup untuk diri mereka sendiri, mencari makan dan
kebutuhan lainnya hanya untuk diri masing-masing. Lain halnya dengan
lebah. Ia hidup untuk sesamanya dan selalu berusaha untuk memenuhi
kebutuhan rajanya. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin. Di saat
semua orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kesenangannya
sendiri, ia hidup di dunia ini untuk Allah Swt.. Hidupnya ia pergunakan
untuk melakukan ketaatan kepada-Nya serta bekerja untuk memenuhi
kebutuhan dirinya dan orang lain.
5. Kala malam tiba, semua burung masuk ke sarang masing-masing untuk
beristirahat dan tidur. Mereka berhenti bekerja. Lain halnya dengan
lebah. Ia lebih banyak bekerja di malam hari ketimbang di siang hari.
Demikian juga seorang mukmin. Di waktu malam, saat orang-orang mengurung
diri di rumah masing-masing, beristirahat dan tidur, seorang mukmin
bangkit melangkahkan kaki mengambil air wudu, salat, lalu bermunajat
kepada Tuhan seraya menyerahkan seluruh hidupnya dan mengadukan segala
persoalan kepada-Nya.
6. Allah Swt. mengharamkan membunuh dan mengganggu lebah, tetapi
menghalalkan manfaat yang dihasilkannya. Begitu pula seorang mukmin.
Allah Swt. mengharamkan membunuhnya dan melarang mengganggu harga diri,
harta, dan keluarganya, tetapi menghalalkan kebaikan dan manfaat yang
diberikannya bagi siapa saja yang berhak menerima.
7. Lebah bekerja secara sembunyi-sembunyi. Orang hanya melihat dan
menikmati hasilnya. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin. Dengan
ikhlas ia menyembunyikan amalnya dari penglihatan orang. Mereka baru
melihat hasilnya nanti pada hari semua amal ditampakkan, yakni pada Hari
Kiamat.
8. Lebah hanya mengambil apa yang ia butuhkan saja dari sesuatu tanpa
merusak sesuatu itu. Begitu juga seorang mukmin. Ia hanya mengambil dari
dunia ini apa yang benar-benar diperlukannya saja, yang dapat membawa
kebaikan bagi diri, agama, dan hatinya. Apa yang ia ambil dijadikannya
bekal untuk akhirat tanpa merusak atau menimbulkan kerugian pada sumber
asalnya, dan tidak berlebihan.
9. Lebah tidak mau keluar dari sarang untuk memenuhi keperluannya pada
hari yang berawan, ketika hujan, saat ada angin kencang, atau tatkala
ada petir. Dalam keadaan seperti itu, ia tetap bertahan di sarang sampai
keadaan benar-benar normal. Seperti itu pulalah seorang mukmin. Ia
selalu berhati-hati dan pandai menahan diri ketika kezaliman merajalela,
keharaman tersebar di mana-mana, kekacauan mendominasi suasana, dan
keadaan carut-marut. Dalam keadaan yang tidak kondusif seperti itu, ia
memilih tinggal di rumah serta menahan mulut dan tangannya, seraya
menunggu apa yang akan Allah Swt. lakukan atas keadaan yang tengah
berlangsung.
10. Lebah selalu menjauhi benda-benda yang kotor dan tidak mau hinggap
di tempat-tempat yang kotor. Begitu pula seorang mukmin. Ia senantiasa
menjaga kesucian diri dari maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Ia
selalu menjauhi segala sesuatu yang buruk, kotor, dan keji.
11. Ada sepuluh hal yang dapat menghancurkan dan merusak tatanan
kehidupan lebah sehingga aktivitasnya terhenti, yaitu: asap, dingin,
panas, awan, api, air, angin, gelap, lumpur, serta gangguan dan serangan
dari sesama lebah atau musuh dari luar. Demikian juga seorang mukmin.
Ada sepuluh hal yang dapat merobek keutuhan hatinya, merusak agamanya,
dan menghentikan amalnya. Kabut kekerasan dan kelalaian hati, dinginnya
rayuan dosa dan maksiat yang menusuk, panasnya hawa nafsu yang membakar,
awan keraguan, api kemusyrikan, topan cinta dunia, gelapnya kebodohan,
angin cobaan dan fitnah, bau busuknya keharaman, lumpur kebejatan,
kezaliman dan kemungkaran, gangguan dari sesama manusia yang secara
lahir berbaju iman tetapi hakikatnya penganut bidah dan pengidap
kemunafikan, serta gangguan dari musuh, yaitu orang kafir. Kita memohon
perlindungan kepada Allah Swt. dari segala ancaman membahayakan ini.
12. Lebah tidak mau berbaur dengan hewan lain yang tidak sejenis
meskipun memiliki beberapa sifat yang mirip. Seperti itu pulalah seorang
mukmin. Ia tidak mau berbaur dan bergaul akrab dengan orang yang tidak
memiliki sifat yang sama walaupun nama dan bentuk mempunyai kemiripan.
13. Dari perut lebah keluar lebih dari satu cairan yang berbeda-beda
warna. Setiap cairan mempunyai manfaat tersendiri yang mengagumkan.
Demikian juga halnya dengan seorang mukmin. Dari hatinya keluar banyak
‘cairan’ yang beragam warna dan manfaatnya. Apa keluar dari hatinya itu
mengalir lewat mulutnya berupa ilmu, hikmah, kata-kata bijak, isyarat,
kecerdasan, cinta dan kasih sayang, kejujuran, nasihat, dan sebagainya.
14. Lebah mengeluarkan kotorannya lewat dubur, sedangkan madu
dikeluarkannya lewat mulut. Begitu pula seorang mukmin. Syahadat tauhid,
beragam ilmu, bacaan Alquran, zikir, kata-kata yang baik, serta
amar-makruf dan nahi-mungkar dikeluarkannya dari mulut dengan pengucapan
lidahnya. Adapun kotoran dan hadas dikeluarkannya lewat kubul atau
dubur.
15. Lebah memakan yang baik, mengeluarkan yang baik, serta memberi
kepada yang lain makanan yang lezat dan baik. Demikian juga seorang
mukmin. Makanan yang dikonsumsinya baik dan ilmu yang diberikannya juga
baik.
16. Lebah, bila hinggap di ranting atau dahan pohon, tidak
mematahkannya. Bila meneguk sedikit air sesuai kebutuhannya, lebah tidak
menyebabkan air yang ditinggalkan menjadi keruh. Bila mengisap sari
bunga, lebah tidak merusak bagian bunga lainnya. Demikian pula halnya
dengan seorang mukmin. Ia berinteraksi dengan sesama manusia dalam
banyak hal dengan penuh perhitungan, keadilan, kasih sayang, dan
nasihat. Ia bergaul sekadar untuk tahu tanpa menyakiti atau menganiaya
serta memisahkan diri untuk menjaga keselamatan dan kesucian.
17. Jika ada orang yang coba mengusik lebah, menggangu ketenangan dan
kehidupannya dengan mempermainkan atau merusak sarangnya, lebah pasti
tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan menyengat orang usil itu.
Sebaliknya, jika seseorang berdamai dengan lebah, tidak mengusik
ketenangannya, dan tidak mengganggu kehidupannya, maka lebah pun tidak
akan berbuat apa-apa terhadapnya. Seperti itu pula watak, perilaku, dan
sikap seorang mukmin. Terhadap orang yang meredam kemungkaran, tidak
menunjukkan kemunafikan, dan tidak mempertontonkan kejahatan, ia tidak
akan memata-matai atau menelisik jejaknya. Terhadap orang yang
sebaliknya, ia akan mengingatkan dengan lisan dan mencegah dengan tangan
(kekuasaan).
18. Lebah, kita lihat, selalu terbang di taman-taman bunga dan mengitari
tempat-tempat yang wangi di pinggir-pinggir sungai atau di
warung-warung yang menjual makanan manis. Demikian pula halnya dengan
seorang mukmin. Engkau akan melihatnya selalu berada di majelis-majelis
ilmu dan zikir serta di rumah para ulama, ahli hikmah, dan ahli makrifat
yang berzuhud.
19. Lebah, bila hinggap di atas sekuntum bunga, tidak akan beranjak
sebelum benar-benar kenyang mengisap sari bunga. Ia lebih memilih mati
di taman bunga daripada pulang sebelum memperoleh apa yang dicarinya.
Seperti itu pulalah seorang mukmin. Ketika mereguk manisnya takarub
dengan Tuhan dan bertemu dengan seorang ahli hikmah, ulama yang
memberinya nasihat agama, atau ahli makrifat yang menceritakan
pengalaman rohani, ia akan merasa betah bersama mereka. Ketika melakukan
amal saleh pun, ia enggan berhenti sampai kematian menghentikannya.
20. Di musim semi dan musim panas lebah memindahkan cadangan makanannya
dari luar ke dalam sarang hingga penuh, sedangkan ia sendiri tinggal di
luar sarang. Di musim dingin, ia masuk ke sarangnya dan berdiam di
dalamnya sambil menata kembali tata ruang sarang. Demikian pula seorang
mukmin. Di musim semi dan musim panas ia bekerja untuk memenuhi
keperluan pangannya dan kebutuhan keluarganya yang bersifat primer.
Begitu masuk musim dingin, ia segera mendatangi majelis-majelis ilmu dan
zikir, mengunjungi para ahli ilmu dan ahli hikmah, beriktikaf di
masjid, serta giat beribadah, mengevaluasi diri, dan menata kembali
amal-amalnya.
21. Lebah makan dari hasil kerja kerasnya sendiri dan memberi yang lain
dari jerih payahnya sendiri. Ia tidak pernah mengganggu milik hewan
lain, bahkan matanya tidak pernah melirik sesuatu yang bukan miliknya.
Seperti itu jugalah seorang mukmin. Ia makan dari usahanya sendiri,
memberi orang lain dari hasil kerjanya sendiri, dan tidak pernah
meminta-minta kepada orang lain betapapun butuhnya.
22. Ketika di dalam sarangnya tidak ada sesuatu yang bisa dimakan, lebah
tidak akan masuk ke sarang lebah yang lain untuk mencari makanan. Jika
di dalam sarangnya ada sesuatu yang bisa dimakan, ia makan. Jika tidak,
ia pun menahan lapar. Demikian pula seorang mukmin. Betapapun ia
membutuhkan bahan makanan, ia tidak akan mendatangi rumah orang untuk
meminta-minta. Ia tidak akan berani mengambil milik orang lain dengan
cara paksa atau lewat kekerasan, betapapun sulitnya ia mendapatkan bahan
pangan. Jika ada orang yang memberi dengan suka rela, tanpa unsur
pemaksaan, barulah ia menerima. Jika tidak, ia pun menahan lapar.
23. Lebah tidak bekerja berdasarkan pendapat sendiri atau menurut
keinginan pribadi, melainkan berdasarkan petunjuk sang pemimpin. Ia
hanya mengikuti apa yang telah digariskan oleh sang raja dan tidak
keluar dari aturannya. Demikian juga seorang mukmin. Ia tidak beramal
berdasarkan nalarnya sendiri atau menurut selera pribadinya, melainkan
mengikuti imam dan ulama tepercaya.
24. Lebah tidak akan melaksanakan pekerjaannya sebelum menutup pintu
sarangnya. Selagi masih ada celah, lubang, atau kebocoran dalam dinding
sarangnya, ia terlebih dahulu memperbaikinya sebelum menggarap
pekerjaannya. Begitu jugalah seorang mukmin. Ia tidak merasakan manisnya
ibadah dan giatnya amal kecuali dalam kondisi tertutup ketika tidak ada
yang melihatnya kecuali Allah Swt. atau, paling-paling, anggota
keluarganya. Amal yang dilihat oleh anggota keluarga ketika berada di
rumah atau oleh teman ketika berada dalam perjalanan, tidak mengurangi
nilai ikhlas.
25. Lebah tidak memerlukan banyak barang dunia. Yang diperlukannya
hanyalah air, bunga, dan tempat-tempat yang mengeluarkan aroma
wewangian. Begitu pula halnya dengan seorang mukmin. Di dunia ini, yang
dibutuhkannya hanyalah ilmu yang bermanfaat, zikir kepada Allah Swt.,
dan amal saleh. Itulah yang menjadi kesibukannya. Ia mengonsentrasikan
diri, berjuang, dan mati di dalamnya.
26. Ukuran tubuh lebah kecil dan bentuknya tidak menarik—untuk tidak
mengatakan hina, tetapi hasil karyanya berbobot, berkualitas tinggi,
beharga mahal, berasa enak, dan merupakan makanan/minuman yang paling
manis. Seperti itu pulalah seorang mukmin. Ukuran tubuhnya mungkin kecil
serta banyak orang menghina dan meremehkan penampilannya, namun
kualitas, nilai, dan amalnya amat berbobot dan sungguh mulia.
27. Lebah mempunyai tiga keadaan, yaitu: terbang dengan sayap, bergerak
dan bekerja dengan tubuh, dan diam beristirahat. Demikian pula seorang
mukmin. Ia mempunyai tiga keadaan. Pertama keadaan ketika terbang dengan
hatinya, melintasi alam malakut dan dunia metafisik, serta meresapi
makna-makna ilmu. Kedua keadaan ketika beribadah, mengabdi, dan beramal
dengan anggota badan. Ketiga keadaan ketika berhenti dari dua keadaan
sebelumnya. Dalam keadaan ketiga ini, ia beristirahat dengan melakukan
apa yang dihalalkan oleh Allah Swt., seperti makan, minum, dan
bercengkerama dengan anggota keluarga.
28. Lebah akan mati-matian mengejar orang yang mengambil barang
miliknya, ke mana pun orang itu lari. Ia pasti akan mencegah tangan
orang yang hendak mengambil harta miliknya berupa sarang dan madu. Ia
tidak akan pernah menyerahkan harta miliknya begitu saja kepada siapa
pun, kecuali terpaksa. Demikian juga halnya dengan seorang mukmin. Demi
menjaga kehormatan diri, agama, keutuhan amal, dan keluarganya, ia rela
mengorbankan jiwa dan hartanya.
29. Semua jenis burung menjadi najis begitu mereka mati dan tempat
mereka mati juga menjadi najis. Lain halnya dengan lebah. Selagi hidup
dan sesudah mati, ia tetap suci. Begitu pula seorang mukmin. Semasa
hidup dan setelah matinya, ia tetap suci.
30. Makanan yang paling menggugah selera dan paling manis di dunia ini
adalah madu yang dihasilkan oleh lebah. Demikian juga halnya dengan
seorang mukmin. Ia menghasilkan manisan yang paling manis dan paling
mengundang selera, yaitu makrifat, iman yang murni, ilmu yang
bermanfaat, dan cinta yang suci.
31. Lebah, bila diterjang angin kencang hingga terlempar ke permukaan
air, ke tanah berlumpur, atau ke tengah-tengah duri, ia masih bisa
berjuang untuk bangkit dan akhirnya selamat lalu terbang lagi. Tetapi,
apabila terlempar ke dalam api atau ke tengah-tengah asap, ia tidak akan
selamat dan akhirnya binasa. Seperti itu pulalah seorang mukmin. Karena
satu dan lain hal, mungkin ia terhempas ke dalam lumpur dosa dan
maksiat. Hampir dapat dipastikan, ia bisa bangkit kembali dan keluar
dari lumpur itu. Namun, jika ia terjerumus ke dalam kekufuran dan bidah,
ia pasti akan binasa di dalamnya. Tidak ada harapan untuk bisa selamat.
32. Semua burung dapat dipikat dengan biji-bijian yang disimpan di dalam
perangkap, sedangkan lebah tidak bisa dipancing dengan apa pun selain
dengan apa yang dihasilkannya, yakni madu. Begitu terperangkap dalam
madu, ia mati di dalamnya. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin.
Ia tidak bisa dipancing dengan benda atau rayuan duniawi. Ia hanya akan
terpancing oleh Allah Swt. atau dengan apa yang dimiliki-Nya, seperti
kebenaran, ilmu, dan hikmah.
33. Setiap kelompok lebah mempunyai seekor pemimpin. Selama sang
pemimpin berada di tengah-tengah mereka, musuh tidak akan berani
mengusik dan tidak akan coba-coba mengambil milik mereka. Apabila sang
raja mati atau pergi meninggalkan mereka, mereka pun kocar-kacir
berhamburan dan akhirnya satu persatu binasa. Demikian juga kaum mukmin.
Selama para ulama dan imam berada di tengah-tengah mereka, musuh tidak
akan berani mengusik mereka dan setan tidak akan berani mengganggu
mereka. Jika tidak ada seorang pun ulama dan imam di antara mereka,
mereka pun tercerai-berai dan akhirnya binasa.
34. Apabila raja lebah mempunyai cacat, rakyat lebah tidak dapat bekerja
dengan baik, sarang pun tidak terawat dengan baik, dan pada gilirannya
mereka akan hancur. Sebaliknya, jika sang raja lurus dan bertindak
dengan bijaksana, rakyat lebah pun hidup dengan baik dan lancar. Seperti
itu pulalah kaum mukmin. Bila para pemimpin mereka adil, para ulamanya
bertakwa, serta para pedagang dan kaum profesionalnya jujur, maka urusan
mereka akan berjalan dengan baik dan lancar. Jika tidak, mereka akan
celaka.
35. Komunitas lebah akan tetap makmur meskipun sebagian anggota
komunitasnya ada yang mengikuti hawa nafsu, ditimpa penyakit, atau
melakukan kesalahan, selama raja mereka adil dan bertindak lurus.
Demikian juga komunitas kaum mukmin. Apabila kalangan khusus mereka
sudah tidak bermoral, kalangan awam pun akan terbawa binasa. Sebaliknya,
meskipun kelakuan kalangan awam bobrok, mereka tidak akan binasa selama
kalangan khusus berperilaku baik dan berakhlak mulia.
36. Ada dua jenis lebah: lebah yang ada di gunung-gunung dan bersarang
di pepohonan dan lebah yang ada di tengah-tengah keramaian dan bersarang
di perumahan. Lebah yang ada di gunung-gunung dan bersarang di
pepohonan terlindung dari polusi dan relatif aman dari ancaman
kebinasaan. Lebah yang ada di tengah-tengah perkampungan manusia dan
bersarang di rumah-rumah atau bangunan lain yang dibuat oleh manusia,
tidak aman dari bahaya kehancuran. Demikian juga halnya dengan orang
beriman, ada dua macam. Di antara mereka ada yang menghabiskan sebagian
besar waktunya di pasar-pasar dan sentra-sentra keramaian lainnya. Ada
pula yang menempuh pola hidup zuhud, jauh dari keramaian, dan gemar
mengasingkan diri di gunung-gunung atau di gua-gua untuk berkhalwat.
Yang pertama relatif tidak aman dari fitnah dan kemungkinan terjerumus
dalam hal yang haram dan syubhat. Yang kedua aman dari semua itu; mereka
lebih tenteram, damai, selamat, dan suci.
37. Lebah tinggal di dalam sarang yang terbilang bersih dari benda-benda
yang tidak diperlukan dan kosong dari barang-barang yang tidak berguna.
Lebah, bahkan, tidak menyimpan sumber pangannya di dalam sarang. Dengan
kata lain, ia tidak pernah membawa sekuntum bunga atau sumber makanan
lainnya ke dalam sarang. Hal itu tidak membuatnya takut kelaparan. Ia
begitu tenang dan damai tinggal di dalam sarang tanpa ada kekhawatiran
akan sumber pangan. Demikian juga halnya dengan seorang mukmin. Ia tidak
takut akan kemiskinan dan kebangkrutan. Menjadi miskin atau kaya
baginya sama saja, sebab yang membuat dirinya merasa kaya adalah
limpahan keyakinan dan manisnya kebersamaan dengan Tuhan.
38. Kawanan lebah, jika dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain,
mereka menurut saja dan tinggal di tempat yang baru dengan nyaman.
Seperti itu pulalah seorang mukmin. Di mana pun ia berada dan ke mana
pun ia diajak, dengan senang hati ia akan menjalani dan mengikutinya.
Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti
air, mengalir dengan mudah ke mana saja selama di sana tidak ada hal-hal
yang dilarang oleh agama atau hal-hal yang dapat mengurangi kadar
keberagamaannya.”
39. Lebah tidak suka dengan iklim yang terlalu panas atau terlalu
dingin. Itu karena, baik iklim yang terlalu panas maupun yang terlalu
dingin, keduanya dapat mengganggu, bahkan menghancurkan tatanan
kehidupan mereka. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin. Ia berada
di antara takut dan harap. Terlalu berharap dapat merusak tatanan
keberagamaannya dan terlalu takut dapat membuatnya putus asa dari rahmat
Tuhan.
40. Lebah takut akan dua hal, yaitu: terik matahari yang menyengat di
musim panas dan dingin yang menusuk di musim dingin. Begitu juga halnya
dengan seorang mukimin. Ia berada di antara dua hal yang ditakutkan,
yakni: ajal yang telah ditetapkan Allah Swt.—karena ia tidak tahu apa
yang telah Allah Swt. tentukan bagi dirinya dalam ketetapan itu—dan
ketetapan yang akan datang—karena ia tidak tahu apa yang Allah Swt.
kehendaki bagi dirinya di masa depan.
Rasulullah saw. juga bersabda, “Seorang mukmin laksana lebah; ia memakan
yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, serta hinggap di ranting
tanpa mematahkannya.”
Inilah salah satu sifat mukmin. Ia memakan hanya yang baik dan memberi
makan kepada yang lain pun hanya dengan yang baik. Ia orang baik dan
memberi kebaikan bagi sesamanya. Ia memberi tanpa diminta, berlapang
dada, bersikap santun, dan jauh dari keinginan menyakiti orang. Di mana
pun berada, ia tak pernah membuat kerusakan. Tak heran jika persangkaan
orang terhadapnya hanya persangkaan yang baik. Dengan sifat-sifat inilah
segolongan kaum mukmin dikenal.[
* Syekh Abû Thâlib al-Makkî adalah ulama klasik, penulis kitab termasyhur Qut al-Qulub (Nutirisi untuk Hati).
* Link Kitab Qut al-qulub :https://archive.org/stream/Qotqoloub/qotqoloub#page/n0/mode/2up
Wallahu A'lam
LINK ASAL
Jumat, 01 Agustus 2014
Interaksi lahiriah Peziarah dan yang di Ziarahi
> Abdullah Maen
Assalaamu'alaykum. Kang Ustad/Teh Ustadah !!! Saya pengen tanya:
Benarkah org ziarah kubur,jika yg di ziarahinya itu sorg wali Allah atau sorg ulama yg mngajarkn ilmunya dg ihlas,beliau Wali atau Ulama bisa hadir atau menjelma di hadapan org yg mnziarahinya bahkan yg mnziarahi dan yg di ziarahi bisa bercakap2x/ngobrol, jika benar..mohon pnjelasannya bserta rujukan kitabnya,terima kasih atas prhatiannya, mohon maaf bila ada kata yg gk brkenan dn sungguh saya sangat mngharap pnjelasan kng ustd/teh ustdh.
Benarkah org ziarah kubur,jika yg di ziarahinya itu sorg wali Allah atau sorg ulama yg mngajarkn ilmunya dg ihlas,beliau Wali atau Ulama bisa hadir atau menjelma di hadapan org yg mnziarahinya bahkan yg mnziarahi dan yg di ziarahi bisa bercakap2x/ngobrol, jika benar..mohon pnjelasannya bserta rujukan kitabnya,terima kasih atas prhatiannya, mohon maaf bila ada kata yg gk brkenan dn sungguh saya sangat mngharap pnjelasan kng ustd/teh ustdh.
JAWABAN :
> Ical Rizaldysantrialit
KETIKA TANGAN RASULULLAH SAW. KELUAR DARI KUBURNYA DEMI BERSALAMAN DENGAN CUCUNDANYA TERCINTA SYAIKH AHMAD AR-RIFA’I RA.
يقول الإمام عز الدين الفاروقي في كتابه "إرشاد المسلمين": أخبرني أبي الحافظ محي الدين أبو إسحق عن أبيه الشيخ عمر الفاروقي أنه قال: كنت مع وشيخنا السيد أحمد الكبير الرفاعي الحسيني عام حجه الأول وذلك سنة خمس وخمسين وخمسمائة، وقد دخل المدينة يوم دخوله القوافل إليها قوافل الزوار من الشام والعراق واليمن والمغرب والحجاز وبلاد العجم وقد زادوا على تسعين ألفا، فلما أشرف على المدينة المنورة ترجل عن مطيته ومشى حافيا إلى أن وصل الحرم الشريف المحمدي ولا زال حتى وقف تجاه الحجرة العطرة النبوية فقال : السلام عليك يا جدي، فقال رسول الله له: "وعليك السلام يا ولدي"، سمع كلامه الشريف كل من في الحرم النبوي، فتواجد لهذه المنحة العظيمة والنعمة الكبرى وحنَّ وأنَّ وبكى وجثا على ركبتيه مرتعدا ثم قام وقال:
في حالة البعد روحي كنت أرسلها تقبل الأرض عني وهي نائبتي
وهذه دولة الأشباح قد حضرت فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
فمدَّ له رسول الله صلى الله عليه وسلم يده الشريفة النورانية من قبره الأزهر الكريم فقبلها والناس ينظرون، وقد كان في الحرم الشريف الألوف حين خروج اليد الطاهرة المحمدية
Syaih Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir, seorang ulama yang tenar dengan kedalaman ilmunya, zuhud dan ketakwaanya, adalah salah satu auliya’ ‘arif billah, yang diberi anugerah oleh Allah dengan karamah yang banyak yang masyhur dan ditulis oleh banyak ulama dalam kitab-kitab mereka.
Diantara karamahnya yang termashur dari beberapa karamah yang diberikan oleh Allah adalah beliau mencium tangan kakeknya yang tidak lain adalah Sayyidina Muhammad Saw. Dan kisah ini telah diceritakan dari generasi ke generasi hingga layaknya mencapai derajat mutawatir.
Kisah ini telah disebutkan dan ditetapkan banyak ulama, diantaranya adalah al-Hafidz as-Suyuthi, al-Muhaddits al-Munawi, Imam asy-Sya’rani dan para ulama besar lainya. Telah berkata al-Imam Izuddin al-Faruqi dalam kitab Irsyad al-Muslimin:
“Ayahku al-Hafidz Muhyiddin Abu Ishaq bercerita dari ayahnya Syaikh Umar al-Faruqi bahwa belaiau berkata: “Saya bersama guruku Sayyid Ahmad al-Kabir ar-Rifa’i al-Husaini Ra. saat hajinya yang pertama yaitu tahun 555 H. Beliau masuk ke Kota Madinah di saat rombongan dari Syam, Iraq, Yaman, Maghrib, Hijaz dan negeri non Arab yang lain jumlahnya lebih dari 90 ribu jamaah. Dan ketika beliau mulai mendekati kota Madinah ia pun turun dari kendaraan dan memilih berjalan kaki tanpa alas. Hingga sampai pada makam yang penuh semerbak wangi kenabian, maka ia pun mengucapkan salam: “Assalamu’alaika wahai kakek.”
يقول الإمام عز الدين الفاروقي في كتابه "إرشاد المسلمين": أخبرني أبي الحافظ محي الدين أبو إسحق عن أبيه الشيخ عمر الفاروقي أنه قال: كنت مع وشيخنا السيد أحمد الكبير الرفاعي الحسيني عام حجه الأول وذلك سنة خمس وخمسين وخمسمائة، وقد دخل المدينة يوم دخوله القوافل إليها قوافل الزوار من الشام والعراق واليمن والمغرب والحجاز وبلاد العجم وقد زادوا على تسعين ألفا، فلما أشرف على المدينة المنورة ترجل عن مطيته ومشى حافيا إلى أن وصل الحرم الشريف المحمدي ولا زال حتى وقف تجاه الحجرة العطرة النبوية فقال : السلام عليك يا جدي، فقال رسول الله له: "وعليك السلام يا ولدي"، سمع كلامه الشريف كل من في الحرم النبوي، فتواجد لهذه المنحة العظيمة والنعمة الكبرى وحنَّ وأنَّ وبكى وجثا على ركبتيه مرتعدا ثم قام وقال:
في حالة البعد روحي كنت أرسلها تقبل الأرض عني وهي نائبتي
وهذه دولة الأشباح قد حضرت فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
فمدَّ له رسول الله صلى الله عليه وسلم يده الشريفة النورانية من قبره الأزهر الكريم فقبلها والناس ينظرون، وقد كان في الحرم الشريف الألوف حين خروج اليد الطاهرة المحمدية
Syaih Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir, seorang ulama yang tenar dengan kedalaman ilmunya, zuhud dan ketakwaanya, adalah salah satu auliya’ ‘arif billah, yang diberi anugerah oleh Allah dengan karamah yang banyak yang masyhur dan ditulis oleh banyak ulama dalam kitab-kitab mereka.
Diantara karamahnya yang termashur dari beberapa karamah yang diberikan oleh Allah adalah beliau mencium tangan kakeknya yang tidak lain adalah Sayyidina Muhammad Saw. Dan kisah ini telah diceritakan dari generasi ke generasi hingga layaknya mencapai derajat mutawatir.
Kisah ini telah disebutkan dan ditetapkan banyak ulama, diantaranya adalah al-Hafidz as-Suyuthi, al-Muhaddits al-Munawi, Imam asy-Sya’rani dan para ulama besar lainya. Telah berkata al-Imam Izuddin al-Faruqi dalam kitab Irsyad al-Muslimin:
“Ayahku al-Hafidz Muhyiddin Abu Ishaq bercerita dari ayahnya Syaikh Umar al-Faruqi bahwa belaiau berkata: “Saya bersama guruku Sayyid Ahmad al-Kabir ar-Rifa’i al-Husaini Ra. saat hajinya yang pertama yaitu tahun 555 H. Beliau masuk ke Kota Madinah di saat rombongan dari Syam, Iraq, Yaman, Maghrib, Hijaz dan negeri non Arab yang lain jumlahnya lebih dari 90 ribu jamaah. Dan ketika beliau mulai mendekati kota Madinah ia pun turun dari kendaraan dan memilih berjalan kaki tanpa alas. Hingga sampai pada makam yang penuh semerbak wangi kenabian, maka ia pun mengucapkan salam: “Assalamu’alaika wahai kakek.”
Lantas terdengar suara dari makam Rasulullah yang mulia: “Wa’alaikumussalam wahai putraku.”
Beliau pun merasa mendapat anugerah dan nikmat yang agung. Akhirnya beliau terduduk seraya gemetar bersuara merintih pelan sambil menangis lalu berdiri sambil berkata:
تقبل الأرض عني وهي نائبتي
في حالة البعد روحي كنت أرسلها
“Saat aku jauh, aku hanya mengirimkam ruhaniyahku ke sini mengecup bumi tempat Engkau dimakamkan sebagai ganti aku sowan menghadapmu.”
فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
وهذه دولة الأشباح قد حضرت
“Dan kini ragaku telah hadir di hadapanmu, maka sudilah Engkau ulurkan tangan kananmu agar bibirku mendapat bagian untuk mengecup tanganmu.”
Lantas Rasulullah Saw. mengulurkan tangan nuraniyah (yang bercahaya)nya nan mulia dari dalam kubur. Lantas beliau Syaikh Ahmad ar-Rifa’i mencium tangan Baginda Rasul Saw. yang mulia dan disaksikan banyak orang.
Diantara para pembesar ulama di zaman itu yang hadir adalah Syaikh Hayat al-Harani, Syaikh ‘Adi bin Musafir, Syaikh Aqil al-Manji, Syaikh Ahmad az-Zahir al-Anshori dan banyak lagi kaum muslimin lainnya. Mereka semua mendapatkan berkah dan kemuliaan dengan melihat tangan Rasulullah Saw. berkat Syaikh Ahmad ar-Rifa’i.
Diterjemahkan oleh Habib Mumu Bsa
http://ekamauluddin.blogspot.com/.../ketika-tangan...
Beliau pun merasa mendapat anugerah dan nikmat yang agung. Akhirnya beliau terduduk seraya gemetar bersuara merintih pelan sambil menangis lalu berdiri sambil berkata:
تقبل الأرض عني وهي نائبتي
في حالة البعد روحي كنت أرسلها
“Saat aku jauh, aku hanya mengirimkam ruhaniyahku ke sini mengecup bumi tempat Engkau dimakamkan sebagai ganti aku sowan menghadapmu.”
فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
وهذه دولة الأشباح قد حضرت
“Dan kini ragaku telah hadir di hadapanmu, maka sudilah Engkau ulurkan tangan kananmu agar bibirku mendapat bagian untuk mengecup tanganmu.”
Lantas Rasulullah Saw. mengulurkan tangan nuraniyah (yang bercahaya)nya nan mulia dari dalam kubur. Lantas beliau Syaikh Ahmad ar-Rifa’i mencium tangan Baginda Rasul Saw. yang mulia dan disaksikan banyak orang.
Diantara para pembesar ulama di zaman itu yang hadir adalah Syaikh Hayat al-Harani, Syaikh ‘Adi bin Musafir, Syaikh Aqil al-Manji, Syaikh Ahmad az-Zahir al-Anshori dan banyak lagi kaum muslimin lainnya. Mereka semua mendapatkan berkah dan kemuliaan dengan melihat tangan Rasulullah Saw. berkat Syaikh Ahmad ar-Rifa’i.
Diterjemahkan oleh Habib Mumu Bsa
http://ekamauluddin.blogspot.com/.../ketika-tangan...
> Taufiq Alaika salam
Wa'alaikum salam wr.wb, Referensi dari Kitab Karomatus sohabat S :9 Ada
baiknya kita simak kisah Khalifah Umar bin Khotob ktika beliau berziarah
di makam Baqi kota Madinah
من كراماته ما أخرجه ابن أبى الدنيا فى كتاب القبور عن عمر بن الخطاب رضي الله
عنه انه مر بالبقيع فقال السلام عليكم ياأهل القبور اخبارما عندنا إن
نساءكم قد تزوجن ودياركم قد سكنت وأموالكم قد فرقت فاجابه هاتف ياعمر بن
الخطاب اخبارما عندنا ما قدمنا فقد وجدناه وما انفقنا فقد ربحناه وما
خلفناه فقد خسرناه
stengah dari karomahnya Saydina umar bin khotob ra diriwatkan dari ibnu
abi dunnya di dlm kitab kubur dari Umar bin Khotob ra,ktika beliau lewat
di kuburan baqi beruluk salam ASSALAMU ALAIKUM Wahai ahli qubur ,Saya
memberi kbar kpadamu ,sungguh istrimu,rumahmu yg engkau tempati dan
hartamu telah meninggalkanmu ? Kmudian ada Suara tanpa Rupapun
Menjawabnya, Ya Umar bin khotob Apa yg engkau Khabarkan itu adalah
perjalananku yg telah ku lalui,apa yg telah aku infaqkan aku memanennya
dan telah kutinggalkan perkara2 tsb maka aku merasa rugi
واخرج ابن عساكر عن يحي بن أيوب الخزاعى قال
سمعت أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه ذهب إلى قبر شاب فناداه يافلان ولمن
خاف مقام ربه جنتان فأجبه الفتى من داخل القبر ياعمر قد اعطانيهما ربى فى
الجنة مرتين
diriwaytkan dari ibnu Asakir dari yahya bin ayub alkhoza'i ,yahya
berkata aku mendengar bahwa sungguh UMAR BIN KHOTOB R.A pernah bepergian
ke kuburan anak muda kmudian beliau memanggilnya Wahai Fulan ,DAN bgi
orang2 yg takut akan Menghadap Tuhannya ada dua Surga, kmudian pemuda
itu pun Menjawab bagi orang yg masuk kubur Ya Umar, TuhanKU telah benar2
memberikan Kedua Surga Itu dgn dua ucapan inilah percakapan Antara Ahli
Kubur dan Manusia Yg masih hidup.
LINK ASAL :
Artikel Terkait
- 3370. TENTANG KEKALNYA RUH
- 3360. LAIN-LAIN : SERUAN DAN PANGGILAN BUMI KEPADA BANI ADAM
- 3335. SEPUTAR KEMUNCULAN IMAM MAHDI DI AKHIR ZAMAN
- 3400. FIQIH JENAZAH : HUKUM MEMANDIKAN JENAZAH KAFIR
- 3315. LAIN LAIN : HUKUM DUDUK DI ATAS KUBURAN
- 3300. FIQIH JENAZAH : HUKUM MENSHOLATI MAYIT SETELAH ASHAR
Anjuran tidak putus asa dari rahmat Allah SWT
> Muhammad Taufik
Assalamu'alaikum... Maaf Pak Ustad/Bu Ustajah Saya mau tanya, shahihkah hadits qudsi dibawah ini ?
"Tidak pernah Aku murka kepada seseorang seperti murka-Ku kepada hamba
yg telah melakukan maksiat yg dipandang oleh dirinya sendiri sbg dosa
besar, dan berputus asa dari ampunan-Ku. Sekiranya Aku menyegerakan
hukuman atau sifat-Ku suka tergopoh-gopoh, pasti kusegerakan hukuman itu
thd orang" yg berputus asa dari rahmat-Ku. Dan sekiranya Aku belum
memberi rahmat kpd hamba"-Ku, melainkan krn takutnya mereka berdiri
dihadapan-Ku, sudah barang tentu Aku mengucapkan terima kasih kpd mereka
dan Aku jadikan pahala mereka itu diantaranya ialah rasa aman dikala
semestinya mereka merasa ketakukan." (HQR Rafi'i dari Najih bin Muhammad
bin Muntaji dari datuknya).Mohon dijawab pertanyaan Saya Pak Ustad/Bu
Ustajah , sebelumnya terima kasih...
JAWABAN :
> Ical Rizaldysantrialit
Wa'alaikum salam. menurut sumber berikut, itu bukan hadits qudsy
- حديث: ((يقول الله عز وجل: ما غضبتُ على أحد كغضبي على عبد أتى معصية، فتعاظمت عليه في جنب عفوي)).
الدرجة : ليس بحديث
http://www.dorar.net/spreadH/130
قال تعالى : إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم
يقول الله عز وجل : ما غضبت على أحد كغضبي على عبد أتى معصية فتعاظمت عليه في
جنب عفوي
هذا منقول من روابات أهل الكتاب أي من الإسرائيليات ، وقد رواه أبو نعيم في الحلية
Kalimat
ما غضبت على أحد كغضبي على عبد أتى معصية فتعاظمت عليه في
جنب عفوي
جنب عفوي
di nukil dari riwayat ahli kitab (isroiliyyat) . dan diriwayatkan oleh abu nu'aim dalam kitab " Hilyatul Auliya "
حدثنا اسحاق بن ابراهيم قال ثنا اسماعيل بن يزيد القطان قال ثنا ابراهيم بن الأشعث قال قال فضيل بن عياض قال وهب بن منبه أوحى الله تعالى الى بعض أنبيائه .... وما غضبت على شئ كغضبي على من أخطأ خطيئة فاستعظمها في جنب عفوي ولو تعاجلت بالعقوبة أحدا
حدثنا محمد بن أحمد بن محمد ثنا عبدالرحمن بن داود ثنا محمد بن أحمد بن مطر ثنا القاسم بن عثمان الجرعي قال سمعت أبا سليمان الداراني يقول قرأت في بعض الكتب يقول الله عز وجل ما غضبت على أحد كغضبي على من أذنب ذنبا
أخبرني أبو بكر محمد بن أحمد في كتابه قبل أن لقيته وحدثني عنه عثمان بن محمد العثماني حدثني أبو عبدالله أحمد بن عبدالله بن ميمون قال سمعت الحارث بن أسد المحاسبي يقول وحدثني بعض العلماء قال أوحى الله تعالى إلى نبي من الأنبياء عليهم السلام ..... وما غضب على شيء كغضبي على من أخطأ خطيئة
وهو موجود في بعض الكتب الأخرى كذلك
وبهذا يتبين أنه من الإسرائليات ، والله أعلم.
حدثنا اسحاق بن ابراهيم قال ثنا اسماعيل بن يزيد القطان قال ثنا ابراهيم بن الأشعث قال قال فضيل بن عياض قال وهب بن منبه أوحى الله تعالى الى بعض أنبيائه .... وما غضبت على شئ كغضبي على من أخطأ خطيئة فاستعظمها في جنب عفوي ولو تعاجلت بالعقوبة أحدا
حدثنا محمد بن أحمد بن محمد ثنا عبدالرحمن بن داود ثنا محمد بن أحمد بن مطر ثنا القاسم بن عثمان الجرعي قال سمعت أبا سليمان الداراني يقول قرأت في بعض الكتب يقول الله عز وجل ما غضبت على أحد كغضبي على من أذنب ذنبا
أخبرني أبو بكر محمد بن أحمد في كتابه قبل أن لقيته وحدثني عنه عثمان بن محمد العثماني حدثني أبو عبدالله أحمد بن عبدالله بن ميمون قال سمعت الحارث بن أسد المحاسبي يقول وحدثني بعض العلماء قال أوحى الله تعالى إلى نبي من الأنبياء عليهم السلام ..... وما غضب على شيء كغضبي على من أخطأ خطيئة
وهو موجود في بعض الكتب الأخرى كذلك
وبهذا يتبين أنه من الإسرائليات ، والله أعلم.
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-28335.html
Kesimpulan,terlepas bahwa ini hanya sekedar riwayat isroiliyyat atau hadits qudsy (Wallahu A'lam), Namun isinya adalah menyeru untuk tidak berputus asa bagi pelaku ma'syiyat dan dosa besar sekalipun dari rahmat allah SWT,Allah akan menerima taubat hambanya selama nafas belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).
isinya tidak bertentangan dengan al-qur'an dan hadits bahkan sejalan dengan beberapa ayat alqur'an.
Kesimpulan,terlepas bahwa ini hanya sekedar riwayat isroiliyyat atau hadits qudsy (Wallahu A'lam), Namun isinya adalah menyeru untuk tidak berputus asa bagi pelaku ma'syiyat dan dosa besar sekalipun dari rahmat allah SWT,Allah akan menerima taubat hambanya selama nafas belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).
isinya tidak bertentangan dengan al-qur'an dan hadits bahkan sejalan dengan beberapa ayat alqur'an.
Penjelasan kalimahnya merupakan satu bagian dari sebuah atsar shohabat
yang kalimahnya panjang,yang diriwayatkan oleh abu nu'aim dalam
"Hilyatul Auliya" dari Wahb bin munabih ,beliau (Wahb bin munabih)
menceritakan : bahwa Allah telah mewahyukan kepada sebagian para
nabiNya...Dst
hingga sampai pada kalimat
وما غضبت على شيء كغضبي على من أخطأ خطيئة فاستعظمها في جنب عفوي ولو تعاجلت بالعقوبة أحدا أو كانت العجلة من شأني لعاجلت القانطين من رحمتي
tarjimnya kurang lebih sama dengan post sail,
أرجو تفسير هذا الحديث القدسي: يقول الله عز وجل: ما غضبت على أحد كغضبى على عبد أتى معصية فتعاظمت عليه في جنب عفوي.
وأرجوكم أن تعذروني على أنني لم أضع سؤالي بمركز الفتوى، لأنني بحاجة إلى تفسيره ولا أستطيع أن أنتظر. وبارك الله فيكم و أكرر: اعذورني.
الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
فالجملة المذكورة جزء من أثر طويل رواه أبو نعيم الأصبهاني بسنده في حلية الأولياء عن وهب بن منبه قال: أوحى الله تعالى إلى بعض أنبيائه: بعيني ما يتحمل المتحملون من أجلي وما يكابدون في طلب مرضاتي فكيف بهم إذا صاروا إلى داري وتبحبحوا في رياض نعمتي؟ هنالك فليبشر المضعفون لله أعمالهم بالنظر العجيب من الحبيب القريب أتراني أنسى لهم عملا؟ وكيف؟ وأنا ذو الفضل العظيم أجود على المولين المعرضين عني، فكيف بالمقبلين علي؟ وما غضبت على شيء كغضبي على من أخطأ خطيئة فاستعظمها في جنب عفوي ولو تعاجلت بالعقوبة أحدا أو كانت العجلة من شأني لعاجلت القانطين من رحمتي، ولو رآني عبادي المؤمنين كيف أستوهبهم ممن اعتدوا عليه ثم أحكم لمن وهبهم بالخلد المقيم؟ اتهموا فضلي وكرمي أنا الديان الذي لا تحل معصيتي والذي أطاعني أطاعني برحمتي ولا حاجة لي بهوان من خاف مقامي ولو رآني عبادي يوم القيامة كيف أرفع قصورا تحار فيها الأبصار؟ فيسألوني لمن ذا؟ فأقول: لمن وهب لي ذنبا ما لم يوجب علي نفسه معصيتي والقنوط من رحمتي، وإني مكافئ على المدح فامدحوني.
ومعنى الجملة المذكورة: الترهيب من القنوط من رحمة الله تعالى، وقد جاء هذا المعنى في القرآن الكريم، قال الله تعالى: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ {الزمر:53}.
وقال تعالى: قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ {الحجر: 56}.
وقال تعالى: إنه إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ {يوسف: 87}.
فالأثر كما رأيت ليس بمرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم ولا إلى صحابي وهو من رواية وهب بن منبه وقد قال عنه الذهبي في السير: وروايته للمسند قليلة، وإنما غزارة علمه في الإسرائيليات ومن صحائف أهل الكتاب.
والله أعلم.
http://alforqan.arab.st/t8702-topic
hingga sampai pada kalimat
وما غضبت على شيء كغضبي على من أخطأ خطيئة فاستعظمها في جنب عفوي ولو تعاجلت بالعقوبة أحدا أو كانت العجلة من شأني لعاجلت القانطين من رحمتي
tarjimnya kurang lebih sama dengan post sail,
أرجو تفسير هذا الحديث القدسي: يقول الله عز وجل: ما غضبت على أحد كغضبى على عبد أتى معصية فتعاظمت عليه في جنب عفوي.
وأرجوكم أن تعذروني على أنني لم أضع سؤالي بمركز الفتوى، لأنني بحاجة إلى تفسيره ولا أستطيع أن أنتظر. وبارك الله فيكم و أكرر: اعذورني.
الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:
فالجملة المذكورة جزء من أثر طويل رواه أبو نعيم الأصبهاني بسنده في حلية الأولياء عن وهب بن منبه قال: أوحى الله تعالى إلى بعض أنبيائه: بعيني ما يتحمل المتحملون من أجلي وما يكابدون في طلب مرضاتي فكيف بهم إذا صاروا إلى داري وتبحبحوا في رياض نعمتي؟ هنالك فليبشر المضعفون لله أعمالهم بالنظر العجيب من الحبيب القريب أتراني أنسى لهم عملا؟ وكيف؟ وأنا ذو الفضل العظيم أجود على المولين المعرضين عني، فكيف بالمقبلين علي؟ وما غضبت على شيء كغضبي على من أخطأ خطيئة فاستعظمها في جنب عفوي ولو تعاجلت بالعقوبة أحدا أو كانت العجلة من شأني لعاجلت القانطين من رحمتي، ولو رآني عبادي المؤمنين كيف أستوهبهم ممن اعتدوا عليه ثم أحكم لمن وهبهم بالخلد المقيم؟ اتهموا فضلي وكرمي أنا الديان الذي لا تحل معصيتي والذي أطاعني أطاعني برحمتي ولا حاجة لي بهوان من خاف مقامي ولو رآني عبادي يوم القيامة كيف أرفع قصورا تحار فيها الأبصار؟ فيسألوني لمن ذا؟ فأقول: لمن وهب لي ذنبا ما لم يوجب علي نفسه معصيتي والقنوط من رحمتي، وإني مكافئ على المدح فامدحوني.
ومعنى الجملة المذكورة: الترهيب من القنوط من رحمة الله تعالى، وقد جاء هذا المعنى في القرآن الكريم، قال الله تعالى: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ {الزمر:53}.
وقال تعالى: قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ {الحجر: 56}.
وقال تعالى: إنه إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ {يوسف: 87}.
فالأثر كما رأيت ليس بمرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم ولا إلى صحابي وهو من رواية وهب بن منبه وقد قال عنه الذهبي في السير: وروايته للمسند قليلة، وإنما غزارة علمه في الإسرائيليات ومن صحائف أهل الكتاب.
والله أعلم.
http://alforqan.arab.st/t8702-topic
LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/800988153257328/https://www.facebook.com/notes/pustaka-ilmu-sunni-salafiyah-ktb-piss-ktb/3395-anjuran-tidak-berputus-asa-dari-rahmat-allah-swt/811496052206538
Artikel Terkait
Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Kamis, 31/07/2014 10:11
Berita Terkait
Tidak diragukan
lagi bahwasanya dalam syariat Islam, selain puasa wajib di bulan
Ramadhan, kaum muslim pun diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa
sunah selama 6 hari di bulan Syawal. Puasa sunah ini memiliki banyak
keutamaan,sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsi, Allah Swt
berfirman:
Salah satu keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal - Puasa Enam hari di bulan Syawal memiliki dalil yang shahih.
Sebagian orang meragukan hadits berpuasa enam hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadits. Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.
“Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal merupakan hadits yang shahih, hadits ini memiliki periwayatan lain di luar hadits Muslim. Selain hadits Muslim yang meriwayatkan hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.” Oleh karena itulah Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal ini tergolong hadits mutawatir.
Hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal adalah sunah yang boleh dilaksanakan mulai tanggal dua Syawal. Apabila melaksanakan puasa sunah Enam hari ini pada tanggal satu Syawal maka hukumnya tidak sah dan haram. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata,
Praktik berpuasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa di bulan Ramadhan, boleh bersahur dan berhenti sahur saat waktu imsak. Perbedaannya, pada saat melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari yang penting masih di bulan Syawal. Namun apabila merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133, sebaiknya dilaksanakan sesegera mungkin.
Demikian saja sekilas tentang Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal. Ingat, tidak ada lagi hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha, jadi pembaca setelah melaksanakan puasa Enam hari di bulan Syawal tak usah lagi merayakannya dan mengucapkan selamat hari raya.
Guslik An-Namiri, Ketua Umum Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia Riyadh, aktivis NU Arab Saudi
Puasa Syawal adalah puasa yang dilakukan pada bulan Syawal (setelah puasa Ramadhan) selama 6 hari. Hukum Puasa 6 Hari Bulan Syawal adalah sunnah.
DAFTAR ISI
PUASA SUNNAH BULAN SYAWAL
Puasa sunnah pada bulan Syawal adalah pada 6 (enam) hari setelah hari lebaran Idul Fitri yaitu pada tanggal 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Namun dapat juga melakukannya selama 6 hari pada tanggal/hari yang lain asalkan masih dalam bulan Syawal.
DALIL DASAR PUASA 6 (ENAM) HARI BULAN SYAWAL
- Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah
Artinya: Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh.
- Hadits riwayat Nasa'i
جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة
Artinya: Allah menjadikan kebaikan dengan 10 kali lipat.
Maka satu bulan sama dengan 10 bulan. Dan puasa enam hari sama dengan
setahun penuh.
- Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah
صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة
Artinya: Puasa sebulan Ramadan pahalanya 10x lipat. Puasa enam hari bulan Syawal sama dengan dua bulan. Maka jumlahnya sama dengan setahun penuh.
HUKUM PUASA 6 HARI BULAN SYAWAL
Hukumnya sunnah yakni berpahala bagi yang melakukan tapi tidak berdosa bagi yang meninggalkan. Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka kebanyakanاulama fiqih sepakat atas sunnahnya berpuasa selama 6 hari pada bulan Syawal setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Hanya Imam Malik yang menyatakan bahwa puasa bulan Syawal hukumnya makruh dengan alasan karena takut umat Islam berkeyakinan puasa Syawal sebagai bagian dari puasa Ramadan.
WAKTU PUASA SYAWAL ENAM HARI
Terjadi perbedaan ulama fiqih tentang waktu pelaksanaan puasa Syawal. Apakah harus berpuasa langsung sehari setelah Idul Fitri yaitu mulai tanggal 2 bulan Syawal karena ada kata [أتبعه] dalam hadits atau asalkan dilakukan pada bulan Syawal?
Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa puasa Syawal tidak harus dilakukang langsung sehari setelah hari raya dan tidak harus berturut-turut. Yang penting dilakukan selama bulan Syawal maka akan mendapat keutamaan (fadhilah) puasa Syawal seperti disebut dalam hadits.
BACAAN NIAT PUASA SYAWAL ENAM HARI
Niat puasa Syawal dapat dilakukan pada pagi hari sampai sebelum waktu dhuhur seperti umumnya niat puasa sunnah yang lain.
Adapun lafadz/teks bacaan niat puasa Syawal sbb:
Catatan: Niat cukup diucapkan dalam hati-hati dan tidak harus dalam bahasa Arab.
PUASA BULAN DZULHIJJAH
Puasa pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah atau bulan ke-12 dalam kalender Islam hukumnya sunnah. Yaitu pada 10 hari pertama dan terutama puasa tarwiyah (tanggal 8), dan puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah).
HUKUM DAN DALIL DASAR PUASA BULAN DZULHIJJAH
- QS Al-Hajj 22:27 - 28
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir III/239 yang dimaksud dengan kata " أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ" adalah 10 hari bulan Dzulhijjah.
- QS Al-Fajr 35:1-2 وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya: Demi fajar, dan malam yang sepuluh,
Menurut Tabari dalam Tafsir Tabari VII/514 dan Tafsir Ibnu Katsir IV/535 yang dimaksud "وَلَيَالٍ عَشْرٍ" adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah
- Hadits riwayat Abu Daud no. 2438
ما من أيامٍ العمل الصالح فيها أحبُّ إلى الله من هذه الأيامِ ( يعني أيامَ العشر ) . قالوا : يا رسول الله ، ولا الجهادُ في سبيل الله ؟ قال : ولا الجهادُ في سبيل الله إلا رجلٌ خرج بنفسه وماله فلم يرجعْ من ذلك بشيء
Maknanya: Tidak ada amal salih yang paling disukai Allah
selain hari-hari ini (yakni 10 hari Zulhijjah). Mereka berkata: Wahai
Rasulullah tidakkah (lebih disukai) jihad? Nabi bersabda: Tidak kecuali
seorang lelaki yang keluar dengan diri dan hartanya lalu pulang tanpa
membawa apapun.
- Hadits riwayat Abu Daud, Baihaqi, Ahmad, al-Bayhaqi, Ibn ‘Asakir dan al-Tahawi
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ ، وَخَمِيسَيْنِ
Artinya: Bahwa Rasulullah saw biasanya berpuasa 9 hari
Zulhijah, hari ‘Ashuraa’, 3 hari setiap bulan iaitu Senin pertama dan 2
Kamis terawal.
WAKTU PUASA BULAN DZULHIJJAH
Puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah yaitu sejak tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah (Lihat dalil hadits di atas).
NIAT PUASA BULAN DZULHIJJAH
Niat puasa sunnah Dzulhijjah, sebagaimana puasa sunnah lain, dapat dilakukan pada malam hari atau siang hari sebelum masuk waktu Dzuhur (tergelincirnya matahari).
NIAT PUASA TANGGAL 1 SAMPAI 7 DZULHIJJAH
نويت صوم شهر ذي الحجة سنة لله تعالي
Teks latin: Nawaitu shauma syahri Dzilhijjah sunnatan liLlahi ta'ala
Artinya: Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala
NIAT PUASA TARWIYAH (TANGGAL 8 ZULHIJJAH)
نويت صوم التروية سنة لله تعالي
Teks latin: Nawaitu shaumat Tarwiyata sunnatan liLlahi Ta'ala
Artinya: Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Taala
NIAT PUASA AROFAH (TANGGAL 9 DZULHIJJAH)
نويت صوم عرفة سنة لله تعالي
Teks latin: Nawaitu shaumat Arafata sunnatan liLlahi Ta'ala
Artinya: Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Taala
عن
أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله
عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام
جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله
فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله
من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح
بصومه) رواه ومسلم
"Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa)
adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu)."
Kemudian, Rasulullah melanjutkan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada
di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi
Allah dibandingkan wangi minyak kasturi .Salah satu keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal - Puasa Enam hari di bulan Syawal memiliki dalil yang shahih.
من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال كان كصيام الدهر" رواه مسلم
“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia
mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal,
maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama
satu tahun.Sebagian orang meragukan hadits berpuasa enam hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadits. Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.
“Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal merupakan hadits yang shahih, hadits ini memiliki periwayatan lain di luar hadits Muslim. Selain hadits Muslim yang meriwayatkan hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.” Oleh karena itulah Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal ini tergolong hadits mutawatir.
Hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal adalah sunah yang boleh dilaksanakan mulai tanggal dua Syawal. Apabila melaksanakan puasa sunah Enam hari ini pada tanggal satu Syawal maka hukumnya tidak sah dan haram. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata,
عن عمر بن الخطاب وأبي هريرة وأبي سعيد رضي الله عنهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن صوم يوم الفطر ويوم الأضحى
“Nabi Muhammad Saw., melarang berpuasa pada dua hari raya; idul
fitri dan idul adha.(maksudnya tanggal satu Syawal atau sepuluh bulan
Dzulhijjah . Praktik berpuasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa di bulan Ramadhan, boleh bersahur dan berhenti sahur saat waktu imsak. Perbedaannya, pada saat melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari yang penting masih di bulan Syawal. Namun apabila merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133, sebaiknya dilaksanakan sesegera mungkin.
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين
Allah berfirman, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan
mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
bagi orang-orang yang bertakwa.”.Demikian saja sekilas tentang Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal. Ingat, tidak ada lagi hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha, jadi pembaca setelah melaksanakan puasa Enam hari di bulan Syawal tak usah lagi merayakannya dan mengucapkan selamat hari raya.
Guslik An-Namiri, Ketua Umum Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia Riyadh, aktivis NU Arab Saudi
Puasa Syawal adalah puasa yang dilakukan pada bulan Syawal (setelah puasa Ramadhan) selama 6 hari. Hukum Puasa 6 Hari Bulan Syawal adalah sunnah.
DAFTAR ISI
- Puasa Sunnah Syawal
- Dalil Dasar Puasa Syawal
- Hukum Puasa 6 Hari Bulan Syawal
- Waktu Puasa Syawal
- Bacaan Niat Puasa Syawal
- Puasa Bulan Dzul Hijjah
PUASA SUNNAH BULAN SYAWAL
Puasa sunnah pada bulan Syawal adalah pada 6 (enam) hari setelah hari lebaran Idul Fitri yaitu pada tanggal 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Namun dapat juga melakukannya selama 6 hari pada tanggal/hari yang lain asalkan masih dalam bulan Syawal.
DALIL DASAR PUASA 6 (ENAM) HARI BULAN SYAWAL
- Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah
من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال فكأنما صام الدهر كله
Artinya: Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh.
- Hadits riwayat Nasa'i
جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة
- Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah
صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة
HUKUM PUASA 6 HARI BULAN SYAWAL
Hukumnya sunnah yakni berpahala bagi yang melakukan tapi tidak berdosa bagi yang meninggalkan. Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka kebanyakanاulama fiqih sepakat atas sunnahnya berpuasa selama 6 hari pada bulan Syawal setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Hanya Imam Malik yang menyatakan bahwa puasa bulan Syawal hukumnya makruh dengan alasan karena takut umat Islam berkeyakinan puasa Syawal sebagai bagian dari puasa Ramadan.
WAKTU PUASA SYAWAL ENAM HARI
Terjadi perbedaan ulama fiqih tentang waktu pelaksanaan puasa Syawal. Apakah harus berpuasa langsung sehari setelah Idul Fitri yaitu mulai tanggal 2 bulan Syawal karena ada kata [أتبعه] dalam hadits atau asalkan dilakukan pada bulan Syawal?
Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa puasa Syawal tidak harus dilakukang langsung sehari setelah hari raya dan tidak harus berturut-turut. Yang penting dilakukan selama bulan Syawal maka akan mendapat keutamaan (fadhilah) puasa Syawal seperti disebut dalam hadits.
BACAAN NIAT PUASA SYAWAL ENAM HARI
Niat puasa Syawal dapat dilakukan pada pagi hari sampai sebelum waktu dhuhur seperti umumnya niat puasa sunnah yang lain.
Adapun lafadz/teks bacaan niat puasa Syawal sbb:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ ِستَةٍ ِمنْ شَوَالٍ سُنَةً ِللَه تَعَالَي
Artinya: Saya niat berpuasa sunnah enam haru bulan Syawal karena Allah.Catatan: Niat cukup diucapkan dalam hati-hati dan tidak harus dalam bahasa Arab.
PUASA BULAN DZULHIJJAH
Puasa pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah atau bulan ke-12 dalam kalender Islam hukumnya sunnah. Yaitu pada 10 hari pertama dan terutama puasa tarwiyah (tanggal 8), dan puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah).
HUKUM DAN DALIL DASAR PUASA BULAN DZULHIJJAH
- QS Al-Hajj 22:27 - 28
وَأَذِّنْ
فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ
يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Artinya: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan
haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan
mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka
menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan...Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir III/239 yang dimaksud dengan kata " أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ" adalah 10 hari bulan Dzulhijjah.
- QS Al-Fajr 35:1-2 وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya: Demi fajar, dan malam yang sepuluh,
Menurut Tabari dalam Tafsir Tabari VII/514 dan Tafsir Ibnu Katsir IV/535 yang dimaksud "وَلَيَالٍ عَشْرٍ" adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah
- Hadits riwayat Abu Daud no. 2438
ما من أيامٍ العمل الصالح فيها أحبُّ إلى الله من هذه الأيامِ ( يعني أيامَ العشر ) . قالوا : يا رسول الله ، ولا الجهادُ في سبيل الله ؟ قال : ولا الجهادُ في سبيل الله إلا رجلٌ خرج بنفسه وماله فلم يرجعْ من ذلك بشيء
- Hadits riwayat Abu Daud, Baihaqi, Ahmad, al-Bayhaqi, Ibn ‘Asakir dan al-Tahawi
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ ، وَخَمِيسَيْنِ
WAKTU PUASA BULAN DZULHIJJAH
Puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah yaitu sejak tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah (Lihat dalil hadits di atas).
NIAT PUASA BULAN DZULHIJJAH
Niat puasa sunnah Dzulhijjah, sebagaimana puasa sunnah lain, dapat dilakukan pada malam hari atau siang hari sebelum masuk waktu Dzuhur (tergelincirnya matahari).
NIAT PUASA TANGGAL 1 SAMPAI 7 DZULHIJJAH
نويت صوم شهر ذي الحجة سنة لله تعالي
Artinya: Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala
NIAT PUASA TARWIYAH (TANGGAL 8 ZULHIJJAH)
نويت صوم التروية سنة لله تعالي
Artinya: Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Taala
NIAT PUASA AROFAH (TANGGAL 9 DZULHIJJAH)
نويت صوم عرفة سنة لله تعالي
Teks latin: Nawaitu shaumat Arafata sunnatan liLlahi Ta'ala
Artinya: Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Taala
Langganan:
Postingan (Atom)
